empat

1546 Kata
Wisnu menarik kasar tangan mungil milik Arsha "Akhh p-pah sa-sakit" rintih Arsha sambil menangis. Yuna dan adit sudah jalan sejak berberapa menit yang lalu menuju rumah sakit agar arka tidak terlalu parah. Sedangkan Arsha,dia di bawa pulang menuju rumah oleh Wisnu,di dalam perjalanan Wisnu hanya diam dan mempercepat mobil nya.Arsha sudah menduga jika Wisnu pasti marah besar kepada nya. "GARA GARA KAMU ARKA JADI MASUK RUMAH SAKIT !!" Ujar Wisnu sambil menghempaskan Arsha ke sudut ruangan dan kepala Arsha terbentur ke lemari kecil membuat kening nya sedikit mengeluarkan darah Arsha hanya bisa menangis sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan ketika kening nya mengeluarkan darah. "KAMU MAU JADI WANITA MALAM, IYA?!" tanya Wisnu dengan penuh emosi sambil memegang kedua pipi Arsha lalu menghempaskan ke samping "P-pah Arsha bisa jelasin semuanya"lirih Arsha sambil memberanikan diri untuk menatap Wisnu "APA YANG BISA KAMU JELASIN LAGI HAH?! SEMUA NYA SUDAH JELAS SALAH KAMU"ujar Wisnu sambil menujuk wajah Arsha dengan telunjuk "G-gak gitu pah -" ucapan Arsha terpotong karna Wisnu melemparkan vas bunga ke tembok tepat Arsha sedang menangis Tapi syukur vas bunga itu tidak mengenai ke muka Arsha, "SAYA GAK PUNYA ANAK SEPERTI KAMU YANG BISA NYA HANYA MEMBUAT MASALAH! " ucap Wisnu kepada Arsha detak Jantung nya se-akan terhenti, nafas nya terasa sesak,darah nya se akan berhenti mengalir setelah mendengar perkataan yang di lontar'kan dari mulut Wisnu "MASUK KAMAR SEKARANG!!" titah Wisnu pada Arsha namun Arsha menolak dia ingin melihat adik nya "T-tapi Arsha pengen liat Arka pah" ucap Arsha pelan "MAU APA KAMU KE SANA HAH?!LEBIH BAIK KAMU JANGAN PERNAH TEMUIN Arka"ujar Wisnu melirik sekilas ke arah Arsha lalu meninggalkan Arsha sendirian di rumah. Kring... Kring... Suara jam alarm berhasil membangunkan dirinya, dia bersyukur karna itu hanya mimpi. tapi kenapa harus mimpi buruk yang 6 bulan lalu terjadi? Dia berusaha menormalkan napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar, lagi, lagi. Mimpi itu kembali menghantui dirinya. Semenjak insiden itu Arsha di keluarkan dari sekolah dan selalu di kurung di dalam rumah oleh Wisnu, dan selama 6 bulan penuh juga dirinya harus homeschooling dan seminggu sekali dirinya harus ke pisikeater untuk menghilangkan traumanya. "Mah, sya.takut." "Kamu kenapa?" "Aku, aku mimpi kejadian 6 bulan yang lalu. aku takut dia kembali lagi." "Dia udah di hukum, gak mungkin kembali lagi. Tenang, ada mamah disini." "Mamah janji jangan tinggalin aku sendirian" "Iya, mamah janji sayang." "Kakak kenapa?"tanya Arka yang baru saja masuk kedalam kamar Arsha "Dia nggak akan kembali lagi kan?" Ucap Arsha dengan tatapan kosong "Nggak kak dia gak akan balik lagi." Jawab Arka dengan "Yaudah, Arka. Kamu berangkat gih udah jam tujuh" ujar Yuna sambil menyeka air matanya. Arka mengangguk lalu memegang tangan Arsha, namun tanganya terasa sangat dingin dan tatapannya kosong. "Kak, gua berangkat dulu ya. itu cuman mimpi, jangan di pikirin." tidak ada jawaban dari Arsha dia hanya diam kaku sambil menatap kosong kedepan. "...." "Kak, denger gua kan?" ujarnya panik lalu memegang kedua pipi Arsha, sungguh dia takut Arsha kenapa-napa "...." "Mah, Arsha mah!." "Gak papa, dia bakal baik-baik aja. Percaya sama mamah." "Yaudah, aku berangkat dulu ya." Cup Arka mengecup singkat kening Arsha lalu berbalik menuju pintu