Sinar matahari masih begitu tipis. Hangat sinar jingga kemerahan itu merambat di antara udara pagi yang dingin. Menyelinap, mengungkung gedung-gedung yang tinggi di Kota Jakarta pagi ini. Tirai coklat kopi s**u terbuka sedikit. Kamar Markus di lantai dua yang menghadap ke timur seakan sudah berserah menerima sinar matahari. Mempersilakan, membawa masuk cahayanya masuk melalui celah-celah tirai. Jatuh, hingga di wajah Markus yang tidak tertutup selimut. Sementara sang manusia masih lelap tertidur. Tak peduli jam beker alarmnya yang berteriak-teriak. Tak peduli lanskap perkotaan pukul enam pagi yang mulai tercetak di luar jendela kamarnya. Menarik kembali selimutnya ke atas hingga menutupi wajah. Hanya sedikit melenguh karena terganggu dengan jam beker di atas mejanya. Dengan malas

