“Aku akan mulai bekerja!” cetus Cantika dengan suara yang tenang tapi tegas, sambil menyuapkan sepotong telur mata sapi ke dalam mulutnya tanpa memalingkan pandangan dari piring. Berbeda halnya dengan dia, Orion langsung menatapnya tajam, mata menyipit seolah tidak percaya mendengarnya. Napasnya memburu, d**a naik turun cepat, dan makanan yang sudah diambil dengan sendok malah terhenti di tengah jalan, tidak sampai ke mulutnya. “Apa maksudmu?!” teriaknya, suara penuh kekesalan. “Aku tidak akan setuju! Tetaplah di rumah, selagi aku masih bisa bersifat baik denganmu, Cantika! Jangan coba membantahku!” Cantika meliriknya tajam, matanya menyala dengan cahaya yang membuat Orion merinding. “Aku tidak membutuhkan ucapanmu! Dan aku hanya memberitahu, bukan meminta persetujuanmu. Jangan samakan

