Part 4

2103 Kata
Tirai kamar perlahan terbuka, memberi jalan cahaya sang matahari untuk memasuki sebuah kamar. Bertugas membangunkan gadis cantik yang masih bermain bersama mimpinya, tirai terbuka bukan tanpa pelakunya. Makhluk yang kini sudah mempunyai nama dengan lembut membukanya. Beberapa detik kemudian pun gadis cantik itu terbangun dengan masih memasang wajah sayunya. "Selamat pagi .. Apa kau tidak bermimpi buruk lagi setelah itu ?" ucap Hyun entah di mana. "Hmm ? Hoammmm .. tidak, bahkan aku lupa aku sudah bermimpi apa semalam itu" ucap Eunbi dengan meregangkan otot-ototnya. "Ya syukurlah .. Biar hanya mimpi indahmu saja yang kau ingat ya" sambung Hyun. "Sebentar .. Kau berada dimana sekarang ?" tanya Eunbi melirik kanan kiri. "Coba mulai sekarang biasakan dirimu untuk bisa mengetahui keberadaanku" ucap Hyun. "Untuk apa aku membiasakannya ?" tanya Eunbi. "Kau ini bagaimana, tadi kau bertanya keberadaanku, tapi sekarang kau bertanya untuk apa, hmm .. tidak untuk apa-apa sebenarnya, namun mungkin dengan itu kita bisa benar-benar berkomunikasi dengan baik, tapi .. ya sudahlah, kau cukup dengar saja suaraku, tak usah peduli di mana posisiku" ucap Hyun. "Hmm tunggu .. biar aku tebak sekarang posisi kau berada di mana" ucap Eunbi menutup mata. "Mengapa kau menutup mata ?" tanya Hyun. "Agar aku bisa menebak di mana dirimu, karena saat kita menutup mata, saat itu pula mata ati kita terbuka. Aku akan melihatmu dengan mata hatiku" jawab Eunbi. Tanpa Eunbi tahu, Hyun tersenyum saat Eunbi berkata itu. Eunbi menutup mata beberapa saat fokus dengan arah kepala yang perlahan bergerak menoleh ke kanan dan ke kiri. "Kau .. kauuu berada di sini .." ucap Eunbi mengarahkan telapak tangannya ke salah satu arah. "Woahhh .. luar biasa .. tepat sekali kau menyentuh tepat di jantungku" ucap Hyun yang takjub karena Eunbi dengan tepat menebak keberadaan Hyun. "Memangnya kau punya jantung ?" tanya Eunbi. "Hehe .. aku tidak tahu, tapi bila aku manusia, posisi tanganmu ini memang tepat di depan jantungku. Coba sentuh saja, tak ada detaknya kan ? Tak seperti kau yang mempunyai detak" ucap Hyun. "Hmm bukankah itu bagus ? Artinya kau bisa hidup selamanya, tak seperti manusia yang akan mempunyai batas waktu untuk hidup" ucap Eunbi menurunkan tangannya. "Tapi tidak seperti itu. Mungkin makhluk sepertiku pun mempunyai batas waktu. Aku tidak yakin namun dulu aku pernah melihat, mungkin dia makhluk yang sama sepertiku, dia tiba-tiba terangkat ke atas dengan sebuah cahaya putih, sangat menyilaukan, yang perlahan tubuhnya menghilang entah ke mana hilang bersama cahaya itu. Aku tidak mengerti tentang itu, aku hanya melihat itu saja" ucap Hyun. "Memangnya kau tidak bertanya kepada yang lain ? Maksudku apa kau tidak mempunyai teman ?" tanya Eunbi. "Sebenarnya sulit untukku membedakan, mana manusia, mana makhluk yang sama sepertiku. Semua terlihat sama saja, jadi aku pun tidak tahu harus bertanya pada yang mana" jawab Hyun. "Dan kemarin malam kenapa kau bisa memukul para penjahat itu ? Bukankah kau tak bisa menyentuh manusia ? Hmm ya walau kau bisa menyentuhku" ucap Eunbi. "Itu karena aku menyelamatkanmu. Dulu aku pernah melihat seorang ibu tua yang menyeberang, namun dari arah lain ada mobil yang akan menabraknya. Di sana aku spontan menyentuhnya dan bisa menyelamatkannya. Dari sana aku berpikir, aku bisa menyentuh manusia bila aku mempunyai niat yang baik, dan ternyata itu benar, buktinya aku bisa memukul para penjahat itu untuk menyelamatkanmu" ucap Hyun. "Ah mungkin kau ini memang semacam malaikat pelindung ? Atau .. ah sudahlah, yang terpenting kau tidak berbahaya untukku" ucap Eunbi lalu turun dari tempat tidurnya. Dan saat Eunbi hendak melangkah tiba-tiba ada yang menarik tangan Eunbi, ya .. tangannya ditarik oleh tangan Hyun. "Bila aku semacam malaikat pelindung, aku hanya akan melindungimu. Sudah kubilang, aku akan selalu melindungimu sekarang" ucap Hyun. Eunbi melihat ke arah tangannya, satu tangan Eunbi mencoba menyentuh sesuatu yang menyentuhnya, dan dia pun berhasil menyentuh dan merasakannya. Lalu dia perlahan membalas sentuhannya, Eunbi juga menutup matanya. "Tanganmu .. terkadang terasa hangat, namun juga terkadang dingin. Mungkin ini semacam detak pada manusia, bila manusia mempunyai detak, kau mempunyai suhu dingin dan hangat secara bergantian" ucap Eunbi menganalisa. "Benarkah ?" tanya Hyun. "Dan sebentar .. suhunya saat ini berganti semakin cepat, apa ini tandanya kau ... seperti jantung manusia yang sedang berdetak lebih cepat ?" ucap Eunbi terus menganalisa segala sesuatu yang ada pada diri Hyun. "Mungkin saja benar, karena saat ini .. aku merasakan apa yang belum pernah aku rasakan. Itu tepat pada saat kau menyentuh tanganku seperti ini Eunbi. Mungkin bila aku manusia, aku sedang merasakan getaran yang tak biasa saat disentuh olehmu" ucap Hyun. Dan saat Hyun berbicara seperti itu, Eunbi membuka matanya, dan melepaskan tangannya. Dia membalikkan badannya lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Eunbi mengunci pintu kamar mandi lalu bersandar pada pintunya. Eunbi mengangkat kedua tangannya, ditatapnya dalam-dalam. "Hah !! Apa lagi itu ? Aku tadi hanya berniat menganalisa makhluk itu, namun kenapa dia berkata seperti itu ? Dan kata-katanya mengapa selalu terdengar indah, bahkan aku belum pernah mendengar itu sebelumnya dari seseorang" batin Eunbi. Cukup lama ia berdiam diri di dalam kamar mandi, namun dia pun tersadar dan segera membersihkan tubuhnya untuk segera beraktifitas. "Dia seperti penerang jalanku. Entah mengapa aku sangat bahagia saat ini, bahkan aku pun tak tahu sebelumnya bagaimana itu bahagia, aku hanya mendengar kata bahagia itu dari manusia-manusia yang sedang berbicara, dan mungkin ini yang dinamakan bahagia ? Dia memberiku nama, dia mau menerima kehadiranku walau awalnya dia seperti tidak mau aku berada di sini, namun aku merasakan bahwa dia manusia yang sangat tulus. Dia bahkan pintar menganalisa segala apa yang ada pada diriku" batin Hyun berbicara sambil menunggu Eunbi keluar dari kamar mandi. "Eunbi .. Apa kau sudah bangun ?" ucap seseorang di luar pintu kamar. "Ah mungkin dia sedang mandi, kita masuk saja" ucap satu orang berbeda lagi dengan membuka pintu kamar Eunbi. Mereka berdua masuk ke dalam kamar Eunbi, satu orang langsung duduk di tempat tidur Eunbi, satu orang lagi duduk di sofa kamar. "Chul ? Youra ? Sejak kapan kalian di sini" ucap Eunbi keluar kamar mandi dan melihat kedua temannya sudah berada di dalam kamarnya. "Baru saja, oh ya, tak biasanya kau bangun lebih pagi ? Apa sudah ada orang yang menelpon untuk membangunkanmu ? Haha" ucap Chul dengan sedikit meledek. "Kau berbicara apa, yaaaa tapi memang ada yang membangunkanku" ucap Eunbi tanpa sadar. "Benarkah ? Kau sudah membuka hati mu untuk orang lain ?" ucap Youra. "Hah ? Eh ? Memangnya apa yang sudah aku katakan tadi ?" ucap Eunbi. "Kau mengatakan bahwa memang sudah ada yang membangunkanmu" ucap Chul. "Hah ? Ah, ti-tidak, kau salah dengar mungkin, sudahlah, untuk apa kalian kemari" ucap Eunbi mengalihkan pembicaraan. "Kita ingin mengajakmu untuk pergi ke taman hiburan. Youra yang menginginkannya, aku hanya menemaninya saja" ucap Chul. "Iya, tiba-tiba saja aku ingin menaiki wahana-wahana seperti itu, kau mau kan ?" tanya Youra. "Ah tentu saja, aku juga sudah lama tak bermain di sana" ucap Eunbi senang. Tak lama kemudian mereka pun pergi ke taman hiburan bersama menaiki mobil Chul, dan tentunya Hyun tetap mengikuti Eunbi. Dan saat di dalam mobil, Youra duduk di depan bersama Chul yang sedang menyetir. Youra memperhatikan posisi duduk Eunbi dari kaca mobil, dia merasa ada yang aneh dengan Eunbi. "Eunbi ? Kau ini kenapa, kenapa kau duduk di pojok seperti itu ? Biasanya kau duduk di tengah-tengah" ucap Youra akhirnya bertanya. "Ah kau yang aneh, perihal tempat dudukku saja masa kau bilang aneh" ucap Eunbi. "Yak .. kita berteman sudah lama, aku sudah sangat tahu kebiasaanmu. Aku perhatikan kau pun sering tersenyum sendiri daritadi" ucap Youra semakin membuat Eunbi canggung. ''Sudahlah, mungkin dia sedang kasmaran" ucap Chul. Youra menatap Eunbi, lalu kembali menatap ke arah depan dengan masih merasa aneh. Youra memang orang yang selalu peka terhadap orang lain, sampai ada hal yang berbeda dari temannya, Youra pasti mengetahuinya. Eunbi terlihat salah tingkah dan bahkan tak bisa menjawab lagi apa yang ditanyakan Youra. "Untung saja Chul berbicara bahwa aku sedang kasmaran, aku tadi tak tahu harus menjawab apa. Dudukku seperti ini karena ada Hyun yang duduk di sampingku, dan tadi memang aku sering tersenyum karena Hyun bercerita tentang banyak hal, namun karena aku tak mungkin menjawabnya, aku hanya tersenyum" batin Eunbi. "Mengapa Youra begitu peka terhadap Eunbi. Niatku berbicara dengannya agar Eunbi tak merasa bosan saja, jadi aku pun banyak bercerita tentang pengalamanku semenjak aku hidup di lingkungan manusia. Aku jadi merasa bersalah, sekarang Eunbi menjadi bingung seperti itu, tapi tadi pun aku berbicara kepada Eunbi, agar hanya mendengarkanku saja, namun entah mengapa dia selalu tersenyum, dan itu malah membuatku semakin bersemangat menceritakan segala hal, hanya karena .. ingin melihatnya tersenyum" batin Hyun. Mereka sampai di tempat tujuan. Mereka bertiga dan Hyun tentunya mulai menaiki dan menikmati satu persatu wahananya, namun saat mereka selesai menaiki salah satu wahana yang cukup ekstrim, Youra terlihat langsung menenangkan Chul karena Chul terlihat shock setelah menaiki wahana itu. Chul memang takut dengan ketinggian. Di tengah Youra menenangkan Chul, Youra tak sengaja melihat dan mendengar Eunbi tertawa sendiri. "Yak !! Hahaha apa makhluk sepertimu bisa merasakan pusing ? Menaiki itu saja kau pusing ? Hahahaha aneh sekali kau ini" ucap Eunbi kepada Hyun sambil terlihat membawa sebuah minuman dan menghampiri Youra dan Chul. "Ini aku belikan minum untuk kalian" ucap Eunbi lalu menyodorkan minuman. "Eunbi ? Kau tadi berbicara dengan siapa ?" tanya Youra. "Berbicara apa ? Ti-Tidak, aku sendiri, kau ini kenapa selalu bertanya yang aneh kepadaku" ucap Eunbi. Youra mengerutkan keningnya, melihat gerak gerik Eunbi yang semakin mencurigakan untuknya. "Sudah ayo pulang saja, kalian ribut sekali. Kita pulang saja ya, sudah sore, dan aku sudah tak ingin menaiki wahana apapun" ucap Chul lalu berdiri. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Chul dan Youra mengantarkan Eunbi terlebih dahulu, lalu Eunbi pun berpamitan sebelum menutup pintu mobil. Dan saat di perjalanan ... "Chul, kau tadi perhatikan cara Eunbi turun dari mobilmu tidak ? Dia biasanya selalu keluar dan membuka pintu yang kanan, tapi tadi dia membuka pintu kiri, lalu dia seperti menunggu sesuatu sebelum berpamitan kepada kita" ucap Youra. "Kau ini, daritadi selalu berbicara aneh, namun .. hmmm untuk yang tadi memang benar, tak biasanya Eunbi seperti itu" ucap Chul. "Aku hanya khawatir saja kepadanya. Apa ada yang menganggu pikirannya sampai dia seperti itu?" ucap Youra. "Hm bagaimana kalau besok kita kembali ke rumah Eunbi, bilang saja kita ingin di rumahnya untuk beberapa hari. Dari sana kita selidiki, bila ada sesuatu hal yang aneh terjadi, mungkin kita harus pikirkan rencana selanjutnya" sambung Chul. "Sebagai temannya kita harus menjaganya selalu, terlebih Eunbi selalu sendiri karena orangtuanya berada di luar negeri, dan sampai sekarang Eunbi masih belum saja membuka hati untuk seseorang. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi ?" ucap Youra. "Kau benar, hanya kita yang dia punya. Adapun dua orang temannya yang pernah dia ceritakan, kita pun belum tahu mereka siapa. Lagipula mereka mungkin tidak sepeduli seperti kita peduli kepadanya" ucap Chul. "Baiklah besok kita mulai mencari tahu" sambung Youra diikuti anggukan Chul. "Eunbi .. maafkan aku bila hari ini beberapa kali membuatmu di pandang aneh oleh temanmu" ucap Hyun yang berada di belakang Eunbi. "Mungkin aku saja yang kurang berhati-hati, atau aku belum terbiasa mengontrol diriku saat aku bersamamu, tak apa-apa jangan dipikirkan" ucap Eunbi yang sedang duduk di depan televisi. "Benarkah kau tidak apa-apa ?" tanya Hyun lalu ikut duduk di samping Eunbi. "Iyaaa tak usaha cerewet, hoaamm aku lelah" ucap Eunbi lalu menidurkan dirinya di atas sofa atau lebih tepatnya lagi kini dia berada di atas paha Hyun. "Eh apa ini ? Apa kau duduk di sini ? Ini kakimu ?" tanya Eunbi. "Iya ini kakiku, tak apa jangan bangun, kau lelah kan ? Istirahatlah, aku akan menjagamu" ucap Hyun menahan Eunbi saat Eunbi hendak bangun. "Tidak aku hanya ingin tiduran di sini, aku ingin menonton tv sebentar saja" ucap Eunbi. Namun ucapan Eunbi tadi tak berlaku lama , karena beberapa menit kemudian, Eunbi malah terlelap di atas paha Hyun. Hyun pun dengan senang hati memberi kenyamanan padanya. Dibuatnya Eunbi terlelap dengan nyenyak, dan karena suhu malam saat itu semakin lama semakin dingin, Hyun memindahkan Eunbi ke kamarnya. Dia menggendong Eunbi menuju kamarnya. Sungguh saat ini Eunbi sedang melayang apabila dilihat oleh mata manusia biasa. Hyun menyelimuti Eunbi, memposisikan tidur Eunbi dengan hati-hati sampai Eunbi sama sekali tak terbangun. Hyun kini benar-benar seperti malaikat pelindung untuk Eunbi. "Semakin lama, rasa ini semakin tak wajar. Kenapa aku pun bertingkah seperti layaknya manusia, sudah tak cukup tahu dirikah aku saat ini ? Namun, apa salah bila aku seperti ini ? Semakin lama aku bersamamu, rasa aneh itu semakin nyata terasa. Rasa apa itu ? Apa ini yang manusia sering katakan dengan ... cinta ?? Hey Eunbi .. Apa benar aku telah mencintaimu ?" batin Hyun sambil menatap dalam wajah Eunbi yang sedang tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN