Part 7

997 Kata
"Hyun, aku tahu kau berada disini kan ? KATAKAN !!   BRUKK!!   Eunbi terjatuh dari sofa saat mencoba berdiri.   "Ahh" Ringis Eunbi saat terjatuh   Eunbi pun mencoba bangkit namun tubuhnya tak cukup kuat untuk hanya sekedar berdiri. Namun saat Eunbi pun hampir menangis, sebuah dekapan tiba-tiba Eunbi rasakan, menuntun secara perlahan tubuh Eunbi untuk kembali ke sofa, sangat jelas Eunbi merasakan itu.   Dan saat perlahan sentuhan yang Eunbi rasakan mulai terasa akan terlepas ...   "Tunggu .. " dengan menutup matanya Eunbi berhasil meraih satu tangan.   "Benar kan ini kau, Hyun" ucapnya masih dengan menutup mata.   Eunbi bukan hanya meraih tangan, tapi kini Eunbi menariknya, dan saat Eunbi merasa ada tubuh yang sudah berada di dekatnya, dia dekap tubuh itu, ya.. dengan masih menutup matanya.   "Bila kau tak ingin memberitahu keberadaanmu, mengapa kau malah menolongku barusan ?" ucap Eunbi sambil mendekap.   Untuk beberapa saat masih saja tak ada jawaban.   "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke kamar, terimakasih sudah menolongku" ucap Eunbi melepaskan dekapannya dan hendak beranjak pergi walau dengan tubuh yang lemas.   Namun saat Eunbi akan pergi ..   "Aku merindukanmu .." ucap Hyun yang akhirnya bersuara.   Eunbi menghentikan langkahnya.   "Aku tadi hanya takut, takut bila aku bersuara kau akan ... mengusirku lagi" sambung Hyun yang berbicara di belakang Eunbi yang masih mematung.   "Aku merindukanmu" sambung Hyun mengulang ucapannya tadi.   Kali ini dia memeluk Eunbi dari belakang. Eunbi menutup matanya, dia merasakan hangat dan dingin secara bergantian saat tubuh Hyun memeluknya, perlahan Eunbi menyentuh tangan Hyun yang sedang memeluknya.   "Suhu tubuhmu bergantian dengan cepat, artinya kau .." Belum sempat Eunbi menyelesaikan kalimatnya, Hyun membalikkan tubuh Eunbi lalu menangkup wajah mungil Eunbi dan mengecup bibir Eunbi untuk beberapa detik.   "Ya, seperti yang kau bilang dulu, bila aku manusia, saat ini jantungku sedang berdetak lebih cepat dari biasanya, dan ini karenamu" ucap Hyun saat melepaskan kecupannya.   "Dan tolong jangan meneriakiku lagi dengan kalimat aku telah mencuri ciumanmu, karena barusan itu aku tidak mencurinya, tapi aku mengambil ciuman darimu" sambung Hyun yang seakan mengambil ancang-ancang bila Eunbi akan meneriakinya lagi.   "Aku juga merindukanmu, Hyun"   Namun tidak seperti yang Hyun pikirkan, justru saat ini Eunbi malah memeluk Hyun.   "Jadi ? Aku tidak akan diusir kembali ?" tanya Hyun.   "Tidak, temani aku lagi sekarang, jangan pergi lagi" jawab Eunbi yang mengeratkan pelukannya.   "Sungguh ? Yaaahaa aku tidak akan menjadi makhluk sebatang kara lagi di jalanan" riang Hyun sambil membalas pelukan Eunbi tak kalah eratnya.   "Tunggu, jadi tadi yang memecahkan gelas itu kau ?" tanya Eunbi melepaskan pelukannya dan melihat ke arah wajah Hyun walau sebenarnya Eunbi hanya mengira-ngira saja.   "Benar, aku pelakunya" jawab Hyun santai.   "Yak !!!! Gara-gara kau tanganku terluka !!! Dasar hantu m***m !!" teriak Eunbi sambil memukul ke arah tangan Hyun.   "Yak !! Baru saja kau manis kepadaku, sekarang kau mulai meneriakiku lagi, dan kau itu sedang sakit tapi kenapa kau mempunyai tenaga untuk meneriakiku" ucap Hyun.   "Tak ada kata sakit untuk meneriakimu, aku sudah sembuh sekarang" ucap Eunbi memukul-mukul lagi Hyun.   Hyun berlari menghindari, namun bukan Eunbi bila harus menyerah dengan Hyun. Walau dia tak melihatnya dia tetap berlari mencari-cari Hyun, hanya untuk memukulinya.   -------------------------   "Sampai kapan kau murung terus seperti ini Youra" tanya Chul di dekat jendela kamar Youra.   "Sampai kita bisa berbicara dan berteman baik lagi dengan Eunbi" jawab Youra di bawah selimut.   Karena semenjak bertengkar dengan Eunbi, Youra tidak bersemangat untuk melakukan apapun.   "Bagaimana kita akan mempunyai hubungan yang baik lagi dengan Eunbi, bila kita hanya berdiam diri saja seperti ini ? Kau terus saja mengurung dirimu seperti ini" ucap Chul menghampiri Youra lalu  membukakan selimut yang menutupi Youra.   "Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang, Eunbi sudah membenci kita" ucap Youra lalu bersandar pada sandaran tempat tidurnya.   "Hey, biasanya yang pintar mencari solusi itu kau Youra" ucap Chul.   "Aku sungguh tidak bisa berpikir, aku sangat sedih sampai aku tidak bisa berpikir" ucap Youra.   "Bagaimana kalau kita meminta bantuan kedua teman Eunbi yang sering dia ceritakan itu ?" ucap Chul.   "Meminta bantuan apa, sedangkan tahu keberadaan mereka saja kita tidak tahu, mengenal mukanya saja tidak" ucap Youra.   Chul kembali berpikir ...   "Ya sudah kita beranikan diri saja menghampiri Eunbi ke rumahnya, siapa tahu dia sudah tenang sekarang, dan bisa mendengar penjelasan kita" ucap Chul.   "Baiklah, kita coba itu, aku harap dia sudah bisa memaafkan kita, aku tak mau pertemanan kita menjadi seperti ini, apalagi semua itu gara-gara kita yang tak sengaja menyinggung perasaan Eunbi" ucap Youra.   "Sudahlah .. jangan bersedih lagi, sungguh aku tak mau melihatmu seperti ini. Kau tahu kan, aku tak bisa melihatmu sedikit saja bersedih, karena aku begitu men-"   "Men- ? Apa ? Mengapa kau hentikan ucapanmu ?" tanya Youra.   "Ti-Tidak, tidak" ucap Chul tersenyum dengan salah tingkah.   "Lagi, kau berhenti saat akan mengucapkan itu, sampai kapan ? Sampai kapan kita seperti ini ? Apa aku yang harus mengatakan terlebih dahulu kepadamu?" batin Youra menatap Chul.   ---------------------------------   "Sudah ? Bagaimana keadaan Eunbi ?" tanya Areum yang sudah terlebih dulu menunggu kekasihnya itu.   "Sepertinya dia memang kurang sehat" ucap Han.   "Kau memeluknya ?" tanya Areum mendekati wajah Han.   "Seperti yang kau tahu hehe" jawab Han mengangkat pundaknya.   "Hangat ?" tanya Areum yang hanya dijawab dengan anggukan Han.   Areum menunduk ...   "Tapi memelukmu itu jauh lebih hangat" ucap Han merangkul Areum dari samping.   Areum masih menunduk.   "Hey, jangan seperti itu, hmm jangan membuatku seperti orang yang bersalah" ucap Han mengelus puncak kepala Areum.   Namun Areum tetap saja tak bergumam.   "Kau ini kenapa sebenarnya ? Apa kau mau pulang ? Bila benar, kau pulang saja, berkumpullah dengan keluargamu kembali" ucap Han saat Areum terus menunduk.   "Tidak, aku tak mau pulang, aku ingin bersamamu, aku tadi sudah melihat orangtuaku. Aku hanya rindu, tapi aku tak mau pulang" ucap Areum akhirnya memeluk Han.   "Terimakasih, telah mengorbankan segalanya untukku, maafkan aku bila kau harus seperti ini hanya karena ingin bersamaku" ucap Han.   ''Sudah jangan bahas itu lagi, aku sangat mencintaimu" ucap Areum.   "Begitu pula aku, namun bahkan rasa cintaku memang tak akan cukup untuk membalasmu, kau telah memberikan segalanya untukku" ucap Han mengelus kedua pipi Areum.   Areum meneteskan air matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN