Bab 6

2032 Kata
"Emang ada apa sih?!" Nindya semakin bertanya-tanya. Namun, mereka malah memonyongkan mulut melotot seakan kaget melihat sesuatu di seberangnya. Sontak membuat Nindya mengernyit kening. Ternyata di belakang Nindya terdapat Yuda yang sedang di tarik sang Manajer untuk segera keluar dari tempat itu. Namun, Nindya masih tidak berbalik maka dari itu dia masih tak mengerti apa yang membuat semua temannya tiba-tiba histeris gila seperti itu. "AAAAA ITUU MAS YUDAA GUYS ADUH GANTENGNYA MAAAS!!!!" "MANA?" "DI MANA?!" "AAAA!!" Mereka berteriak begitu kencang dan langsung berlari sampai-sampai Edo nyaris terjatuh akibat tersenggol Rina yang berlari mengejar Yuda. Yuda yang jaketnya di tarik Manajer seperti seorang anak di bawa pulang Mamanya tersadar ada segerombolan gadis yang terlihat mengejarnya dari kejauhan dan siap menangkapnya begitu sadis. Betapa melototnya mata Yuda melihat hal itu. Tanpa pikir panjang ia langsung melepaskan tangan sang Manajer dari jaketnya dan malah kabur lari ketakutan. "EH! WOY! YUDA! MAU KE MANA KAMU?!" teriak lelaki itu langsung kaget panik mengejarnya juga. Yuda langsung berlari entah kemana. Ya, Yuda memang orang yang agak pecicilan. Saat Yuda kabur barulah Nindya menengok ke arah belakangnya. "Ya ilaaah. Gila banget sih mereka sama tu cowok," kesal Edo. Nindya langsung kembali menengok ke arah Edo. "Cowok?" Nindya terlihat semakin heran dan bingung. "Emang siapasih?" tanyanya. "Huhh ituu, selebriti pemain sinetron. Kata Rina sih gue pernah denger," jawab Edo. Betapa terkejutnya Nindya saat mendengar pernyataan dari Edo itu. Nindya mengerutkan alis sembari mencibir masih tak percaya. "Selebritis?" tanya Nindya meragukan. Edo hanya mengangguk sembari mencibir. Nindya ternganga mengerutkan alisnya merasa konyol. "Hah selebritis kek gimana emang?" Suara teriakan dan gemuruh heboh orang-orang berlari mengejar Yuda membuat Nindya dan Edo terkekeh. Nindya kembali menoleh ke sekitarnya. Betapa ternganga mulutnya ketika melihat ramainya sekarang orang-orang berbondong-bondong ingin mengejar selebritis yang di maksud Edo tadi. Nindya langsung berdiri sangat heran dan kini merasa ikut penasaran bagaimana sosok selebritis tersebut sampai-sampai semua heboh sekarang karenanya. "Seleb? Seleb kek gimana sih. Wow banget ya tu artis jadi semua orang pada heboh begini? Huhh. Kok gw dari tadi kagak ketemu ya? Seleb apa sih," heran Nindya menggaruk kepalanya. Akhirnya karena ikut penasaran dengan sosok yang membuat semua orang tergila-gila Nindya langsung ikut pergi mencoba mencari selebriti yang di maksud. "Eh Nindya lu ikut ngejer juga?" teriak Edo. "Iya Do gue penasaran gimana Selebnya!" sahut Nindya sembari terus berlari. * Terlihat sekarang orang-orang bergerombol sangat banyak di tengah-tengah ruangan Cafe yang lumayan luas itu. Nindya langsung terpusat pada banyak gerombolan yang di jaga oleh Satpam juga petugas agar tidak terjadi kerusuhan di sana saking hebohnya. "STOP!! STOP! JANGAN RIBUT!" teriak Satpam serius sembari mengangkat kedua tangannya dengan tongkat Satpam tanda memperingati. "YUDAA!" "YUDAA!" Ricuh mereka terdengar sayup-sayup dari suara bising di kerumunan itu. Kini mereka hanya bisa terhenti di sana sembari terus merasa kesal kepada para penjaga karena telah menghalangi mereka untuk bertemu Yuda sampai ada yang berani protes angkat bicara dan ada juga yang berteriak-teriak memanggil Yuda dengan nada galau. Nindya yang melihat suasana sedikit tegang itu akhirnya memutuskan untuk tidak melewati kerumunan orang banyak di sana. Dia tidak mau mengambil resiko di marahi Satpam. Nindya pun berlari menjauh dari sana. Ketika Nindya sampai di pojok. Dia menghentikan larinya dan mencoba berjalan saja agar tidak tertabrak apapun yang akan muncul dari arah kiri kanannya. Sebenarnya Nindya masih merasa penasaran di tempat gerombolan tadi. Dia berpikir kalau-kalau Selebriti itu malah ada di sana maka dari itu para Satpam terus mencoba menahan mereka. Nindya yang merasa sedikit kesal sekaligus sedih karena tidak bisa menerobos gerombolan orang-orang. Gadis itu terus menengok ke belakang dengan rasa sangat kesal pada dirinya sendiri sampai dia tak lagi ingat melihat ke arah depan tetapi terus berjalan tanpa memperhatikan jalan. Tanpa di sangka ternyata Yuda datang dari arah berlawanan dan terlihat sama seperti Nindya terus menengok ke arah belakang karena was-was begitu waspada jika ketahuan siapapun. Ia sangat takut jika ada salah satu orang yang menemukannya. Karena sama-sama saling berjalan ragu sembari menengok ke arah belakang. Mereka terus saja berjalan sambil memperhatikan arah belakang tanpa tersadar mereka sudah sangat dekat dan... "BRUK," Mereka akhirnya bertabrakan dan nyaris saling terjatuh dan tak sengaja mereka refleks sama-sama menarik tangan mereka menahan tubuh agar tidak saling terjatuh ke tanah. Keduanya langsung menengok ke belakang di mana kedua belakang mereka terbentur satu sama lain lumayan keras. Sungguh kejadian luar biasa yang di alami Nindya meski gadis itu tidak tau siapa Yuda sebenarnya. Nindya yang tersadar dia baru saja menabrak orang langsung membelalakkan matanya panik mendongak ke arah lelaki yang dia tabrak. Yuda yang juga awalnya kaget langsung ngeh kalau ia baru bertabrakan dengan seorang gadis yang sangat cantik natural itu. Betapa terkejutnya mereka satu sama lain ketika sudah saling menatap seakan terpana. Mereka sempat terdiam satu sama lain meski kaget. Entah kenapa seakan dalam diri mereka sudah ada ikatan yang membuat takdir mempertemukan dengan hal tak terduga seperti ini. Yuda langsung mati berdiri begitu takut kalau-kalau Nindya adalah salah satu orang yang akan heboh bertemu dengannya apalagi sekarang dia tak sengaja bisa begitu dekat dengannya. Mata Yuda langsung terbelalak sangat lebar seakan ingin copot dengan mulut sedikit terbuka sangat syok. Nindya yang tidak tahu menahu padanya hanya melongo bengong dengan wajah polosnya. Namun, karena baru ngeh tersadar sepenuhnya. Nindya langsung syok melotot sama seperti ekspresi Yuda sekarang. "EH!! M-MAAF MAS! ADUH! MAAF BANGET!!!" panik Nindya langsung melangkah mundur mencoba menjauhkan dirinya dari Yuda. Yuda masih mematung kaku sangat syok karena seorang Artis terkenal yang di kejar-kejar semu orang kini malah tak sengaja memeluk orang biasa. "MAS GAK PAPA?" tanya Nindya masih merasa panik. Yuda yang masih sangat takut langsung gemetar. "Haah," jerit Yuda lirih mengerutkan alisnya sangat panik dalam hatinya. "MAS ADA YANG SAKIT? SUMPAH SAYA BENAR-BENAR MINTA MAAF..." "STOP PLEASE KAMU JANGAN TERIAK!!" potong Yuda menyodorkan kedua telapak tangannya panik tanda menghalangi. Nindya yang awalnya khawatir dan merasa bersalah padanya kini merasa heran pada tingkah anehnya. Nindya langsung terdiam melongo. "PLEEASE...?! PLEASE PLEASE PLEASE KAMU JANGAN PANIK. SST. CUKUP KAMU AJA YANG TAU OKE," celetuk Yuda memohon mengatup kedua telapak tangannya pada Nindya, masih mengira Nindya adalah orang yang juga mengenalnya sebagai Artis terkenal di negara itu. Nindya semakin tak paham dengan tingkah dan ucapan lelaki ganteng berpenampilan keren di depannya ini. Nindya mengerutkan alisnya merasa sangat aneh pada Yuda. "M-maksud Mas apa? S-Saya gak paham," tanya Nindya mengerutkan alisnya menggeleng sekali heran. Yuda yang melihat Nindya masih seakan biasa saja padanya akhirnya terdiam menatap Nindya. Nindya ikut terdiam melihatnya sembari masih mengerutkan alisnya tak mengerti dengan apa yang dimaksud Yuda. "Kok...? Kok cewek ini kek gak kenal ya sama gue ya?" gumam Yuda dalam hatinya sangat heran seakan merasa ganjal. Nindya hanya bengong masih menatapnya. Namun, akhirnya karena Nindya merasa malu dan tak enak pada Yuda karena sama-sama masih tak kenal akhirnya Nindya mencoba menepis kebengongannya tadi. "Oke, Mas. Sekali lagi... Saya minta maaf soal tadi... Saya benar-benar gak merhatikan jalan hingga nabrak Masnya kek gini. Kalau Mas merasa tak enak dan marah sama saya... Saya minta maaf..." Ucapan Nindya yang terlihat sungguh-sungguh minta maaf itu semakin membuat Yuda bingung. Kini lelaki tampan itu hanya melongo terdiam heran bergantian dengan Nindya. Yuda mengerutkan alisnya merasa begitu lucu sembari mengindikkan bahunya mengangkat kedua tangannya tanda bertanya. "W-Why?" "Sekali lagi saya minta maaf... Permisi," potong Nindya sembari membungkukkan tubuhnya tanda meminta maaf sopan seperti orang Korea. Setelahnya Nindya lalu kembali berdiri tegak mendongak ke arahnya pelan. Tatapan Nindya seakan memanah jantung lelaki itu. Gadis itu sempat terdiam memandangnya lalu dia pergi dengan santainya. Dia melewati Yuda dengan wajah yang begitu datar seakan menganggap Yuda memang benar-benar seperti orang biasa hingga lelaki itu terdiam mematung dengan mata masih melotot ternganga melongo. Kini hanya Yuda yang tertinggal sendiri. Yuda tersadar dan menengok ke belakang ke arah Nindya berlalu darinya. Ia merasa Nindya tidak seperti orang-orang yang bertemu dengannya pada umumnya. Lelaki itu terdiam terus menengok ke arah Nindya pergi. Ia merasa sungguh aneh sekaligus merasa heran pada gadis yang barusan di tabraknya tadi. "Kok dia biasa aja ya saat melihat gue tadi?" tanya Yuda lirih masih tak percaya sembari terus menatap ke arah Nindya pergi tadi. Ia lalu menundukkan pandangannya berpikir. "Ahh, mungkin dia gak fans sama gue. Kan di negara ini pasti gak sepenuhnya suka dan ngeidolain gue. Artis bukan gue aja. So, dahlah wajar," pikirnya sembari mencibir mengindikkan bahu. "Tapi, masa iya gak suka sama gue yang ganteng imut stadium akhir di luar nalar begini?" tanyanya lagi mengerutkan alisnya sangat percaya diri. Namun, dering dari telpon mewahnya membuat lamunannya terbuyar hingga akhirnya dia melupakan Nindya. Ternyata Manajernya lah yang menelpon dirinya. "Aduh, Pak Budi nelpon. Pasti panik nih nyariin gue. Huh, gue harus cepat-cepat balik mobil aja sekarang," ucapnya malas sembari mengetik pesan untuk Manajernya itu. Setelah memasukkan kembali handphonenya ke dalam kantong celana, ia kembali menengok ke arah belakang lalu mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu juga. **** Nindya yang dari tadi sudah berkeliling Cafe kini merasa begitu lelah. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali saja ke tempat duduk asal. Dia duduk di sana dengan wajah begitu lesu. "Loh, Nin, udah nyari Selebnya?" tanya Edo yang dari tadi masih setia duduk di sana sembari main game. "Huuh, iya Do. Kagak nemu juga gue. Males gue nerobos kerumunan sumpah banyak banget orang," jawab Nindya kesal seraya menyenderkan tubuhnya yang lelah ke kursi. Edo yang mendengar pernyataannya hanya tertawa lucu. Nindya ikut merasa lucu pada dirinya sendiri yang tadi terikut penasaran juga dengan sosok Artis yang membuat kehebohan di tempat ini. Namun, saat Nindya dan Edo kembali bersantai. Terlihat kerumunan tadi langsung keluar mengejar sesuatu kembali dan mengikutinya sampai halaman depan. Nindya kembali terkekeh dan melihat ke arah keramaian itu. Terlihat dan terdengar sayup-sayup juga sekarang flas-flash kamera serta suara cekrekan dari memoto para wartawan. "Nah itu Nin, kayaknya Selebnya udah mau pulang tu," kata Edo sambil ikut melihat ke arah keramaian itu. "Eh iya, bener Do?!" sahut Nindya sedikit heboh. Nindya mencoba menengok meninggikan lehernya untuk melihat ke arah kerumunan kalau-kalau Seleb itu kelihatan. Namun, karena begitu banyaknya manusia Yuda tak terlihat hingga sekarang ia sudah berhasil masuk ke mobilnya kembali. Nindya langsung membuang pandangannya sudah lelah. Akhirnya dia tak lagi memperhatikan itu. Edo kembali tertawa melihat tingkah cuek Nindya yang terlihat lucu juga itu. **** Sekarang Nindya dan Aya sudah menjalani masa kuliah setiap harinya. Aya bercerita dengan apa yang terjadi kemarin. "Sumpah Nin, dia itu ganteng bangeet tau gak! Ih! Rugi bangeet lo kemaren gak sempet kaan liat dia?! Aaaa untung gue sempet huu meski sekilas doang liatnya saat dia berlalu pengen masuk mobil," celoteh Aya begitu histeris mengingat Yuda kemarin. Nindya hanya mendengarkannya dengan mata yang terlihat lesu malas. "Huuhh gimana sih orangnya sumpah. Sebenarnya gue penasaran juga kemarin Ya tapii yaa sayang deh... Gue gak sempet liatnya soalnya gue males gak kayak lu... Mau nerobos tu kerumunan," jawab Nindya mendengus sembari membetulkan tas ransel cantiknya. "Yaaahh kaan. Padahal ganteng banget anjirr huuu! Sumpah deh walau sekejap aja gue juga dapet lambaian tangannya sama senyumnya Niin Aaarghh! Huhuu!" jerit Aya sampai mengindikkan kakinya bergaya imut begitu tergila-gila mengingat ketampanan Yuda. "Hedehh iye iyee. Serah lu deh. Emang siapa tuu Seleb?" sahut Nindya malas. "YUDAA, IIH! Masa kamu gak tau padahal kan semua orang heboh kemarin panggil-panggil namanya," ucap Aya mengerutkan alisnya. "Yaaa gue tetep aja gak tau. Mana gue perhatiin orang ribut banget kok gak kedengeran jelas jadinya," jawab Nindya dengan wajah yang malas. "Udah deh kuliah dulu ayo. Mau kuliah benar-benar ah, biar bisa jadi pacarnya Kak Yuda. Jiaakh?!" seru Aya nyengir sangat lucu berharap. "Haha, idiihh ngarep lo, udah ayo," sahut Nindya menatapnya malas begitu lucu melihat tingkahnya. Akhirnya mereka masuk kelas mengikuti pelajaran. * Setelah selesai kelas. Mereka kembali berkumpul dan semakin akrab saja setiap harinya. Namun, mereka masih mengingat hal kemarin dan membicarakannya begitu asyik sampai Edo dan Nindya merasa semakin malas dan tak mood mendengarnya. "Sumpaaah bener ya, Ganteng bangeet anjirr AAA! Gue kemarin kena tangannya loh sedikitt Aargh! Sumpah! Bersih banget mana mulus lagi huu!!" "Siapa kan yang mau nolak kegantengan di luar nalarnya Kak Yuda," "BENER BANGETT, aduhh jadi makin cinta deh!! Baik banget lagi humble orangnya guyss senyum-senyum mulu sama kita! Gimana gak makin cinta! Huuh!!" Mereka terus membicarakan Yuda hingga Nindya dan Edo menggaruk kepala saling menatap bingung satu sama lain karena tak tahu menahu soal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN