Dua puluh empat

1633 Kata
Arsha berjalan menuju perpustakaan. Ia akan mencari foto dirinya bersama Angga dahulu. Saat sampai di perpustakaan ia bernapas lega karna tidak ada orang. Masuk dan mencari bangku yang ia duduki dua hari yang lalu. Tersenyum tipis saat menemukan bangku nya. Ia berjongkok, mencari di kolong bangku itu. namun, tidak ada foto miliknya. ia beralih menatap lantai, ia yakin bahwa foto itu terjatuh di lantai. Namun, tetap saja tidak ada. Sial! Dimana foto itu? Harusnya ia sudah membakar foto itu. Ceroboh sekali dirinya. “Sialan! Dimana sih fotonya?”Gerutunya pelan. Berdecak kesal, “Kalo gak ada di sini, kemungkinan udah di buang ke tong sampah” menolognya pelan Bisa jadi seperti itu. kan perpustakaan setiap pagi dan sore di bersihkan. Ia bangkit lalu duduk di kursi. kedua tangannya memegang keningnya yang terasa sakit karna memikirkan selembar foto Arghh menyiksa sekali padanya Saat dirinya sedang melamun, memikirkan foto itu dimana. Seseorang dari luar menghampiri dirinya, dan berdiri di hadapannya, sambil menatap dirinya “Ngelamun mulu neng” Ucap Arga sambil tersenyum tipis Gadis itu terperanjat kaget ketika Arga ada di hadapannya. Dari kapan lelaki itu ada di hadapannya? “Kak Arga ngagetin aja” Arga terkekeh pelan melihat ekspresi gadis itu ketika terkejut “Sorry, Sha. Soalnya lo ngelamun mulu.” Arga duduk di hadapan gadis itu “Ngelamunin apa sih Sha?” tanya Arga. Arsha hanya menggeleng sebagai jawaban “Kemarin lo gak di apa-apa'in kan sama si cowok bangor itu?” Arga membuka pembicaraan Arsha langsung menatap Arga, “Nggak kok. dia baik” jawabnya sambil tersenyum tipis Jawaban Arsha membuat mimik muka Arga berubah. apalagi ketika gadis itu tersenyum tipis menjawabnya. Tidak bisa di bohongi jika dirinya sedang cemburu Arsha membuka buku dan membacanya. “Sha, nanti pulang bareng gue ya” ucap Arga. Ia menatap Arga, dan terdiam sejenak. menimang-nimang ajakan dari lelaki itu “Bol–” Ting! Handphone miliknya berbunyi, Arsha langsung membuka handphone nya dan membacanya pesan dari orang tersebut Alex : Plg brg gue. Isi pesan tersebut. Gadis itu kembali menatap Arga dan menggeleng pelan “Gak bisa kak. Maaf...” jawabnya merasa tak enak karna kedua kalinya menolak Arga menghembuskan napasnya pelan, lalu mengangguk sekenanya. “Iya gak papa, kantin yok? belum makan kan pasti?” Ajak Arga Gadis itu mengangguk pelan, “Ay–” Ting! Alex : Ke taman skrg. Ia menatap kesal pada pesan dari Lelaki itu. Sialan! “Eum, gak bisa kak. aku duluan ya..” Jawab Arsha sembari pamit Lagi-lagi Arga di tolak! Ada apa dengan gadis itu? *** Saat ini inti geng Levator sedang berada di kantin, mereka semua duduk di bangku yang sama terkecuali Revan. Lelaki itu di bangku lain bersama dengan Kayla Yang lain saling melemparkan candaan satu sama lain. Kecuali Reza. Lelaki itu sedari tadi memperhatikan bangku di sebrang. Tepatnya, bangku yang di duduki oleh Revan dan Kayla Denis yang memperhatikan arah pandang Reza hanya geleng-geleng kepala. Tangan lelaki itu menepuk bahu Reza sebanyak dua kali. Ia tahu rasanya posisi Reza sekarang. Pasti sakit, dan bingung. "Eh, Za, gua mau ngingetin nih yak, Hati-hati lo di tikung ama Revan." Ucap Vurgos yang juga bisa menebak jika Reza sedang sakit hati Reza langsung mengubah mimik mukanya, menjadi cerah. Lalu menatap Vurgos "Dih jangan harap, ingat Revan sama Kayla itu beda Tuhan mana mungkin bisa bersatu, gak akan bisa, jadi gua mending nikung lagi di sepertiga malam" Balas Reza. Jangan lupakan satu pakta tentang perbedaan antara Revan, dan Kayla yang amat jauh "Sok iye suka shalat aja lo." Cibir Gavin "Iya lah Rezalifa yang tampan tiada tara, kaya, shaleh, baik sesama manusia. Pasti idaman cewek-cewek" Menyugarkan rambutnya dengan pede. "Kalo kamu kaya, kenapa atuh utang kamu belum di bayar dari bulan kemaren?" Babeh datang dengan membawa nampan berisi pesanan mereka Semuanya melonggo dan menatap Reza, "Wahhh gilakk si Reza ngutang mulu, rugi dong si babeh." Gavin mengeraskan suara dengan ekspresi yang ia buat-buat. Reza menatap babeh, "Beh kenapa bongkar semuanya?kan Eza mau dramatis dulu elah." Lelaki itu tak terima, lebih tepatnya belum siap "BACOT!"ucap semua nya serempak Rio menatap Alex yang duduk di sampingnya. Kemudian Rio menyodorkan hanphoya ke pada Alex. Di sana tepatnya postingan lambe turah yang berisi Alex, dan Arsha. yang sedang menuntut Arsha masuk kedalam mobilnya “Lo sama dia masuk ke lambe turah” Alex mengangguk, “Udah tau” jawabnya “Dia gimana? gak kenapa-kenapa?” tanya Rio Alex mengangguk lagi, lalu ia berdiri dan meningalkan kantin untuk ke taman. *** Bell pulang sekolah berbunyi, Arsha menbereskan buku-bukunya. Dan langsung berdiri menunggu kedua temannya “Sha, pulang sama siapa lagi?” tanya Kayla “Aku bareng kak Al” jawab nya pelan “Cieeeee... makin nempel aja” goda Kayla sambil tersenyum Arsha menggeleng dan mencubit lengan gadis itu pelan. “Shutt diem!” Tiba-tiba saja seseorang dari belakang langsung menyeret tangannya. Arsha terkejut, ia mendongak menatap orang itu “Kak Al, di liatin banyak orang” cicit gadis itu menunduk Alex berhenti lalu ia menatap orang-orang yang ada dikoridor. Ia langsung menatap Arsha, “Jangan di anggap” jawabnya lalu kembali berjalan lebih santai, dan pegangannya pun terasa lebih lembut Setelah sampai di parkiran, ia masuk kedalam mobil. dan begitu pun dengan Alex. “Kita mau kemana kak?” Tanya Arsha “Ke salon” jawabnya. Memang tujuan Alex sekarang ke salon untuk mengubah tatanan rambut, muka, dan baju gadis itu Tidak mungkin kan jika dirinya harus membawa gadis itu tanpa di ubah? Lelaki itu menyalakan mobilnya, dan melajukan meningalkan area parkiran. *** Mereka berdua sudah sampai di mall, tepatnya di toko baju. Alex menatap Arsha “Pilih” titahnya Arsha mengangguk. Lalu dirinya berjalan memilih baju baju yang ada di sana. Dirinya berpikir akan mengambil baju dres selutut. Lalu ia masuk kedalam walk in closet yang ada di toko itu. Setelah selesai dirinya keluar sembari menatap Alex Perubahannya jauh berbeda. Ketika Arsha keluar, seperti orang lain yang menyerupainya. Rambutnya di gerai, menampilkan rambut gelombang yang panjang dengan indah. Kacamata bulat kini tidak ada Alex sempat melongo di buatnya. benarkan itu Arsha? “Cantik” ucap Alex tiba-tiba saat melihat Arsha sembari tersenyum tipis. Perlu di ketahui bahwa kali pertama Alex memuji seorang perempuan selain Vina. Arsha tertegun mendengar pujian dari lelaki itu, kedua sudutnya tertarik ke atas membuat kengkungan. Setelah menyadari apa yang baru saja dirinya lakukan, Alex langsung menggeleng, dan berdehem “Kasih baju nya ke kasir, abis itu kita makan” ujar Alex Arsha mengangguk, ia kembali masuk. Dan memberikan