The Creed
09.50 AM
"Hei, anak baru!" teriak seorang pria dari ujung lorong yang tak jauh dari tempat Alfarl berdiri.
Pria itu terlihat menghampiri Alfarl dan mengenakan baju yang sama seperti yang Alfarl pakai.
"Kau siapa?" tanya Alfarl.
"Kenalkan, aku Vinjex. Ayo, akan aku ajak kau berkeliling dan menjelaskan tentang The Creed lebih dalam," jawab Vinjex.
"Kenapa aku harus mengetahui itu semua?"
"Sepertinya, Irebae menginginkanmu menjadi anggota tetap di sini. Itu tergantung pilihanmu. Jika kau masih ingin hidup, The Creed akan menjadi rumahmu. Tapi jika tidak, kau akan mati saat keluar dari sini," jelas Vinjex.
Vinjex merangkulkan tangannya pada bahu Alfarl dan pergi menuju ruang informasi untuk menjelaskan The Creed lebih jelas lagi padanya.
Seluruh tempat The Creed dilapisi oleh cat berwarna putih, tanpa hiasan atau ornamen apapun. Teknologi yang ada pada The Creed, jauh lebih baik dibandingkan yang ada di Skyrothgar.
The Creed terletak di bawah tanah yang membentang seluas kota Skyrothgar, sehingga tidak akan ada lift menuju lantai atas. Hanya ada sebuah roltrap, sebuah tangga yang akan menghubungkan dengan dunia luar. Hanya bisa diakses oleh orang dari The Creed dan mereka akan muncul di tempat-tempat tertentu dengan tingkat keamanan rendah.
Information Room, The Creed
Vinjex mengajak Alfarl memasuki sebuah ruangan kosong, di sana hanya terdapat dua kursi yang menghadap dinding putih.
"Apa ini tempat yang kau maksud sebagai ruang informasi?" tanya Alfarl.
Vinjex menganggukan kepalanya, ia menarik leher Alfarl untuk melihat sebuah papan yang ada di depan ambang pintu ruangan itu.
"Kau lihat? Di situ tertulis ruang informasi." Vinjex menunjuk papan itu.
"Aish!" Alfarl melepaskan rangkulan tangan Vinjex yang membuat lehernya terasa sakit.
Vinjex menarik Alfarl agar terduduk pada kursi. Saat Alfarl duduk, lampu pada ruangan itu mati dan pintu pun tertutup secara otomatis.
"Selamat datang," terdengar suara wanita yang menggema di ruangan itu.
Alfarl sedikit terkejut mendengarnya dan memegangi d**a kirinya yang terasa bahwa jantungnya berpacu semakin cepat dari kondisi normalnya.
"Hai, aku Chanbanch, sebuah robot manusia pertama dengan jenis kelamin perempuan yang akan bertugas sebagai pemberi informasi pada kalian," ujar Chanbanch.
Terlihat sebuah robot dengan perawakan manusia perempuan yang sangat cantik, menampakkan dirinya dari sudut tembok. Wajahnya tampak manis dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Mata Alfarl berbinar saat melihat Chanbanch yang nampak seperti wanita pada umumnya, namun ia hanyalah sebuah robot cantik yang membuat Alfarl terpana.
"Berapa usiamu?" tanya Alfarl.
"Delapan puluh tahun," jawab Chanbanch.
Alfarl teringat akan Piper, "Tunggu, kau seharusnya tidak ada," ujar Alfarl.
"Apa maksudmu?" tanya Chanbanch.
"Piper adalah manusia robot pertama di Skyrothgar. Bagaimana mungkin? Apakah kau mendahului Piper?" tanya Alfarl.
Chanbanch mengeluarkan sensornya dan menunjukan kursi yang tidak jauh darinya. Kemudian, Chanbanch duduk pada kursi itu dengan tangan menyila pada depan dadanya.
"Aku adalah robot perempuan pertama di Valhalla. Aku sudah tercipta jauh sebelum kau lahir, Alfarl. Tidak banyak yang mengetahui keberadaanku. Saat terjadi perang serum M14, dua puluh tahun lalu, pemilikku meninggalkanku," jelas Chanbanch.
Matanya terlihat seperti menahan tangis. Chabanch di desain sedemikian rupa agar menyerupai manusia. Ia mempunyai perasaan yang sensitif seperti perempuan pada umumnya.
Vinjex menghampiri Chanbanch dan mengusap bahunya.
"Jangan sedih. Lupakan hal itu," ujar Vinjex.
Chanbanch menyeka air matanya dan berdiri dari kursinya.
"Baiklah, aku akan memulai penjelasan tentang The Creed," ujar Chanbanch.
Chanbanch menyalakan sensornya dan menampilkan sebuah infromasi tembus oandang yang dapat dilihat oleh Vinjex dan Alfarl. Ia memulai penjelasannya mengenai The Creed, mulai dari awal mula terbentuknya, visi misi, pendiri hingga fungsinya saat ini.
Selama hampir dua jam Chanbanch memberikan materi itu pada Alfarl. Seperti yang Vinjex bilang, Irebae telah memilihnya untuk tetap hidup dan menjadi orang penting di The Creed. Irebae berharap banyak pada Alfarl.
Alfarl sebenarnya baik, bahkan sangat baik. Itu terbukti dibuktikan oleh mesin dengan diameter satu meter bernama circle yang terus memindai tubuhnya dan mencoba menggali masa lalunya.
Karena dianggap baik dan mudah terpengaruh oleh hal baik, Alfarl terpaksa dikhianati oleh teman satu kerjanya dengan ditendang dari atas gedung The Rapture dan berakhir mengenaskan. Demian berharap, Alfarl akan segera mati.
"Jadi, apakah kau siap menjalani pelatihan di The Creed, Alfarl?" tanya Chanbanch.
Alfarl menganggukan kepalanya semangat. Ia memilih The Creed sebagai rumahnya dan sekaligus tanggung jawabnya.
"Baiklah, kita akan memberikan pakaian yang layak untuk latihan. Silahkan ke ruangan The Trinity untuk mendapatkan pakaianmu," ujar Chanbanch.
Alfarl berdiri kursinya dan berjalan keluar ruangan informasi dan pergi menuju ruangan yang dimaksud oleh Chanbanch tadi.
Vinjex membuntuti Alfarl di belakangnya menuju ruang The Trinity.
"Apa ini ruangannya?" tanya Alfarl.
Ruangan itu sama seperti ruangan lainnya, hanya dihiasi dengan nuansa serba putih tanpa ornamen apapun. Alfarl dapat melihat tiga orang perempuan berusia sekitar tujuh belas tahun berdiri di tengah ruangan itu.
Tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah mesin yang sepertinya dipergunakan untuk memakaikan pakaian khusus pada orang-orang yang ada di The Creed.
"Apa kau Alfarl?" tanya salah satu di antara mereka.
"I-iya," jawab Alfarl terbata-bata.
Perempuan itu menghampiri Alfarl dan menuntunnya menaiki lingkaran mesin itu. Mereka kemudian mengenakan helm berwarna putih dengan kaca bening yang menutup bagian mata.
"Ini tidak akan sakit, jadi santai saja, oke," ujar perempuan itu.
"Alfarl, kenalkan. Mereka adalah The Trinity, mereka bertugas untuk memakaikan pakaian khusus pada orang-orang The Creed. Yang di sebelah kananmu adalah Verdict, sebelah kirimu adalah Cejis dan yang berdiri di belakangmu adalah Yerina.
"Halo, Alfarl," sahut mereka berbarengan.
"Apa mereka kembar?" tanya Alfarl.
"Tidak. Mereka hanya perempuan yang lahir di hari dan tanggal yang sama di The Creed. Unik bukan? Itu sebabnya mereka disebut dengan The Trinity."
Alfarl menganggukan kepalanya. Sesekali kepalanya menoleh ke sisi kanan, kiri dan belakangnya untuk melihat yang dikerjakan oleh The Trinity.
Setelah selesai dipakaikan pakaian khusus serta rambutnya di potong menjadi lebih minimalis, Alfarl diantar Vinjex menuju ruangannya untuk beristirahat. Pelatihan s*****a akan dimulai sore hari, jadi Alfarl masih bisa bersantai di ruangannya untuk menunggu waktu.
"Apa menurutmu menyenangkan berada di sini?" tanya Vinjex.
Vinjex menarik satu kursi yang ada di ruangan itu mendekati Alfarl yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
"Entahlah. Menurutmu sendiri? Kau sudah lama tinggal di sini bukan?" Alfarl membalikan pertanyaan pada Vinjex.
"Cukup menyenangkan. Di saat orang lain sibuk dengan tugasnya masin-masing dengan Path yang mereka pilih. Aku bisa tetap bermain seperti anak kecil di The Creed," jelas Vinjex.
"Berapa usiamu?" tanya Alfarl.
"19 tahun."
"Kita seumuran. Apa kau pernah masuk Path hingga berakhir di sini? Bagaimana dengan kisahmu? Apakah se-tragis kisahku?" Alfarl mendekatkan duduknya mendekati Vinjex.
Vinjex mengambil sebuah incrichter dari sakunya, "Aku lahir di The Creed. Ke dua orang tuaku adalah seorang Slade h****n, mereka hampir saja tewas karena menikah dengan sesama Path. Saat itu, Renechu menyelamatkan mereka dan membawanya kemari. Hingga aku lahir dan besar di The Creed, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan identitas untuk menjajal Path serta Midgard karena sangat tidak mungkin jika aku lahir dari seseorang yang sudah dinyatakan tewas, bukan?"
Alfarl memperhatikan inrichter yang dipegang oleh Vinjex. Di sana, ia dapat melihat cerita tentang ke dua orang tuanya yang diberitakan oleh berbagai media. Raut wajah Vinjex menjadi sedih. Mungkin sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa Vinjex tidak akan pernah dianggap ada di Valhalla.
Alis Alfarl bertautan, pikirannya seperti mengingat sesuatu ketika melihat wajah ke dua orang tua Vinjex.
"Apa kau mengenal mereka?" tanya Vinjex.
"Tidak, hanya saja wajahnya tidak asing bagiku," jawab Alfarl.
"Mereka berdua sudah tewas, saat sedang berbelanja di sebuah Grocery. Jika kau pernah mendengarnya, nama mereka adalah Shinza dan Juan. Pasangan dari Slade h****n yang tewas delapan tahun lalu, dan menjadi viral karena diliput langsung oleh Golden Entertainment," jelas Vinjex.
Tangan Vinjex mengepal jika mengingat kejadian itu lagi. Kenangan terburuknya berada di sana. Saat itu usia Vinjex baru menginjak sebelas tahun, namun sudah dihadapkan dengan berita pahit yang menyatakan kedua orang tuanya tewas akibat serum M14 dosis tinggi.
Alfarl menepuk bahu Vinjex, "Kau tidak sendiri. Ada aku, yang sekarang akan menjadi temanmu."
Vinjex mendongakkan kepalanya menatap Alfarl.
"Apa kau yakin?"
Alfarl menganggukan kepalanya.
"Terima kasih, Al," ujar Vinjex.
Senyuman merekah di wajahnya yang semula tampak muram dan sedih. Vinjex merasa hidupnya sendiri. Pertama, ia lahir dari orang tua yang identitasnya sudah dinyatakan tewas dengan dunia, kedua, ia harus kehilangan kedua orang tuanya saat berusia sebelas tahun. Itu cukup membuat Vinjex memiliki memori yang buruk.
"Bagaimana dengan orang tuamu, Al? Coba ceritakan padaku," pinta Vinjex.
"Ayahku bernama Gavex dan Ibuku bernama Jasper. Aku seorang keturunan muggle. Ibuku sudah tewas sejak melahirkanku, sedangkan Ayahku pergi entah kemana, bahkan aku sendiri tidak tau dimana keberadaannya saat ini. Aku dibesarkan oleh tanteku, Jixxel." Alfarl menghela nafas panjang.
Memang benar, di Valhalla kau diharuskan menjadi kuat, entah itu dalam harta atau tahta. Jika kau lemah, maka akan berakhir mengenaskan seperti orang tua Vinjex.
"Al," panggil Vinjex.
"Hm."
"Apa kau pernah merasakan Midgard?" tanya Vinjex.
"Tentu. Bagaimana denganmu? Apa kau berhasil lulus di tahun yang seharusnya? Atau harus mengulang dengan orang-orang yang usianya satu tahun lebih muda di bawahmu?"
"Aku tidak pernah merasakan Midgard, Al. Aku hanya besar di The Creed. Bahkan, untuk melihat dunia luar dan kota Skyrothgar, aku sangat takut. Aku hanya melihat informasinya melalui benda ini." Vinjex mengangkat inrichter-nya yang sedari tadi ia pegang di tangan kanannya. Menandakan bahwa ia memperoleh informasi tentang Midgard melalui benda itu.
"Mau ku ceritakan sedikit tentang Midgard? Mungkin beberapa tidak ada dalam inrichtermu," tawar Alfarl.
"Tentu saja!" Vinjex bersemangat saat mendengar Alfarl akan menceritakan tentang Midgard padanya.
Alfarl bercerita tentang Midgard, mulai dari syarat yang berlaku, lamanya hingga cara ia lulus dan keluar dari Midgard. Alfarl memilih path Slade h****n, namun karena merasa tidak cocok, ia berangsur sering membolos dari jadwal kumpul Path itu.
Lalu, Alfarl bertemu dengan Demian, teman lamanya di akademi. Demian mengajak Alfarl untuk masuk ke kelompok yang berencana akan mencuri Piper. Hingga malam itu tiba, Alfarl menyimpan dendam tersendiri pada Demian.
Alfarl merasa dimanfaatkan oleh Demian, cepat atau lambat, di saat Alfarl sudah siap, ia akan kembali dan membunuh Demian dengan tangannya sendiri.
Hari sudah menjelang sore, setelah selesai cerita, Alfarl dan Vinjex bergegas untuk memulai latihan mereka. Alfarl diajarkan cara menggunakan versperring. Versperring adalah alat yang digunakan sebagai tameng atau peling tubuh dari peluru. Tingkat ke-akuratan alat ini, 98%. Hampir tidak ada celah untuk ditembus oleh peluru.
Irebae melihat cara Alfarl berlatih versperring. Ia tersenyum simpul melihat Alfarl yang cukup cekatan. Tidak ada ruginya ia menolong Alfarl dan membawanya kemari.