Kalimat yang meluncur dari bibir Elle barusan seketika mengerutkan kening Markus. Hitam bola matanya menyorot tajam ke arah Elle yang masih mendiamkan panggilan itu. Membiarkan ponselnya menderu, meraung melantunkan nada dering. “Apa yang harus kulakukan? Cepat!” Elle mendesak Markus yang ada di sebelahnya. “Apalagi, buruan angkat!” Markus mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ponsel yang masih menampilkan gambar panggilan di tangan kekasihnya itu. “Loudspeaker, aku pengen denger dia ngomong apa.” Elle mengangguk mantap. Ujung jari telunjuknya bergerak, tanpa ragu menggeser bulatan hijau ke atas. Tak lupa menyalakan pengeras suara. “Ha ... hallo, Jendral Dwine. Dengan Elle di sini ada yang bisa saya bantu?” “Hahahaha ... Elle, selamat sore sersan. Di mana kamu sekarang?” Pria itu

