**** Pria yang memiliki tatapan bak mata elang itu duduk terdiam di sudut ruangan di apartemennya dengan perasaan resah. Sebatang rokok telah menemaninya sedari tadi, mengepul ke udara seperti perasaan Dhante yang sama sekali tak bisa ditebak. Sesekali pria itu mengisapnya kuat, mengusir dilema yang ia rasakan di dalam hati. Ini mengenai perasaannya yang perlahan menjadi racun dan mulai mematikan perasaannya. Alunan musik dari negeri barat sayup-sayup terdengar, volumenya yang kecil menambah syahdu pikiran Dhante yang melayang entah kemana. Melirik sekilas ke arah ponsel yang tergeletak di meja, ada seseorang yang perlahan ia rindukan namun tak sanggup untuk ia hubungi saat ini. Bagi seorang pria seperti dirinya, Dhante sama sekali tak mampu jika harus memilih wanita antara Deya maupun