kamar. Yuna menatap sendu ke arah Arsha,sungguh sakit melihat anak gadisnya seperti ini. Di hantui oleh masa lalu, dan terkadang dia juga takut untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Dia tersenyum pedih dan mengelus pundak gadis yang ada di hadapannya, untuk menyalurkan kekuatan. "Sya, kalo kamu belum bisa buat sekolah umum. Mamah bilangin ke papah nanti." "Aku, siap mah." Ujarnya masih dengan tatapan kosong "Yakin?" Dia mengangguk lalu mendongak ke arah yuna "Iya, yakin. tapi aku mau minta bantuan mamah boleh?" "Boleh dong, mau apa?" "Aku mau nyamar boleh?" "Maksudnya?" Tanya Yuna heran. "Aku mau nyamar jadi cupu" "Kenapa mau nyamar?" "Biar nggak ada yang suka sama aku. aku takut Mah, takut kejadian itu terjadi lagi" Jelasnya sambil mengusap punggung tangan yuna "Yaudah, mamah bantu kamu, kalo emang itu yang terbaik buat kamu." dia mengangguk senang dan tersenyum gembira "Mamah gak benci sama aku kan?aku penyebab kecelakaan itu dan buat Arka koma selama beberapa minggu." Tanyanya dengan serius. Yuna tersenyum manis lalu menggeleng "Mamah gak akan benci sama kamu sayang, kamu kan anak mamah." "Makasih mah"ujarnya sambil memeluk tubuh Yuna Yuna pun membalas pelukannya dan mengusap rambut milik Arsha "Sama-sama sayang, yaudah kamu mandi abis itu kamu sekolah ya." "Iya mah" Ucapnya dengan semangat lalu berjalan ke arah kamar mandi Dia hanya berharap semoga dia bisa melewati semua masalah ini dan semoga saja masa lalunya tidak di ketahui oleh orang lain. Dia hanya ingin merasakan bahagia, tapi takdir selalu tidak mendukung dirinya. Sekarang Wisnu malah semakin benci dengan dirinya. Semua keluarga nya telah menutupi insiden 6 bulan yang lalu dan dengan pihak sekolah pun sama mereka menutupi insiden tersebut agar nama sekolah-nya baik-baik saja, dan untuk keluarga juga agar nama keluarga mereka tetap baik-baik saja. Bagi Wisnu supaya saham perusahaan-nya tidak turun akibat insiden 6 bulan yang lalu, yang di derita oleh Arsha. *** Seperti janji Yuna kemarin dia akan merubah penampilan dirinya menjadi lebih cupu agar tidak ada yang tertarik dengannya. Sekarang Yuna sudah selesai merubah penampilan gadis itu, rambutnya di kepang dua dan memakai kacamata bulat serta wajahnya tidak di baluti dengan make up secuil pun itu. Namun, Arsha tetap cantik tanpa make up secuil pun. "Nah udah selesai." Ucap Yuna sambil memegang pundak gadis itu. Arsha melihat ke arah cermin dan tersenyum manis. "Makasih ya, Mah." "Sama-sama sayang, tapi, nanti kalo kamu di sana ada yang bully kamu. bilang nanti sama mamah ya, biar mamah gorok tuh orang." Arsha terkekeh kecil mendengar ocehan dari Yuna. "Kasian, gak boleh di gorok mah." "Dia kan udah berani sentuh anak gadis mamah." "Tapi kayaknya nanti semua cowok gak suka sama aku, soalnya kan penampilan aku kayak orang culun." Arsha menatap dirinya dari pantulan cermin "Iya, tapi kamu tetep cantik kok." Yuna Tersenyum tipis lalu mengusap kedua pundak Arsha "Bisa aja mamah." Arsha tersenyum kecil Yuna membalikan badan anak nya, dan menatap pupil Arsha lekat, sebenarnya ia masih belum yakin dan rela jika Arsha harus kembali bersekolah seperti orang pada umumnya. apalagi penampilan Arsha yang sekarang, harus seperti ini agar tidak kejadian seperti dulu lagi "Tapi, kamu gak selamanya harus berpenampilan kayak gini, cepat atau lambat semua pasti tau. kalo emang orang di sekitar kamu sayang sama kamu, apapun yang