“Kenapa? Kenapa harus namanya?” Markus menggelengkan kepalanya. Berusaha mengusir nama, wajah dan paras gadis itu yang tiba-tiba muncul begitu saja di dalam kepalanya. “Huufffffttt ... !!! Kenapa, Rish? Kenapa? Kenapa kau harus ikut di dalam dunia yang seperti ini? Kenapa harus kamu? Ini semua akan jadi mudah seandainya kamu tidak ikut campur!” Melamun, lagi dan lagi, entah sudah ke berapa kalinya sejak tubuhnya diseret masuk oleh papanya ke dalam ruangan ini. Matanya mengawang kosong tembok putih tulang di depan sana. Sementara isi kepalanya? Entah ke mana. Markus tidak bisa berpikir jernih sekarang. Kepalanya sudah sesak memikirkan rencananya yang carut marut. Belum lagi urusan papanya yang bersikeras memihak Pablo. Baru kali ini rasanya membunuh satu orang seperti membunuh satu mo

