“Eh ... Mas Markus. Duduk dulu, Mas.” Irish yang duduknya menghadap ke pintu langsung menyadarinya. Orang yang baru datang itu. Orang yang hanya berdiri di depan pintu itu, Markus. Namun kalimat yang Irish ucapkan tadi. Kata sambutan itu nyatanya belum cukup. Sama sekali tidak cukup untuk membuat Markus bergerak maju lagi, masuk ke dalam toko bunga milik Irish. Justru yang ada sekarang, berkat kalimat Irish tadi. Berkat niat baik mempersilakannya tadi, membuat Pablo memutar kepalanya. Membuat satu mata dan separuh wajahnya jadi menatap ke arah Markus. Dan begitu pula dengan Markus yang langsung memutar bola matanya menatap Pablo. Dua orang itu bertatapan. Membuat waktu seolah-olah berhenti seketika. Membuat mereka tenggelam dalam perdebatan tanpa sepatah kata pun. Hening, amarah,

