Enam belas

1854 Kata
“Arsha” panggil Kayla yang baru masuk kelas setelah melaksanakan upacara bendera. Kayla menghampiri gadis itu yang sudah paling awal masuk kelas setelah melaksanakan upacara bendera. bersmaan dengan Rayna yang berjalan di sampingnya. Arsha mendongak menatap kedua gadis yang sudah ada di samping mejanya. “Iya Kay?” Kayla langsung duduk di kursinya, di samping Arsha. Ada yang ingin ia, dan Rayna tanyakan kepada Arsha “Gue mau nanya sesuatu sama lo, di jawab serius ya” ucap Kayla. Arsha menatap Kayla, dan Arsha secara bergantian. Kening nya mengernyit heran. “Mau nanya apa?” Sejenak Kayla menatap Rayna, dan langsung menatap kembali Arsha. “Sejak kapan lo akrab sama si ketos? atau lo ada hubungan sama dia?” Ia cukup terkejut dengan pertanyaan dari Kayla, menghela napas, tangannya memainkan pulpen miliknya. “Baru sih, aku nggak ada hubungan apa-apa kok sama kak Arga. kita cuman temen” jawab Arsha jujur. Memang begitu kan faktanya? ia dan Arga tidak ada hubungan apapun. selain teman Keduanya kompak memincingkan matanya, mereka tak percaya dengan jawaban dari gadis itu. “Masa?” “Iya lah,” mengangguk mantap Rayna bersedekap d**a, ia mengambil kursi miliknya dan langsung menaruhnya di samping meja Arsha, “Tapi dari tatapannya, dia itu suka deh sama lo Sha” “Kamu ngaco deh, mana ada” Arsha terkekeh dengan penuturan dari Kayla. mana mungkin Arga si ketua OSIS itu menyukai dirinya yang penampilan nya sangat kumel? Kayla mendengus, ia mendekatnya wajahnya kesamping. dan berbisik pelan tapi masih bisa dengar oleh Rayna “Tadi aja sepanjang upacara dia ngeliatin lo terus” dari awal upacara Kayla berbaris di belakang Arsha, matanya tak sengaja menangkap Arga yang berbaris di belakang barisan kelas dirinya. Rayna langsung menganguk setuju, “Nah iya tuh. bener kata Kayla, si ketos itu merhatiin lo terus” Ia geleng-geleng lalu terkekeh pelan, “Ngaco deh, mana ada. udahlah kita cuman temen doang” Ia sudah tahu bahwa ada yang memperhatikan nya sejak upacara di mulai sampai selesai. namun, ia tak menengok kebelakang dan bersikap acuh Kayla memasang wajah datar, “Lo anggep dia sebatas temen, tapi dia gak tau anggep lo apa Sha” kata Kayla. Kayla sendiri sudah kesal dengan gadis yang ada di sampingnya itu, tidak dapat di beritahu tentang faktanya. “Mana ada kak Arga suka sama aku, tipe dia pasti spek bidadari lah. gak kayak aku yang kumel” “Lo mah gak peka'an Sha. kemarin aja lo di ajak belajar bareng sama dia. pasti dia itu lagi pengen deketan sama lo” celetuk Kayla lagi “Itu kan hal umum, Kay” “Iya, hal umum. Tapi, biasanya kan kita duluan yang minta ke dia buat ngajarin kita materi. Lah, kalo ke lo kan dia duluan” Rayna menyahut dari arah samping “Berarti lo udah masuk orang spesial buat dia” Ucap Kayla “Apa sih, udah bentar lagi guru nya masuk” final Arsha yang tak mau terus menerus membicarakan lelaki itu. tidak ada untungnya juga membicarakan lelaki itu kan? *** Bell istirahat sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, ia berdiri di depan cermin kamar mandi sekolah. Kedua matanya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar, tangannya terangkat melepaskan kacamata bulat yang menghiasi kedua matanya. Ia mencuci tangan, dan membasuh wajahnya. setelah selesai ia langsung memakai kembali kacamata itu. menghembuskan napasnya pelan lalu berbalik dan beranjak dari kamar mandi. Baru beberapa langkah perhatian gadis itu teralihkan kepada segerombolan siswi yang berjalan sambil berbisik-bisik sambil menatapnya dari arah berlawanan Arsha tak menghiraukannya, ia terus melangkah sambil menunduk. saat ia berpapasan dengan segerombolan siswi itu dengan sengaja menabrak bahunya secara kasar Menghembuskan napasnya pelan, ia kembali melangkah. namun tarikan di rambutnya membuat langkahnya gadis itu kembali terhenti, salah satu gadis yang