Pablo berjalan hanya terdiam di bilik rumah kecil itu. Rumah yang sengaja ia bangun di depan bangunan utamanya yang besar. Berisi dua kamar dengan satu petak ruang tamu dengan satu set sofa lengkap di tengah-tengahnya. Ia duduk di sana. Menyadarkan punggungnya yang lelah. Menengadahkan wajahnya, menatap kosong langit-langit kamar yang polos. Sebelum beberapa detik kemudian terpejam. Asap putih dari bakaran rokok membumbung dari apitan jarinya. Dadanya sesak, bukan oleh asap rokok melainkan seseorang di dalam salah satu kamar itu. Orang yang tengah dikerumuni tiga dokter pribadinya. Dalam sekejap terdengar suara pendeteksi jantung. Bunyi ‘bip’ panjang mulai terdengar. Berirama, dengan intensitas detak jantung yang lambat. “Kenapa? Kenapa harus Senja? Kenapa tidak aku saja?” Pablo mul

