"Tanganku! Tanganku mengapa tak bisa menyentuh apapun lagi ??" teriak Hyun berusaha menyentuh apapun namun sayang sentuhannya hanya menembus apa yang dia sentuh.
"Eunbi!! Apa aku tak bisa juga menyentuhnya? Aku harus pastikan sekarang juga" sambung Hyun lalu mencari Eunbi.
"Hyun?? Kau di mana ? Mengapa kau berteriak ? Berisik sekali kau ini" ucap Eunbi yang muncul dari belakang Hyun.
"Eunbi !!" Hyun berlari ke arah Eunbi lalu perlahan menyentuh Eunbi.
Lalu ...
"Ahh !! Syukurlahhhh !! Aku masih bisa menyentuhmu" Hyun memeluk erat Eunbi.
"Yak yak yak kau ini kenapa aisshh" ucap Eunbi melepaskan pelukan Hyun dengan susah payah.
"Tanganku tak bisa menyentuh apapun tadi, itu aneh sekali, dan tadi aku langsung mencarimu namun syukurlah aku masih bisa menyentuhmu" ucap Hyun lalu kembali memeluk Eunbi.
"Benarkah ? Mengapa itu terjadi ?" tanya Eunbi.
"Aku tak tahu, itu terjadi tiba-tiba" jawab Hyun dengan nada bicara yang penuh kekhawatiran.
"Sudahlah yang penting kau masih bisa menyentuhku" ucap Eunbi memeluk Hyun.
"Apa ini pertanda buruk untukku ?" tanya Hyun.
"Yak apa yang kau bicarakan hah ? Tenanglah kau akan baik-baik saja" ucap Eunbi menangkup pipi Hyun.
Ya ... walau Eunbi tak pernah tahu wujud Hyun namun Eunbi sudah bisa mengetahui bagian-bagian dari tubuh Hyun.
Hyun hanya kembali memeluk Eunbi, Eunbi pun membiarkan Hyun tenang di pelukannya.
"Lebih baik kita membereskan kamar, hmm kalau kau sudah tidak bisa menyentuh apapun, cukup temani aku saja" ucap Eunbi menarik Hyun ke kamarnya.
Dan saat mereka memasuki kamar, Hyun memperhatikan pantulan sosok Eunbi di cermin. Hyun menatap dalam Eunbi, lalu dia melihat sedikit ke arah lain, ada yang menyayat hatinya saat itu, saat dirinya melihat tak ada pantulan dirinya di dalam cermin. Ya ... dia tak pernah terlihat walau hanya di dalam cermin.
"Hyun ? Apa yang kau lakukan ? Mengapa kau diam saja ?" tanya Eunbi.
"Eunbi .. hmm sebenarnya apa yang kau dapatkan dariku selama ini ?" tanya Hyun.
"Apa maksudmu ? Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu" tanya Eunbi heran.
"Lihatlah cermin itu, hanya dalam cermin saja aku tidak terlihat olehmu " ucap Hyun dan Eunbi pun menatap cermin dan hanya melihat dirinya.
"Dan sekarang untuk menyentuh pun aku sudah tidak bisa, hari ini aku tak bisa menyentuh apapun selainmu. Besok ? Mungkin saja aku tak bisa menyentuhmu juga. Lusa ? Mungkin aku akan menghilang" sambung Hyun.
"Mengapa kau seperti ini ? Sudah kubilang kau akan baik-baik saja !!" ucap Eunbi penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Eunbi .. apa kau bahagia bersamaku selama ini ? Walau aku hanya seperti ilusi untukmu ?" tanya Hyun mendekati Eunbi.
"Pertanyaan itu tak seharusnya kau tanyakan Hyun. Bila aku tak bahagia, aku tak akan pernah bersemangat di setiap harinya. Kau sudah menjadi semangatku, kau selalu ada saat aku menutup dan membuka mataku, kau selalu ada di sampingku, membuat aku tersenyum, tertawa, bahkan kau selalu membuatku kesal setiap harinya, dan itu semua adalah warna hidup untukku, kau tahu kan ? Warna hidupku sebelum kau datang sangatlah redup, tak ada gairah, monoton dalam menjalani hidup, kesepian. Walau mungkin kau mengatakan bahwa kau hanya ilusi, apa salah bila aku sekarang mengatakan bahwa ilusiku bisa membuat aku bahagia daripada nyataku ? Sekarang apa yang harus aku katakan lagi kepadamu untuk bisa mewakili jawabanku atas kata bahagia itu ?" tutur Eunbi.
"Lalu .. bila aku benar akan menghilang, bagaimana ?" tanya Hyun.
Eunbi terdiam, Eunbi duduk di ujung tempat tidurnya, Eunbi menunduk lalu menghelakan napasnya dalam.
"Kau ingat saat malam itu ? Saat kita berada di tempat itu ? Dari sana kita sudah membicarakan tentang ini bukan ? Maksudku .. kita sudah tahu ini semua pasti akan mendatangkan kesakitan. Namun bila sekarang kau bertanya bagaimana bila kau menghilang ... sungguh sebenarnya aku tak tahu jawabannya. Aku hanya ingin menikmati setiap detikku bersamamu, walau aku hanya bisa menyentuh dan mendengarmu saja, namun kau tahu kan, aku bisa melihatmu dengan hatiku" ucap Eunbi.
Hyun mendengar setiap kata yang dituturkan oleh Eunbi.
"Namun bila aku harus memohon pada Tuhan, aku ingin kau selalu ada di sini, entah itu hanya ilusi, aku sudah bahagia bersamamu" ucap Eunbi tiba-tiba meneteskan air matanya.
Hyun merasa teriris saat Eunbi mengatakan itu dengan tulus.
"Maafkan aku yang tak bisa menjadi nyata untukmu, maafkan aku, karena aku tercipta namun harus berbeda denganmu. Tapi kau harus tahu, aku bersyukur karena kau sudah terlahir sebagai manusia yang indah seperti ini" ucap Hyun menghapus air mata Eunbi yang jatuh di pipinya.
Eunbi menyentuh tangan yang sedang menyentuh pipinya, dia mencium tangan itu lembut dan menggenggamnya.
"Selama kita masih bisa bersama, tetaplah di sini bersamaku" ucap Eunbi.
Saat Eunbi masih menyentuh tangan Hyun, Eunbi merasakan ada yang aneh. Tangan yang dia sentuh seperti perlahan menghilang entah ke mana.
"Hyun ??? Yak !! Kau ke mana ?? Jangan bercanda di saat seperti ini !!" ucap Eunbi saat suara dari Hyun pun tak ada.
Eunbi masih berusaha mencari Hyun dan mencoba memanggilnya. Dia menutup matanya berulang kali agar bisa menemukan keberadaan Hyun namun hasilnya nihil.
Eunbi mulai panik, takut, namun pasrah di waktu yang sama, karena dia tak tahu harus bagaimana, untuk mencari Hyun pun dia tak tahu harus ke mana, Eunbi mulai menangis memanggil nama Hyun.
"Hyun!! Di mana kau !! Aku mohon jangan menghilang seperti ini!!"