baju itu di kasir. Setelah membayar baju itu, Alex membawa pergi Arsha ke restoran yang ada di sana. Untuk mengisi perut *** “Wihh baru pulang kencan nehh” goda Adit ketika melihat Arsha yang baru pulang Ia juga melihat bahwa Arsha habis keluar dari mobil Alex. Walaupun tak bisa di pungkiri bahwa ada rasa was-was nya jika Arsha memiliki hubungan dengan lelaki itu, yang sudah di cap sebagai murid berandalan Tapi, jika Arsha memiliki hubungan dengan seseorang itu pertanda baik bukan? berarti gadis itu sudah mulai percaya dengan orang di luar. Arsha membalikan badan, menatap Adit yang baru saja menuruni anak tangga Ia langsung berjalan dan duduk di sofa. “Gilakk gue kak! pusing!” ucap Arsha Adit terkekeh, “Kenapa? bukannya seneng abis kencan?” Gadis itu langsung menatap Adit, “Seneng your eyes! Boro boro seneng” Arsha melepaskan kacamata nya “Kenapa?” “Gue tuh cuman balas budi kak,” Adit mengernyit, “Maksud lo?” Menghela napas, “Gue sama sekali gak ada hubungan sama dia. Gue cuman jadi pacar pura-puranya dia! gak lebih. ogah juga kalo beneran, gue aja masih mikirin foto yang ilang..” jelas gadis itu dan menunduk di akhir kalimat Adit tertegun, jadi seperti itu? ia kira memang mereka beneran memiliki hubungan. Tapi, walaupun pura-pura semoga bisa membuat rasa trauma gadis itu hilang secara perlahan “Gue kira lo beneran punya hubungan sama si Alex. Kalo foto nanti gue bantu cari yah, lo tenang aja” ucap Adit Arsha mengangguk, “Makasih kak udah mau bantu gue” “Sana ke atas, gue mau masak dulu.” Arsha mengangguk, dan berdiri. lalu ia berjalan menaiki tangga Baru lima anak tangga yang ia lewati, langkahnya terhenti ketika Adit bersuara kembali “Eh, Sha. Biasanya kalo yang pura-pura pacaran itu suka beneran lohhh” ucap Adit tiba-tiba Arsha mendengus, lalu ia dengan cepat melangkah kembali. Dan masuk kedalam kamar. Mana ada seperti itu? Yang pura-pura tetaplah pura-pura. *** “Abanggggg! Kok baru pulang?” Bryan lari kearah Alex ketika melihat lelaki itu baru sampai Alex tersenyum tipis, lalu menggedong Bryan. “Tadi Abang ada urusan, makanya telat pulang” jawab Alex sembari mengusap punggung anak itu “Pantes Abang gak jemput Iyan” Alex tersenyum tipis, “Maaf ya, besok deh Abang jemput Iyan” Bryan mengangguk, “Okey abang” Lalu Vina datang dari arah dapur, menghampiri mereka berdua. “Tumben telat? kemana?” tanya Vina sembari mengambil alih Bryan Menghela napas, “Ya, karna permintaan bunda seminggu yang lalu” jawab Alex Vina tersenyum sumringah mengingat ucapannya seminggu yang lalu. “Oh! Iya. Berarti besok kamu bawa calon menantu bunda ya?” Alex mengangguk “Yaudah, sana gih kamu mandi dulu. Abis itu kita makan” Lelaki itu langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar nya. *** “Abang, kenapa senyum-senyum sendiri sih? Kayak orang gila aja” ucap anak kecil itu di dalam pelukan lelaki itu Alex langsung mengubah mimik mukanya menjadi datar “Nggak! Abang gak senyum-senyum kok” Ntah kenapa wajah Arsha muncul di pikirannya. senyuman gadis itu, sikap ceroboh gadis itu. Melintas di pikirannya. Ada apa dengan dirinya? “Udah Iyan tidur, besok kan harus sekolah” ucap Alex lalu mengelus rambut milik anak kecil itu “Good night abang” Bryan menenggelamkan tubuhnya di dalam dekapan Alex Alex tersenyum tipis, lalu ia ikut tertidur. Tbc.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN