[7] Fiveteen Years Old

1845 Kata
Oner House 07.00 AM Seperti pagi biasanya, keluarga Oner akan sarapan bersama di sebuah meja makan yang cukup besar dengan makanan berjajar dan tertata dengan rapi di atasnya. Hari ini, Delwish menginjak umur lima belas tahun. Seharusnya, ia merayakan hari kelahirannya bersama dengan kedua orang tuanya, namun, karena kesibukan Sagey dan Paler, Delwish terpaksa harus merayakan ulang tahunnya bersama dengan keluarga Oner. "Selamat ulang tahun, Delwish," ujar Lunav. "Terima kasih tante," jawab Delwish tersenyum. Oner baru saja datang, ia sudah rapi mengenakan jas hitam, lengkap dengan dasi berwarna biru dongker yang sudah terkait sempurna di lehernya. "Wah, sepertinya aku mencium aroma ada yang bertambah usia," goda Oner. Pipi Delwish memerah. "Tahan rasa malumu, Del. Wajahmu sudah terlihat seperti kepiting rebus," ujar Alice. Sontak, Oner dan Lunav tertawa mendengar cibiran yang dilontarkan Alice pada Delwish. Oner menarik kursi yang terdapat di ujung meja makan, sedangkan Alice, Delwish dan Lunav berada di bagian yang lebih lebar dan duduk saling berhadapan. Para pengurus rumah membalikkan gelas yang ada di samping mereka, lalu menuangkan air putih ke dalamnya. Di rumah itu, terdapat setidaknya lima puluh pengurus rumah. Masing-masing dari mereka sudah memiliki tugas masing-masing. Oner tidak ingin istrinya kelelahan, ia akan melakukan berbagai cara untuk membuat istrinya merasa nyaman dan tidak kecapean karena pekerjaan rumah yang sangat banyak. Lunav hanya akan membantu sesekali, ia hanya akan memasak untuk suaminya, serta membereskan beberapa peralatan rumah yang dirasa belum cukup bersih saat dibersihkan oleh pengurus rumah. "Hyunca, bisa tolong kau ambilkan kotak hitam yang aku letakkan di meja depan? Sepertinya aku kelupaan dan meninggalkannya di sana," ujar Oner. Hyunca adalah kepala petugas rumah di rumah Oner. Hyunca sudah empat tahun bekerja di sana dan bagi Oner sudah seperti keluarganya sendiri. Hyunca menganggukan kepalanya dan berjalan keluar untuk mencari kotak hitam yang diminta oleh Oner. Mereka sudah mulai sarapan yang sudah dihidangkan di atas meja itu. Delwish mengambil beberapa pancake dan dilapisi dengan madu kesukaannya. "Del, apa kau akan pulang hari ini dan bertemu dengan keluargamu?" tanya Oner. Delwish menghentikan aktifitas makannya, ia menaruh garpu dan pisaunya di piring, lalu menelan seluruh makanan yang masih memenuhi mulutnya. "Ya, tentu saja. Aku sudah menginap di sini selama empat hari. Aku ingin, di hari ulang tahunku, aku dapat berkumpul bersama Ayah dan Ibu," jawab Delwish. Oner menganggukan kepalanya mengerti. Tidak berapa lama, Hyunca datang dengan kotak hitam yang cukup besar di tangannya. "Ini, tuan," ujarnya. Oner mengambilnya dengan tangan kanan, "Terima kasih, ya." "Delwish," panggil Oner. Delwish menolehkan pandangannya ke Oner. "Ini untukmu. Seharusnya aku memberikannya saat usiamu tujuh belas tahun. Namun, dua tahun lebih cepat, tidak apa-apa, kan?" Oner memberikan kotak hitam itu pada Delwish. Tangan Delwish terulur mengambil kotak itu dan membukanya. "Wah." Delwish terkagum saat melihat isi di dalamnya. Oner memberikan sebuah inrichter versi terbaru pada Delwish. Seharusnya, Delwish memang dijadwalkan mendapatkan benda itu saat berusia tujuh belas tahun, saat mereka lulus dari Midgard. "Terima kasih, paman Oner." Delwish menutup kembali kotak itu dan diletakkan di sampingnya. "Sama-sama. Apa kau menyukainya?" "Sangat," jawab Delwish cepat. Delwish menata baju-bajunya ke dalam koper berwarna pink yang dibawakan oleh Sagey dua hari yang lalu. Delwish hanya menginap selama tiga hari di rumah Oner. Ia tidak ingin lebih lama menginap di sana, karena takut merepotkan keluarganya, walaupun ia memiliki lima puluh pekerja rumah di sana. Selama tiga hari, Delwish tidur satu kamar dengan Alice. Ia menolak tidur di kamar lain karena merasa aneh dengan suasana rumah Oner yang sangat luas. Tak jarang, jika Delwish terkadang beradu mulut dengan Alice karena tidak satu pendapat. Seperti tadi malam, Delwish dan Alice bertengkar hanya karena Delwish tidak menyikat gigi sehabis meminum teh. Bagi Alice, itu adalah hal menjijikan jika tidur tanpa menyikat gigi terlebih dahulu. "Hati-hati dalam menggunakan alat itu. Salah sedikit, kau bisa terkena lacak rivane dan dimasukkan ke dalam Midgard," ujar Alice. Alice baru saja memasuki kemar dengan makanan ringan di tangannya dan mulutnya terus mengunyah tanpa henti. "Terima kasih atas peringatannya." Delwish menutup kopernya dan menurunkannya dari atas kasur. "Jam berapa kau akan pulang?" Alice duduk di sebuah sofa berwarna putih yang ada di kamarnya. "Mungkin malam." Delwish menjawabnya sembari berpikir. "Kenapa tidak sekarang? Bukankah kau ingin membuat kejutan untuk orang tuamu?" Delwish berjalan mendekati Alice dan duduk di sebelahnya, lalu mengangkat kakinya ke sofa dan menyilangkannya. "Kau benar. Tapi, seharusnya aku pulang dari rumahmu lusa. Orang tuaku menjadwalkan untuk menginap selama lima hari, sedangkan aku hanya mengambil tiga hari. Aku akan pulang malam dan memberikan kejutan pada mereka bahwa aku sudah pulang," jelas Delwish. Delwish memasukan tangannya pada bungkusan snack yang dibawa Alice dan mengambil isinya. "Bagaimana jika mereka belum pulang?" tanya Alice. Delwish menggidikan bahunya, "Aku akan menunggu mereka. Setidaknya aku melihat mereka di hari ulang tahunku walau hanya tiga detik." Delwish mengeluarkan inrichter-nya dari saku celana. Inrichter memang di desain untuk muat dalam kantong kecil, bahkan yang hanya berdiameter delapan sentimeter. Ketika inrichter dinyalakan sensor menyalanya, maka alat itu akan membesar ke ukuran seharusnya. "Apa kau sudah mengerti cara menggunakannya? Inrichter bisa digunakan sebagai informasi, komunikasi dan masih banyak lagi," jelas Alice. Alice tidak mendapati jawaban dari Delwish. Ya, dia baru saja diabaikan oleh Delwish yang sibuk mengatur segala aplikasi dalam inrichter itu. "Sepertinya dia sudah mengerti," gumam Alice. Alice berdiri dari sofa dan hendak membuang sampah plastik, sisa pembungkus makanan ringan yang baru saja dihabiskan olehnya. "Tunggu." Delwish menahan tangan kiri Alice. "Apa?" "Bagaimana cara menghubungi orang tuaku?" Alice kembali duduk pada posisinya semula dan mengambil inrichter milik Delwish. Ia menunjukan cara-cara yang harus dilakukan Delwish jika ingin menghubungi orang tuanya. Inrichter adalah alat segudang informasi bagi jutaan penduduk Valhalla. Untuk menggunakannya sebagai alat komunikasi, hanya diperlukan nama serta path mana yang mereka tempati. Maka, informasi itu akan langsung tertera dan bisa menghubungi inrichter si pemilik nama itu. Skyrothgar terlihat sangat gelap, awan hitam menyelimuti langit kota ini. Matahari sudah tidak menampakan dirinya karena saat ini sudah waktunya bulan yang menghiasi langit malam. Angin bertambah kencang, menandakan bahwa hujan akan segera tiba di sana. Delwish duduk di depan sebuah televisi yang berukuran empat puluh dua inchi, lengkap dengan stereo nya di sisi kanan dan kiri. Tangan kanan Delwish terus menekan tombol next untuk melihat tayangan yang ada di channel selanjutnya. Rumah itu terasa sangat sepi bagi Delwish. Walaupun terdapat banyak pekerja rumah, namun jika pekerjaan mereka sudah selesai, mereka akan kembali ke rumah mereka yang letaknya hanya dua blok dari rumah ini. Tempat tinggal mereka disediakan oleh Oner, bahkan fasilitas rumah itu setara dengan fasilitas rumah yang ada di rumah Delwish. Banyak dari pekerja itu yang merasa nyaman bekerja di rumah Oner, karena keramahan hatinya dan tidak berbuat seenaknya walaupun pekerjaan mereka di bawah Oner. "Kenapa tidak ada acara yang menarik? Ku rasa, aku harus masuk ke path Golden Entertainment agar membuat acara televisi menjadi menarik," gumam Delwish. Oner dijadwalkan rapat bersama tiga pemimpin path lainnya di The Rapture, sedangkan Lunav dan Alice berbelanja ke Grocery terdekat untuk membeli beberapa perlengkapan serta perawatan Alice yang sudah mulai habis. Delwish memutuskan untuk tidak ikut dengan Lunav, ia memilih tinggal di rumah itu, hingga menunggu waktu malam dan pulang ke rumahnya untuk menunggu ke dua orang tuanya. Impiannya hari ini, hanya bisa bertemu dengan orang tuanya di hari ulang tahunnya. Inrichter Delwish tampak menyala, Delwish sama sekali tidak mematikan alat itu, ia masih menunggu pesan balasan dari ke dua orang tuanya. Suara petir terdengar menggelegar di luar sana. Delwish menambah suara volume pada televisi untuk meredam suaranya. Hasilnya nihil, suara petir tetap terdengar meskipun Delwish membesarkan volume pada televisi. "Bagaimana aku bisa pulang jika di luar sana hujan seperti ini," gumam Delwish. Delwish berpikir sejenak untuk mencari cara agar ia tetap bisa pulang ke rumahnya malam ini juga, tanpa harus menunggu hujan itu reda. Senyum terukir di wajahnya, ia baru saja mendapati ide untuk menyebrangi hujan yang melanda untuk tiba di rumahnya sesegera mungkin. Delwish House, Palace Apartement 11.48 PM "Terima kasih, pak!" Delwish menutup pintu mobil dan berlari ke rumahnya dengan koper yang ia bawa di tangan kanannya. Delwish pulang ke rumah diantar oleh salah satu supir Oner. Ia sudah meminta izin terlebih dahulu pada Oner untuk meminjam salah satu supirnya beserta mobilnya untuk mengantarkannya pulang. Hujan belum berhenti, justru terasa semakin lebat. Petir sudah tidak terdengar lagi, hanya tersisa gemercik air yang terus turun membasahi setiap permukaan kota itu. Delwish masuk ke dalam gedung apartemennya dan disambut dengan dua orang resepsionis perempuan yang setia berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Rambut Delwish tampak basah, begitu juga dengan bajunya. "Selamat datang Delwish, kenapa kamu basah sekali?" sapa resepsionis itu. "Hai, Aqua. Ah, ini. Hanya sedikit berolahraga di bawah hujan." Delwish tersenyum kaku. Itu adalah jawaban terkonyol yang pernah kau sebutkan, Del! Ia lupa jika pintu sebelah timur sedang di adakan renovasi, jadi ia terpaksa berlari menerobos hujan agar sampai ke pintu sebelah barat. "Setelah tiba di kamarmu, segera berganti baju. Karena, kau bisa sakit, Del. Selamat malam." ujar Aqua. Delwish segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol sebelas. Untung saja, posisi lift itu sedang berada di lantai satu, sehingga pintunya langsung terbuka dan Delwish tidak perlu menunggu waktu yang lama dengan rasa malu akan jawaban konyolnya tadi. Delwish mengeluarkan inrichternya dan berusaha menghubungi Ibunya, untuk memberi kabar bahwa ia sudah tiba di apartemen mereka dan meminta agar Sagey mendidihkan air untuk mandi air hangat. Ting! Pintu lift terbuka. Delwish menarik kopernya dengan sedikit kekuatan karena terasa begitu berat. Saat berjalan di lantai sebelas, Delwish merasa heran karena ada sebuah jejak kaki dengan tanah pekat yang berjalan menuju kamarnya. Delwish tahu betul ukuran sepatu Paler dan Sagey, dan ukuran itu bukanlah ukuran sepatu mereka berdua. "Apa sedang ada tamu, ya?" Delwish bertanya pada dirinya sendiri. Delwish bergegas berjalan ke kamar apartemenya dan memasukan password rumahnya. Pintu terbuka, Delwish langsung masuk dan meninggalkan kopernya di luar, karena ia takut ada tamu di rumahnya. Lampu rumahnya secara otomatis menyala, karena lampunya mendeteksi setiap suhu panas Sagey, Paler ataupun Delwish jika baru saja memasuki rumah itu. "Ibu, Delwish pul-" suara Delwish tercekat, tenggorokannya terasa terputus melihat apa yang terjadi di depan matanya saat ini. Delwish shock melihat tubuh Sagey dan Paler terkapar di lantai dengan darah yang mengalir di sekitarnya, sementara seorang pria tak dikenal berada di hadapannya. Pakaian pria itu serba hitam, dengan pisau dapur yang masih tergenggam erat di tangan kirinya. Pria itu memberi isyarat agar Delwish jangan berteriak, lalu menghampirinya. Delwish ingin sekali menjerit namun tidak bisa. Seakan-akan kerongkonganya tersendat oleh sesuatu. Delwish berjalan mendekati pria itu dan kakinya bergetar. Ia terlalu takut untuk menghadapi pria itu. Pria itu membelai kepala Delwish lalu mulai mencekiknya. Dung! Tepat saat itu, jam berdentang mengejutkan pria itu. Delwish menepis tangan pria itu dan berlari keluar rumah. Pria itu berusaha menangkap Delwish , tapi Delwish berhasil melarikan diri ke luar rumah. Delwish lari menuju tangga darurat dan berlari sekencang-kencangnya. Pria itu terus mengejar Delwish. "Ayah, Ibu, Delwish mohon bertahan. Jangan tinggalkan Delwish sendirian," ujar Delwish dalam hati. Lantai satu tampak kosong, dan dua resepsionis yang semula berdiri di sana, kini sudah tidak ada atau mungkin sudah pulang karena, saat ini sudah menunjukan waktu jam tengah malam. Delwish berlari ke luar gedung apartemennya. Ia sesekali menoleh ke belakang, pria itu masih mengejarnya dan masih berusaha untuk membunuh Delwish. Bruk! Tiba-tiba sebuah mobil menabrak Delwish. Delwish terlempar dan jatuh ke tanah. Ia masih sempat melihat pria itu berhenti mengejarnya. Hujan yang tadinya sudah berhenti, kini mulai turun lagi. Pria itu berbalik pergi karena penabrak Delwish turun dari mobil, dan beberapa mobil yang melewati jalan itu ikut berhenti dan menelfon Infirmary untuk mengirim ambulan. Tiba-tiba semuanya terasa gelap di mata Delwish. Gemercik hujan yang turun menghapus air mata yang terlihat mengalir membasahi pipinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN