Part 5

2002 Kata
"Youra ingat ya, kau tak usah terlalu memperlihatkan bahwa kita akan menyelidiki Eunbi, kau bersikap biasa saja jangan membuat dia curiga, kita menjaga agar dia tidak tersinggung" ucap Chul.   "Baiklah aku akan lebih berhati-hati dengan sikapku" ucap Youra.   Youra dan Chul yang berada di dalam mobil sebelum turun menuju rumah Eunbi mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan untuk di bawa masuk ke rumah Eunbi, hanya beberapa keperluan menginap yang mereka bawa. Mereka lalu masuk dan seperti biasa langsung menuju kamar Eunbi, namun sebelum mereka akan memanggil Eunbi, tepatnya saat mereka berada di depan pintu kamar ...   "Yak !! Kembalikan handphoneku !! Yakk cepat kembalikan !! Atau akan kupukuli kau!!"   Youra dan Chul mendengar suara Eunbi yang berada di dalam kamar.   "Chul... Eunbi bersama siapa di dalam kamar ?" tanya Youra.   "Jangan-jangan ada penjahat yang akan merampok Eunbi ? Kita masuk saja cepat" ucap Chul.   Mereka pun tanpa aba-aba membuka pintu kamar Eunbi dengan keras dan panik.   "Eunbi kau tak ap- .."   Youra dan Chul saling menatap lalu kembali menatap Eunbi bersamaan dan melihat-lihat sekeliling kamar Eunbi.   "Eunbk ? Kau tadi berbicara dengan siapa ? Di sini tidak ada orang" ucap Chul masih melihat seluruh ruangan.   "A-Ah tidak ada, a-aku ..  aku hanya sedang ... aku sedang menelpon temanku, i-iya aku menelpon temanku tadi, hmm lalu mengapa tiba-tiba kalian ada di sini ? Dan itu .. mengapa kalian membawa tas besar" ucap Eunbi sangat terbata-bata dan berusaha untuk mengalihkan perhatian dan pembicaraan.   "Ki-Kita akan menginap di rumahmu. Bukankah begitu Youra ? Uhuk .. bukankah begituuu ? Youra ?? Yak Youra !! Benar kan kita akan menginap di rumah Eunbi ?" ucap Chul pada Youra yang tidak merespon ucapan Chul karena masih terfokus pada Eunbi.   "Hah ? I-Iya .. kita akan menginap di rumahmu untuk beberapa hari, hehe boleh kan ? Orangtuaku ke luar kota untuk beberapa hari, jadi aku menghubungi Chul untuk menemaniku, dan Chul akhirnya mengajakku untuk menginap saja di rumahmu, hitung-hitung mengingat masa saat kita masih sekolah dahulu" ucap Youra.   Eunbi awalnya merasa curiga dan merasa ada yang aneh, namun karena Eunbi tidak ingin mencurigai temannya sendiri tanpa sebuah alasan, dia akhirnya mengabaikan kecurigaannya itu, lalu dengan senang hati dia menerima kedatangan mereka. Mereka pun hendak membereskan barang-barang mereka di kamar Eunbi, namun belum sempat mereka bereskan, Eunbi melarang mereka membereskan atau menyimpan barang di kamarnya.   "Kalian tidur saja di kamar sebelah, bagaimana ? Jadi sekarang kalian langsung saja bereskan barang kalian di sana" ucap Eunbi sambil mencoba membantu membawakan tas Youra dan Chul.   "Memangnya kenapa ? Bukankah dari dulu kau selalu menyuruh kami tidur di sini bila kami menginap ? Katamu agar kau tak tidur sendirian lagi" tanya Chul.   "I-Itu kan dulu, sekarang aku sudah lebih dewasa, aku sudah tak takut tidur sendirian, bahkan sekarang aku sudah biasa sendiri. Lagipula bila kalian di sini akan lebih terasa sempit bukan ? Bila kalian di kamar sebelah, itu akan lebih membuat kalian nyaman" jawab Eunbi berusaha memberi alasan terbaik.   "Ah begitu, baiklah .. ya sudah Chul ayo kita bereskan dulu barang-barang kita" ucap Youra mengajak Chul.   Setelah itu mereka pun menuruti apa yang di sarankan oleh Eunbi, Eunbi pun mengantar mereka ke kamar yang berada di sebelahnya dan segera kembali ke kamarnya.   "Kau benar Youra, ada sesuatu yang aneh pada diri Eunbi sekarang, dia aneh sekali hari ini, ini tidak seperti dia yang biasanya" ucap Chul dengan wajah yang serius.   "Sudah kubilang kan, hatiku tak pernah salah, apalagi itu tentang Eunbi. Dari dulu aku selalu tahu bila Eunbi sedang sedih, bahagia atau hal yang lainnya yang dia sembunyikan, aku selalu tahu itu" ucap Youra.   "Ya sudah kita lihat saja nanti apa lagi yang akan terjadi" sambung Chul lalu mereka pun mulai membereskan barang-barang mereka.   "Mengapa kau menyuruh mereka tidur di kamar sebelah ? Padahal tempat tidurmu pun cukup menampung mereka bukan ?" tanya Hyun saat Eunbi baru memasuki kamar.   "Sudahlah kau jangan banyak bertanya, dan tadi !! Mengapa kau begitu ingin melihat handphoneku !" ucap Eunbi.   "Hehe maafkan aku, tadi aku melihatmu berfoto menggunakan handphone itu, aku ingin mencobanya, tapi mengapa wajahku tak nampak ya ?" ucap Hyun polos.   "Hahahaha kau mengambil handphoneku karena kau ingin berfoto juga ? Memangnya wajahmu seperti apa sampai kau ingin berfoto ??" ledek Eunbi.   "Yak !! Asal kau tahu saja ya, seandainya kau bisa melihat wajahku ini, aku yakin untuk bernapas saja kau sulit karena melihat fisikku yang sempurna ini, kau akan langsung tergila-gila padaku kau tahu ?" ucap Hyun dengan percaya diri yang diikuti oleh tawa Eunbi.   "Hahaha aish kepercayaan dirimu tinggi sekali ya, tapi sayangnya aku tak percaya hahaha" ledek Eunbi yang membuat Hyun kesal lalu tiba-tiba Hyun menghampiri Eunbi.   Posisi Hyun menjadi sangat dekat, lalu Hyun memegang kedua bahu Eunbi dengan kuat sampai Eunbi sulit bergerak.   "Y-Yak !! Mau apa kau ??" tanya Eunbi.   "Tutup matamu" singkat Hyun.   "Untuk ap ka- ..."   Tiba-tiba mata Eunbi tertutup karena ada tangan yang sengaja menutupi matanya.   "Apa kau bisa merasakan aku ? Atau membayangkan bagaimana wajahku" tanya Hyun yang masih menutup mata Eunbi dengan tangannya.   Beberapa saat Eunbi terdiam ..   "Aku ... Aku hanya bisa merasakan tubuhmu saat ini, kau mempunyai postur tubuh yang sangat tinggi, tapi maaf aku belum bisa membayangkan wajahmu seperti apa" jawab Eunbi lalu Eunbi melepaskan tangan yang menutupi matanya dan berjalan melewati Hyun.   "Jelas kau tidak bisa membayangkannya, karena tidak akan ada manusia yang mempunyai wajah sesempurnaku, jadi untuk membayangkannya saja kau tidak mampu" ucap Hyun dengan masih memegang teguh kepercayaan dirinya.   "Bukan karena itu, tapi .. selama ini memang tak pernah ada yang mampu memasuki pikiranku .. selain dia, bahkan saat aku menutup mataku tadi, hanya wajahnya yang ada di pikiranku, walau mungkin dia saja tak pernah memikirkanku" batin Eunbi.   Hyun yang melihat Eunbi sedang menatap dengan tatapan kosong menghampiri Eunbi kembali.   "Apa yang sedang kau [ikirkan ? Mengapa kau tiba-tiba melamun seperti ini, apa aku salah ? Atau ada yang mengganggu pikiranmu ?" tanya Hyun namun tak ada jawaban dari Eunbi.   "Bila ada sesuatu, jangan kau ragu untuk menceritakannya kepadaku. Walau aku tak terlihat olehmu, namun aku bisa melihat dan mendengarmu, dan kau pun bisa mendengarku. Jadi anggaplah aku temanmu yang bisa kau bagi cerita, percayalah aku bisa di andalkan, aku akan selalu berada di sisimu" ucap Hyun.   Eunbi mendengarkan kata-kata Hyun, Eunbi menatap ke arah dimana Hyun berada, tepatnya di samping kanannya.   "Terimakasih Hyun, karena sudah selalu berusaha menjadi sesuatu yang baik untukku" ucap Eunbi.   "Tunggu .. kau sudah tak salah lagi memposisikan dirimu denganku, posisimu sudah benar sekarang" ucap Hyun karena Eunbi berbicara tepat menghadap Hyun.   "Tentu saja, sekarang aku sudah terbiasa denganmu, aku sudah bisa tahu keberadaanmu" ucap Eunbi tersenyum.   "Ah senyum itu lagi, mengapa senyum itu harus terlihat sedekat ini" batin Hyun saat Eunbi mengukirkan senyumannya.   Dan tanpa sepengetahuan Eunbi dan Hyun, kedua orang yang sedari tadi berada di depan pintu kamar mendengarkan segala apa yang di bicarakan oleh Eunbi. Ya .. Youra dan Chul mendengarkan dari luar saat Eunbi terdengar seperti berbicara sendiri, tidak ada pergerakan atau suara dari mereka, Youra dan Chul hanya saling pandang, bahkan setelahnya Youra berjalan memasuki kamarnya lalu disusul oleh Chul.   "Yak kau kenapa?" tanya Chul saat melihat Youra tertunduk dan terlihat menangis.   "Dia .. ada apa dengannya Chul ? Mengapa dia seperti ini, apa yang membuat dia seperti ini" ucap Youra.   "Aku juga tidak tahu .. apa karena dia mengalami depresi ? Karena selama ini dia selalu sendiri, lalu dia menjadi .."   "Cukup jangan kau teruskan" ucap Youra menahan isak tangisnya.   "Lalu kita harus bagaimana ? Kita pun tidak bisa membiarkannya seperti ini, kita harus menolongnya" sambung Chul.   "Apa yang bisa Kita lakukan ?" tanya Youra.   "Hmm .. mungkin bagaimana bila kita membawa dia ke psikiater saja" jawab Chul.   "Bagaimana caranya ? Kau tahu pasti itu akan membuatnya tersinggung" ucap Youra.   "Kita tunggu waktu yang tepat saja" sambung Chul.   Beberapa hari pun berlalu, Youra dan Chul masih tinggal di rumah Eunbi. Banyak hal aneh yang selalu mereka lihat dan dengar, sedangkan Eunbi dan Hyun yang semakin terbiasa bersama di setiap waktunya menjadikan mereka seolah benar-benar bisa saling melihat satu sama lain layaknya sesama manusia, sampai satu waktu di saat Eunbi, Chul dan Youra mengobrol di kamar Eunbi . .   "Eunbi .. hmm .. ada sesuatu yang ingin kita katakan, kita sudah memikirkan ini cukup lama" ucap Chul mengawali.   "Katakan saja" ucap Eunbi santai.   "Eunbi .. sudah beberapa hari ini kita memperhatikanmu, bahkan sebelum kita kemari kita sudah menemukan banyak keanehan dari dalam dirimu" ucap Youra.   "Kita tidak bermaksud atau bahkan berniat buruk kepadamu, kita hanya tidak mau kau seperti ini" sambung Chul.   "Lalu maksud kalian apa ?" tanya Eunbi serius.   "Eunbi.. emm .. hmm .. ki-kita ingin .. ingin mengajakmu ke psikiater" ucap Youra ragu dan takut.   "Apa ?? Psi-Psikiater ??? Kalian bercanda ya hahaha" ucap Eunbi masih biasa saja.   "Tidak, Eunbi kita tidak bercanda" ucap Chul serius.   "Kalian serius ?? Kalian pikir aku gila hah ??" bentak Eunbi sambil berdiri.   "Bu-Bukan begitu Eunbi, sudah kubilang kita tak berniat buruk, kita pun beberapa hari ini sengaja ke rumahmu untuk mengetahui tentangmu, kita hanya ingin menjagamu" ucap Chul ikut berdiri dan mencoba membuat Eunbi tidak emosi.   "Sebentar .. sengaja ? Sengaja kau bilang ?? Oh .. ternyata selain kalian menganggapku gila, kalian sudah berbohong kepadaku, kalian bilang ke sini karena orang tua Youra pergi, ternyata hanya untuk ini ?? Untuk alasan yang konyol ini ???" ucap Eunbi semakin marah.   "Eunbi tolong jangan seperti ini, kita melakukan ini ka-"   "KELUAR !! Keluar dari rumahku sekarang juga !!" Eunbi memotong ucapan Youra.   "Eunbi !! Tolong dengarkan kita dulu !! Kita seperti ini karena kita peduli kepadamu !! Bila kita tak peduli, kita tak akan melakukan ini, tolong hargai sedikit !!" ucap Chul yang ikut tersulut emosi.   "Peduli ? Menganggap teman sendiri gila itu bentuk kepedulian kalian ? Baiklah jangan lagi anggap aku teman kalian !! Dan cukup pergi dari sini sekarang juga !!" teriak Eunbi kembali.   Youra dan Chul hanya terdiam, Eunbi pun keluar dari kamarnya lalu masuk ke dalam kamar Youra dan Chul lalu membereskan secara kasar barang-barang mereka, lalu dibawanya barang-barang itu keluar dari dalam kamar dan kembali memerintah Youra dan Chul untuk keluar dari rumahnya. Youra dan Chul pun akhirnya menuruti Eunbi yang sedang dibakar emosi lalu pergi meninggalkan rumah Eunbi dan langsung menaiki mobil.   "Mengapa malah berakhir seperti ini ? Apa langkah kita salah ?" ucap Youra menangis di dalam mobil.   "Tidak, tidak ada yang salah di sini. Sudah jangan menangis, kita biarkan dia tenang dahulu, nanti kita bicara lagi kepadanya saat keadaan dia sudah membaik" Ucap Chul menenangkan Youra lalu melajukan mobilnya. "Mengapa kalian begitu tega kepadaku !! Kalian temanku yang paling dekat denganku tapi mengapa kalian tega menganggap aku gila !" Ucap Eunbi di dalam kamarnya dengan melemparkan bantal dan gulingnya.   "Eunbi ... kau tidak apa-apa ? Su-sudah tenanglah" Ucap Hyun namun tak mendapat respon dari Eunbi.   "Eunbi .. jangan menangis, mungkin maksud mereka tak seburuk itu, mereka hanya ped- .."   "DIAM!! Ini pun semua gara-gara kau !! Gara-gara kau aku dianggap gila!! Gara-gara kau aku bertengkar dengan kedua teman terdekatku !! Gara-gara kau hidupku memang seperti tidak normal !! Dan sekarang lebih baik kau pergi !!" ucap Eunbi yang juga mengusir Hyun.   "Tapi Eunbi .."   "PERGI !!!"   Hyun pun terdiam sejenak lalu akhirnya Hyun perlahan melangkah meninggalkan Eunbi sendiri. Eunbi yang masih menangis dan emosi di waktu yang sama hanya bisa menyendiri di dalam kamarnya. Hyun pun sudah berada di luar rumah, menatap ke arah rumah Eunbi.   "Maafkan aku, mungkin memang karena kehadiranku, kau mengalami semua ini. Aku tak tahu akan seperti ini, aku tak menyangka bisa membuatmu sedih dan menangis seperti ini. Baiklah aku pergi ... mungkin memang tempatku bukan di sini, bukan untuk dekat bersama manusia sepertimu, sudah seharusnya aku tahu diri, maafkan aku .." batin Hyun lalu pergi.   Hyun berjalan jauh dari sana, kembali hanya menyusuri sepanjang jalanan kota, melihat segerombolan manusia-manusia yang tak bisa dia ajak bicara, berada di tengah-tengah kegiatan para manusia yang setiap harinya seperti itu. Kembali .. Hyun hanya menjadi makhluk yang hidup sendiri, yang tak pernah tahu untuk apa dia hidup dan untuk apa dia diciptakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN