Betapa melototnya Budi melihat kejadian sangat menggangu seperti itu. para wartawan yang dari tadi terus memotret mereka tanpa henti akhirnya membuat Nindya ikut terekam. Semua orang ikut terkejut melihat keributan itu. Yuda sempat terkejut refleks bangun berdiri ketika Nindya menepis tangannya. Budi langsung bergeser cepat ke samping Yuda agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada sang Superstar.
Namun, Yuda terlihat hanya bingung sembari mengangkat sebelah alisnya melihat kekonyolan Nindya. Para petinggi hotel yang menyambut Yuda juga hanya bengong melihatnya.
Nindya terus berlari sampai-sampai dia mendorong orang-orang yang menghalanginya. Terlihat beberapa orang ikut kesal dengan kelakuannya. Yuda hanya ternganga begitu heran dengan tingkah gadis cantik yang terjatuh konyol di hadapannya tadi.
Namun, karena acara yang begitu formal dan berada di publik juga akan tersebar ke seluruh sosial media. Para kru langsung mengalihkan perhatian meski Nindya suda terlanjur ikut terpotret dan terekam oleh para wartawan tanpa Nindyanya sendiri sadari.
Yuda langsung kembali menghadap pintu masuk hotel. Yuda masih termenung sembari mulai berjalan memasuki hotel terus di iringi ketat Budi bersama yang lain hingga Yuda memasuki hotel dengan selamat.
****
Nindya terus berlari terbirit-b***t hingga dia berhenti nyaris terjatuh karena begitu lelah.
Sekarang Nindya menjadi ngos-ngosan di sudut halaman indah itu. Dia merasa malam ini adalah malam begitu memalukan dalam hidupnya. Dia langsung melotot seketika, tersadar dengan apa yang telah dia lakukan.
Dia langsung mengerutkan alisnya ingin menangis sangat kencang dengan teriakan tak bersuara.
"HAAAA!!!!!"
Akhirnya teriakan bisa keluar setelah sebentar tak bisa keluar. Nindya langsung memegangi kepala dengan kedua tangan sembari membungkuk begitu malu mengingat yang barusan terjadi.
"ADUHH!!! KENAPA SIH GUE MALAH JATUH SEGALA KEK TADI! HAAA!!! MALU BANGEET SUMPAH YA AMPUUN ADUUH!!!" jeritnya begitu sangat sangat malu dan kotor seakan ingin menghilang saja saat ini dari dunia.
Dia malah memukul-mukul pipinya sendiri sembari menangis lucu.
Seketika dia langsung melotot kembali saat mengingat Yuda membungkuk mendekati sangat dekat sembari bertanya.
"Huh?! Apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan?!..."
Dia langsung menutup mulutnya syok.
"Jangan-jangan gue nanti ikut masuk tv terus di beritain dengan judul seorang gadis aneh tiba-tiba terjatuh di hadapan Yuda?" tanyanya begitu syok sangat tak ingin itu terjadi nantinya.
"AAAAAA!!!! GAK MUNGKIINN!! HUAA!!!" teriaknya semakin stress hingga dia kembali berlari ketakutan entah ke mana.
****
Tak terasa malam sudah begitu larut. Betapa kagetnya Aya tersadar saat jam di handphonenya telah menunjukan pukul 01.12. Meski di kota metropolitan ini selalu ramai sampai pagi, apalagi malam ini adalah malam Minggu dan tidak akan membuat khawatir Aya bersama teman-temannya untuk pulang meski sendiri-sendiri. Namun, karena ada tugas kuliah yang harus di selesaikan itulah yang membuat mereka resah karena takut telat bangun tidur.
"ASTAGAA GUYS!! YA AMPUN UDAH JAM SATU! BESOK KITA HARUS SELESAIN MAKALAH YANG DI BERI PAK DONI ITU KAAN ADUHH GIMANA NIH!" panik Aya.
Sekarang Rina juga yang lain ikut terkejut mendengar jam yang di lontarkan Aya. Akhirnya mereka bergegas untuk pulang.
"Sumpah gara-gara kegantengan Yuda kita lupa waktu guys," kata Rina sembari berjalan mendekati parkiram yang sekarang terlihat juga lebih renggang karena orang-orang juga sudah pada pulang.
Namun, saaat sudah sampai di depan motor mereka. Mereka baru teringat kepada Nindya.
"Astagaa Nindya lagi?! Ke mana tu anak dari tadi ya?" tanya Aya mendengus lelah langsung memegangi dahinya tanda sudah pening.
"Huuhh bikin tambah ribet aja sekarang temen lu itu. Cari aja deh dulu. Gakpapa lah udah kita pulang lebih lambat," jawab Rina mendengus kesal sembari sudah menopang tubuhnya dengan tangan memegangi stang motornya mengurungkan niatnya untuk naik dulu karena mencari Nindya.
Akhirnya dengan rasa kesal terpaksa mereka semua kompak memutuskan mencari Nindya dulu berkeliling.
****
Nindya ternyata malah mencari keberadaan Aya serta teman-temannya juga. Mereka sama-sama mencari satu sama lain. Terlihat sekarang Nindya sudah begitu lelah juga masih merasa was-was begitu malu luar biasa jika bertemu orang-orang. Saat ada yang melihatnya, dia langsung jongkok bersembunyi untuk menghindari rasa malu yang masih membuatnya trauma.
"Haduuh, ke mana si Aya sama yang lain. Ya Allah capek banget udah gue inii," rintih Nindya sembari mulai berjalan lagi dengan terpingkal.
Namun, ketika dia sudah begitu lelah dan ingin menyerah. Dia langsung terkekeh saat melihat Aya dan yang lain ternyata ada di seberangnya. Ya, mereka terlihat sedang mencari-cari Nindya juga. Betapa bahagianya Nindya ketika telah menemukan mereka kembali.
"AYA!" serunya tersenyum lebar melotot sangat bahagia.
Nindya langsung mencoba meneriaki mereka agar tidak mencari dirinya semakin jauh.
"AYAA!!" teriak Nindya.
Namun, karena memang jaraknya lumayan jauh. Teriakan Nindya seakan sangat tidak memungkinkan untuk di dengar. Terlihat mereka juga sudah kelelahan mencari keberadaan Nindya sendiri.
Nindya semakin khawatir padanya. Akhirnya tanpa pikir panjang gadis itu langsung berlari mencoba mengejar mereka.
Menyeberang jalan ternyata tak semudah yang Nindya bayangkan. Banyak bermacam halangan untuk terus dia terobos yang semakin memperlambat dia bertemu dengan teman-temannya. Dia mencoba berputar ke kiri sedikit karena di depannya di penuhi motor-motor mahal yang terpakir rapi.
Setelah berhasil sampai ke sana ternyata para wartawan masih setia menunggu Yuda untuk keluar sehingga mereka yang lumayan banyak penuh menutupi jalan.
Nindya menggeram kesal namun dia tak menyerah. Dia terus mencoba menyeberang untuk sampai menyusul teman-temannya.
Sekarang dia mencoba menerobos saja para kerumunan wartawan-wartawan yang terlihat terus siaga stay kamera ke arah pintu masuk utama menunggu Yuda.
Tanpa di sangka-sangka ternyata sang Superstar itu juga keluar bersamaan Nindya entah kenapa. Sepertinya ia juga telah menyelesaikan acaranya. Yuda lalu berjabat tangan tanda berterimakasih juga menghormati Direktur utama hotel bintang 5 itu karena telah ramah tamah menerimanya di sana.
Nindya yang terlihat semakin brutal terus berusaha menerobos kerumunan akhirnya tertabrak salah satu wartawan. Dia menabrak lelaki itu lumayan keras hingga kamera yang ia pegang nyaris terhempas ke lantai.
Nindya membuat kesalahan 2x malam ini. Semua orang kini tertuju padanya. Betapa terkejutnya Nindya saat tau hal yang dia lakukan lagi sekarang.
"Ya Allah m-maaf Pak saya gak sengaja maaf!" rengek Nindya terbata saking gugupnya. Dia merasa begitu bersalah.
"Lain kali hati-hati dong Mba!" geram lelaki itu marah.
Kegaduhan itu sontak membuat semuanya terkekeh. Nindya hanya mengerutkan alisnya sedih tremor sembari meneguk air liurnya mengangguk.
Yuda yang awalnya masih asyik berbincang ingin berpamitan dengan Pak Direktur juga ikut terkekeh.
Wartawan itu kini memarahi Nindya. Sekarang Nindya semakin merasa sedih sekaligus sedikit takut.
"Mba kalau mau viral jangan cari muka di sini! Gak akan ada yang mau sorot Mba!" geram lelaki itu meski dengan nada yang tidak terlalu tinggi.
Yuda akhirnya melihat semua itu. Dia juga sekarang merasa kasihan pada Nindya yang terlihat hanya diam ketakutan.
"Ya m-maaf ya saya benar-benar gam sengaja dan sama sekali tak ingin ikut viral di sini Pak saya minta maaf..."
"Makanya kalo jalan tu..."
"Ekhm! Hey hey?! Ada apa ini?"
Yuda langsung berjalan santai sembari memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana dengan gaya cool.
Seketika semua langsung terdiam membelalakkan mata ketika melihat Yuda malah berjalan ke arah mereka semua.
Budi langsung melongo heran bersamaan dengan Direktur tadi.
Lelaki yang memarahi Nindya itu kini langsung membisu kaku seakan stroke mendadak. Ia terlihat gemetar sekaligus takut dengan tatapan Yuda yang mendekatinya.
Seketika semua memberikannya jalan dan tak lupa terus memotret dirinya dengan flash-flash putih yang sangat menyilaukan mata.
Nindya langsung menoleh panik ke arah Yuda yang sekarang malah mendekatinya kembali. Betapa malunya Nindya sekarang langsung membuang mukanya ke samping tremor ngos-ngosan agar tidak di kenal Yuda lagi.
"Ada apa?" tanya Yuda mendongak santai pada lelaki itu.
Lelaki itu kini mati kutu. Ia langsung tertunduk karena orang besar yang di idolakan semua orang sekarang menghadapinya, kalau ia salah menjawab. Bisa-bisa habis karirnya dan menjadi viral tak baik di semua media.
Yuda sekarang terlihat serius bertanya padanya. Ternyata Yuda adalah seorang lelaki yang tak menyukai ada cowok yang kasar memperlakukan perempuan apalagi di tempat umum yang begitu ramai seperti ini.
Aya bersama lainnya yang dari tadi mencari keberadaan Nindya kini ikut terkekeh ketika melihat cahaya flash-flash putih dari seberang. Mereka langsung melihat ke arah sana sembari menyipitkan mata memperjelas mencoba melihat apa yang terjadi di sana.
Karena begitu memperhatikan akhirnya Aya tersadar bahwa di tengah-tengah kerumunan itu ada sahabatnya yang terlihat sedang terkurung terdiam dengan raut wajah takut.
Betapa terbelalaknya mata Aya ketika mengetahui bahwa yang dia lihat benar-benar adalah Nindya. Dia langsung menepuk bahu Rina dan yang lain agar ikut dia pergi ke sana menyusul Nindya.
"Apa sih Ya?"
"NINDYA! NINDYA DI SANA!!" geger Aya.
"Hah?"
Rina langsung melotot heran dan ikut lebih memperhatikan lagi.
"Astaga ya ampun! Beneran Nindya ya! Ya udah ayo kita ke sana!" jelas Rina. Mereka langsung bergegas ke sana tanpa pikir panjang agar mereka pulang cepat.
****
Nindya begitu merasa ingin benar-benar menghilang saja sekarang dari muka bumi.
Kini semua terlihat tegang. Yuda terus menatap lelaki itu agar mau menjawab.
"Kenapa?"
"G-g-gak Mas..." Ia malah tergagap sungguh gugup menjawab Yuda.
Yuda mengerutkan alisnya sungguh kesal dengannya.
"Sebaiknya lo jangan ngebentak cewek di depan umum begitu. Kalau dia gak sengaja kesenggol. Tegur aja, jangan di bentak. Apalagi lo mau ngejar semua info tentang gue," ucap Yuda serius menatapnya dengan gaya begitu cool dengan kedua tangan yang sudah ia masukkan ke kantong celananya.
Yuda mendengus lalu menepuk bahu lelaki itu. Kini wartawan lain malah terus mengambil foto mereka dan sekarang ia malah ikut masuk ke kamera teman-temannya. Betapa malunya sekarang lelaki itu karena ia akan tahu yang lain telah memotretnya saat Yuda menegurnya. Ia hanya bisa tertunduk sangat pasrah tak bisa berkutik.
Yuda lalu menyeringai sembari tersenyum padanya.
Nindya membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Yuda tadi. Yuda lalu terkecoh padanya dan melirik ke arahnya.
Nindya yang tersadar bahwa sekarang Selebriti yang masih dia anggap Selebriti abal-abalan itu langsung membelalakkan matanya lebar saat Yuda menatapnya.
Yuda terus melihat ke arahnya. Ternyata lelaki itu juga berpikir keras seakan pernah bertemu dengan Nindya. Yuda terus mencoba berusaha mengingat dan betapa tak menyangkanya juga ia saat teringat bahwa Nindya lah satu-satunya gadis yang bertemu ia kemarin sama sekali tak histeris.
Yuda langsung membelalakkan matanya dan terdiam sejenak sungguh kaget juga. Nindya yang masih sangat takut sekaligus malu juga tak kuat menoleh ke arahnya. Kini mereka sama-sama saling melotot sungguh tak menyangka dengan yang terjadi.
Yuda mengerutkan alisnya merasa begitu konyol juga aneh. Mengapa gadis ini sekarang malah ikut di acara meet and greatnya. Namun kemarin Yuda berpikir Nindya seakan benar-benar tak mengenalnya.
Flash putih kembali mengganggu seakan tak ada habisnya dan terus mengikuti Yuda semakin dekat. Yuda langsung mencoba membuyarkan lamunannya dulu dan membuang pandangannya melotot dari Nindya.
Yuda lalu mencoba tetap profesional di depan publik. Ia langsung mendongak percaya diri sembari berdeham agar foto-fotonya tetap cool juga tampan tidak menjadi aib di semua media.
Yuda lalu menyipitkan mata sembari mengerutkan alis santai menoleh ke arah Nindya dengan gaya tak berubah seperti tadi.
Aya dan yang lainnya telah berhasil menghampirinya. Namun, mereka langsung bersembunyi sangat syok saat melihat Nindya di kerumuni banyak wartawan dan Yuda ada di dekatnya.
"Ekhm! Udahlaaahh, Mba yang cantik ini cuman YudafanL di acara kita ini kok ya kan Mba? Saya sangat berterimakasih," ucap Yuda tersenyum mendongak sopan seakan menghormati. Kini wartawan ikut tersenyum sembari terus merekam mereka. Budi juga merasa lebih tenang sekarang.
Betapa terbelalaknya Nindya ketika Yuda mengaku-ngaku dan menyebut dirinya adalah salah satu fansnya. Dia langsung menoleh sembari mengerutkan alisnya melotot seakan merasa tak terima.
"Hahaa, oke guys. Mba inii adalah salah satu dari kalian. Dan saya harap kalian akan terus mendukung saya juga Mba ya hahaha. Okee silahkan Mba mau foto bareng saya?" ajak Yuda sembari tertawa seakan meledek bagi Nindya.
Nindya hanya mengerutkan alisnya diam tak menjawab sepatah katapun terus menatap Yuda.
Yuda tertawa pada mereka dan ia melihat ke arah Nindya lagi. Nindya mengubah ekspresinya hanya datar dengan wajah yang sudah terlihat lelah.
Yuda yang melihat reaksi Nindya biasa saja seakan memang menolaknya untuk berfoto bareng sempat terdiam begitu malu. Namun, ia terus mencoba berakting profesional di depan publik.
"Ooh haha Mba nya malu guys, gakpapa Mbaa. Mungkin lain kali bersama dengan yang lain agar mereka tak iri. Oke guys aku gak akan bikin iri kalian kok hahaha.
I love you all emmuach," ucap Yuda berpura-pura santai terus tertawa kecil sembari menoleh semua yang ada di sana.
Kini para wartawan serta Budi dan juga Direktur malah ikut tertawa karenanya. Yuda sekarang merasa begitu lega dan langsung melangkah pergi dari sana di iringi para bodyguardnya dan sorakan wartawan.
Betapa ternganganya Aya bersama yang lain sungguh tak menyangka ternyata Nindya bisa begitu dekat dengan Idola mereka itu sampai-sampai mulut mereka ternganga lebar tak bisa di tutup kembali karenanya.