terjadi sama kamu mereka akan tetep ada di samping kamu nak" Arsha terdiam kaku mendengar ucapan Yuna. Sedetik kemudian ia menunduk, dan memikirkan matang-matang keputusannya ini, apapun yang terjadi kedepannya ia sudah Terima resiko dan konsekuensi nya Arsha mendongak, menatap wajah Yuna lekat lalu bertanya hal yang mungkin tidak akan pernah sekalipun dia jawab. "Termasuk papah?" Yuna diam dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini. "Mamah tunggu di bawah ya, sarapan dulu." ucapnya sambil meninggalkan dirinya sendiri. Dia hanya menatap pintu yang di tutup oleh Yuna dan tersenyum miris. "Jangan berharap berlebihan Sya." Menolongnya lalu mengambil tas yang ada di atas ranjang. Setelah itu dia keluar dari kamar dan berjalan kebawah menuju meja makan, sudah lama dia tidak merasakan sarapan bersama dan di hadiri Wisnu. Senyuman dia terbit ketika melihat sosok Wisnu yang sedang sarapan bersama yang lain. Segera dia bergabung untuk segera melaksanakan sarapan bersama. "Pagi, Pah" Wisnu tak menjawab dia tetap melahap sarapannya. Senyuman dia memudar ketika ucapan dirinya tidak di jawab sama sekali. "Eh, kak kok penampilan lo beda?" Tanya Arka heran "Sengaja, biar semua cowok gak suka sama gua." "Masih takut?" Dia hanya diam tak menjawab sambil menunduk, Yuna yang melihat itu langsung mengalihkan pembicaraan mereka. "Sya, itu sarapan di makan nanti keburu dingin loh." Arsha mengangguk lalu melahap sarapannya. Arka mengutuk dirinya sendiri kenapa dia bertanya seperti itu? Sudah pasti iya Arsha masih trauma terhadap laki-laki. "Ingat, jangan buat masalah lagi!" Ujar Wisnu lalu berjalan ke arah pintu utama "Pah, aku mau berangkat bareng papah boleh?" Tanyanya dengan hati-hati. "Saya ada meeting sekarang, lain kali saja." Jawabnya dingin lalu melanjutkan jalannya. Dia hanya menatap punggung Wisnu yang semakin menghilang dia ingin di antar kan sekolah dengan sang papah, tapi itu hanya mimpi. tidak akan pernah terjadi pada dirinya. "Kak, berangkat bareng gua aja yok. besok kita berangkat bareng papah." "Gak usah, kalo itu cuman suruhan dari kalian. Aku berangkat bareng sopir aja, Assalamu'alaikum." Arka dan Yuna hanya diam di tempat sambil menatap punggung gadis itu yang semakin menghilang. *** Saat mobil yang di tumpangi dirinya berhenti di depan gedung salah satu sekolah dia mengambil napas panjang sambil menatap gedung itu dari dalam mobil. "Makasih ya mang." Ucapnya lalu membukakan pintu mobil itu Dia mengamati bangunan sekolah itu dari depan SMA Harapan Bangsa. Sekolah elit mungkin dirinya akan jadi bahan bullyan di sini karna penampilannya, tapi tidak masalah dia lebih baik di bully dari pada kejadian 6 bulan yang lalu terjadi lagi. Setelah itu dia mulai berjalan masuk ke area sekolah semua pasang mata tertuju pada dirinya, bisik-bisik mulai terdengar oleh dirinya sendiri. "Gua kira di cakep, padahal culun njirr." "Siap-siap jadi bahan bullyan geng Lauren" "Gak jadi deketin deh, gua kira dia cantik." Kira-kira seperti itu lah bisikan para siswa-siswi terhadap dirinya. dia hanya acuh tidak memperdulikan ucapan mereka. Dia berjalan menunduk sambil mencari keberadaan ruangan Kepala sekolah. Saat di tengah koridor dia tak sengaja menambrak se'seorang yang membawa buku paket, dan bukunya berantakan ke lantai. Dia kaget beberapa detik kemudian dia berjongkok dan membantu membereskan buku tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN