Cantika hanya menatap Leon datar, mata yang tajam tanpa secercah keramahan. Tak ada suasana yang hangat yang tercipta, hanya kediaman yang membuat udara terasa berat. Leon yang memperhatikan itu hanya terdiam, tidak berani bicara lagi. Suasana canggung meliputi sekitar mereka, mengikuti langkah kaki mereka sampai akhirnya tiba di depan ruangan direktur rumah sakit. Leon menghela napas panjang, d**a naik turun cepat. Ia menghentikan langkahnya, lalu dengan berani menggenggam tangan Cantika. “Kau datang kemari lagi, untuk bekerja atau ingin melakukan suatu hal, Cantika?” Cantika tersentak, mengangkat alis. Dia melepaskan tangan Leon dengan lembut tapi tegas. “Aku datang untuk bekerja, memangnya apa yang berada di pikiranmu sehingga mengatakan kalimat itu kepadaku?” suaranya datar, tanpa

