**** Hari-hari terus berlalu, sudah nyaris seminggu gadis yang memiliki rambut pendek sebahu itu mengurung diri dan tak ingin bicara dengan siapapun. Ya, ia punya cara sendiri untuk bertahan dengan masalahnya. Alih-alih makan bersama dengan nenek, ia justru membawa jatah makannya ke kamar. Bukan tak menyukai nenek, menghindari Davia lebih tepatnya. Tak ada ponsel, membuat Deya tak bisa berhubungan dengan siapapun. Meskipun Dhante menawarinya ponsel baru tapi Deya dengan tegas menolaknya. Bukan karena tak ingin berkomunikasi, Deya hanya ingin menenangkan diri dengan caranya sendiri. Ketika malam menjelang, Deya terduduk di kursi depan meja belajarnya. Ia termangu, menatap beberapa buku yang tertumpuk di hadapannya dengan tatapan tak fokus. Besok adalah hari penerimaan ijazah, ia bahkan b