ada di belakang langsung membalikan paksa tubuh dirinya agar menghadap ke mereka Pandangan Arsha naik menatap para kakak kelas yang menganggunya. Mata gadis itu seketika melebar ketika Lauren maju dengan sebotol air berwarna hitam di genggamannya. Pyyyur! “Ups, sorry.” Seringai mengerikan muncul di bibir Lauren. “Gue sengaja” Arsha menunduk sambil menggeram marah di sana. ingin sekali ia membalas kelakuan kakak kelasnya itu tapi, ia harus sabar Tanpa mengucap sepatah kata pun ia langsung melewati Lauren Cs sembari tak sengaja menabrak bahu Lauren. Dengan cepat ia langsung masuk kedalam kamar mandi dan membasuh kembali wajahnya Lauren menatap tajam gadis itu lalu ia menyusul langkah Arsha dan segera menjambak rambutnya dari arah belakang. Arsha meringis kesakitan “Sialan lo! Berani lo sama kita?” Gadis itu menggeleng di sela sela ringisannya Lauren menggeram, lalu melepaskan tangannya dari rambut gadis itu secara kasar. Membuat wajah gadis itu langsung tertunduk Mendekatkan wajahnya kesamping gadis itu, “Jauhin Alex. Kalo lo berani deketin dia lagi gue bisa lebih lo lebih menderita dari ini!” Sekarang ia paham maksud dari kelakuan gadis yang ada di hadapannya ini. Lagi pula ia dan Alex hanya kebetulan terlihat dekat. itu pun tindakan tak terduga dari Alex sendiri bukan dari dirinya. Tanpa mereka duga ada seseorang yang mengabadikan hal itu dengan memfotokan Lauren Cs yang sedang merundung habis-habisan adik kelas Cekrek! Cahaya flash membuat geng Lauren kompak menoleh kearah sumber suara dan cahaya. Setelah melihat siapa pelakunya Lauren menelan ludahnya susah payah. “Lagi?” suara berat dari pintu kamar mandi membuat orang yang ada di sana mematung. Terlihat sosok Alex menatap datar dan jijik ke arah Lauren yang sedang merundung Arsha Lauren segera menghampiri Alex dan menggemggam jemari Alex “Al ini gak seperti apa yang kamu liat, aku bisa jelasin” ucap Lauren sedikit bergetar Alex menghempaskan tangan Lauren, lalu menatap gadis itu dengan datar “Buat apa sih lo ngelakuin hal kek gini? Lo bersikap kayak gini membuat gue jijik sama lo” Alex langsung menatap kedua gadis yang lain nya yang sedang berdiri di samping Arsha “Lo semua punya waktu lima detik buat pergi dari hadapan gue” Alex mengangkat ponselnya yang menampilkan foto bagaimana kakak kelas merundung adik kelasnya sendiri. “Satu” “Cabut!” Perintah Lauren kepada kedua sahabat nya. Lalu bergegas pergi, sebelum pergi Lauren melirik tajam kearah Arsha. Kali ini gadis itu selamat, besok akan ia pastikan bahwa dirinya sudah menyiksa gadis itu Tak butuh waktu lama, kini hanya tersisa Arsha dan Alex di sana. Alex menatap Arsha sekilas lalu mengulurkan tanganya kearah gadis itu “Bangun” Arsha menerima uluran tangan itu, saat ia ingin melepaskan tangannya dengan cepat Alex menggenggam tangan gadis itu dan menariknya keluar dan membawa gadis itu dari area kamar mandi *** Arsha duduk di kursi panjang yang ada di taman sekolah. ia baru tahu bahwa ada taman di sekolah ini. pemandangan nya cukup bagus, tapi di sekitar taman ini sangat sepi tidak ada orang satu pun kecuali dirinya dan Alex Ia menyatukan jemarinya sambil menunduk Alex datang menaruh kotak tisu di tengah dan memberikannya kepada gadis itu Arsha tersentak kaget lalu ia menoleh kesamping menatap Alex yang membuang muka ke arah samping. lalu ia menatap kotak tisu dan menerimanya Ia mengambil beberapa lembar tisu dari dalam sana lalu mengusap wajahnya yang basah bekas cuci muka. Setelah selesai membersihkan wajahnya yang basah ia menatap kembali Alex “Makasih,” ucap Arsha singkat lalu berdiri dan melangkah meninggal tempat itu Sebelum melewati Alex, tanganya sudah di cekal oleh lelaki itu. Arsha menunduk menatap Alex penuh tanya Lelaki itu ikut berdiri dan segera membuka hoodie hitam yang melekat di baju seragamnya. Ia menyodorkan kearah Arsha “Baju lo tembus” ucap Alex lalu beranjak pergi duluan meninggalkan gadis itu “Kenapa kamu nolongin aku?” Tanya Arsha tiba-tiba membuat langkah lelaki itu terhenti “Gue gak nolongin lo,” jawab Alex Lalu Alex melanjutkan langkahnya tanpa pamit Perlu kalian ketahui kenapa Alex berucap demikian karna memang dirinya tidak menolong gadis malang itu. Ia hanya mencari bukti jika Lauren akan berhenti merundung siswi tapi ternyata gadis itu tetap tidak berubah. Arsha mematung, tidak paham maksud jawaban dari lelaki itu. Jika Alex tidak menolong nya kenapa tadi lelaki itu menghentikan aksi Lauren yang merundung nya? Ia menunduk menatap hoodie hitam di tangannya lalu memakainya, dan segera pergi dari taman untuk pergi kekelas *** Adit berjalan dengan lesu kearah dapur, ia melepaskan jaketnya dan menaruhnya di kepala kursi meja makan Ia mengambil gelas dan membukakan kulkas untuk mengambil air dingin. Setelah menenguk habis air itu ia langsung kembali mengambil jaketnya. Namun, sepasang matanya tak sengaja menangkap ketel yang ada di atas kompor Ia pun menghampirinya dan mematikan kompornya. Membuka tutup ketel, lalu mengernyit penuh tanya “Siapa yang masak air panas?” menolognya Seingat dirinya Arsha tidak suka minum air panas, dan dirinya pun baru saja pulang. lantas siapa yang memasak air panas? Langkah kaki menuruni tangga terdengar, Arsha baru saja selesai mandi dan ia akan mematikan kompor karna sedang memasak air panas Ia melihat kearah sofa ada tas milik Adit, tapi dimana lelaki itu? ia berjalan kembali menuju arah dapur. Matanya menangkap punggung Adit yang sedang menghadap ke arah kompor. Jantunganya berpacu dengan cepat, ia merutuki dirinya sendiri karna lupa mematikan kompor sebelum Adit pulang “Kak Adit udah pulang?” Adit mengangguk lalu menatap Arsha “lo masak air panas Sha?” pertanyaan yang sangat Arsha hindari pun akhirnya di pertanyakan oleh Adit Arsha mengangguk canggung. “Ah, iya. itu punya gue kak” jawab Arsha gagap seperti telah ketahuan melakukan suatu kesalahan Adit mengernyit sambil menatap curiga ke arah gadis itu, “Buat?” Arsha menelan ludahnya susah payah, “Y-ya buat minum lah” “Sejak kapan lo suka minum air panas?” tanya Adit lagi, seperti ada yang sedang di sembunyikan oleh Arsha melalui gelagat gadis itu “Se-sejak dulu lah!” “Bukannya lo dari dulu gak suka minum Air panas?” Adit semakin di buat terheran. sejak kapan gadis itu jadi suka minum air panas? setahu dirinya gadis itu paling tidak suka karna meminum air panas selalu membuat dirinya mual itu kata Arsha pada dirinya dari kecil Arsha menggaruk kepalanya yang tak gatal, mencari alasan agar lelaki itu percaya padanya. “Emh, y-ya itu sih dulu. sekarang kan udah nggak” “Aneh banget” “Aneh apanya?” “Lo” “Lo-kan dari kecil paling anti minum air panas, terus sekarang lo jadi suka. ya, aneh lah” ucap Adit sambil menatap ketel itu dengan penuh tanya Arsha berjalan kearah kompor dan mengangkat ketel lalu menuangkan air panas itu ke gelas. “Semua itu bisa berubah seiringnya waktu. Kayak gue yang dulu anti minum air panas sekarang gue jadi suka” terang Arsha lalu menenguk Air panas itu di hadapan Adit Adit mengangguk-angguk, “Oke deh, gue percaya” Hufft... Akhirnya Adit percaya dengan perkataan palsunya Setelah itu Adit langsung beranjak pergi meninggalkan dapur, Arsha bernapas lega melihat hal itu Tubuhnya mematung ketika Adit berhenti melangkah dan mengatakan sesuatu. “Jangan sembunyiin apapun dari gue ya Sha” peringatan Adit lalu kembali berjalan kearah kamarnya “Iya kak” jawab Arsha pelan sambil menatap kosong air panas itu “Sorry kak, gue bohongin lo” batin Arsha menyesal Terpaksa Arsha membohongi Adit, ia hanya tidak mau semakin merepotkan lelaki itu. lebih baik ia sendiri yang pendam. Langkah nya tidak salahkan? semoga saja...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN