BAB 15: Menulis Novel

1006 Kata
Di waktu luang, saat suami Fatin sudah berangkat ke kantor dan Putri, anak tirinya sudah berangkat sekolah. Di waktu luangnya di habiskan untuk menulis novel. Sebenarnya Fatin masih menjadi guru TK, hanya saja tidak full mengajar. Jadwalnya hanya seminggu tiga kali pertemuan. Sisanya dia hanya berdiam diri di rumah menunggu anak dan suaminya pulang. Riko yang memintanya untuk tidak terlalu sibuk. Agar pekerjaan rumah dan mengurusi suami dan anak tidak terbengkalai. Jadi Fatin nurut saja. Yang penting dia masih bisa tetap menjadi guru TK fullday meski tidak full setiap hari. Fatin mulai membuka laptopnya dan menulis pembukaan untuk novelnya. Menuliskan kisah perjalanan hidupnya di aplikasi novel online. Ini bukan novel pertamanya karena memang dia sudah suka menulis sejak kecil. "Apa ya judul yang cocok untuk kisah hidupku ini? hmmm ... bagaimana kalau "Jodohku Cinta Pertamaku" keren juga," gumamnya bertanya pada diri sendiri kemudian menjawab sendiri. Setelah mendapat judul. Fatin langsung membuat premisnya dan menentukan beberapa tokoh, yaitu tokoh protagonis atau pemeran utama yaitu dirinya sendiri. Kemudian toko antagonis yaitu Andre, mantan suaminya dulu. Tritagonisnya Riko. Tokoh lainnya Tia dan Johan. Tia sebagai wanita yang sama-sama mencintai Riko dan Johan adalah laki-laki yang di jodohkan ayah dengan Fatin. Premisnya yaitu Fatin gadis yang cantik dan bahkan menjadi primadona di sekolah. Ternyata kehidupannya tidak secantik parasnya. Dia harus banyak berkorban dalam hidupnya. Berkorban jiwa, raga dan perasaannya. Tia sahabat baiknya ternyata jatuh cinta pada pacarnya. Fatin membiarkan mereka bersama karena tahu kalau Tia hidupnya tidak akan lama lagi. Fatin pergi dari kehidupan mereka dan memilih Andre. Fatin kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan dengan Johan, laki-laki pilihan ayahnya jebolan mesir. Dia pikir Andre adalah laki-laki yang tepat, ternyata pilihannya justru membawa petaka dan merusak kehidupannya. Dia harus menjadi wanita malam. Akhirnya pengorbanannya berbuah manis. Ketika Tuhan mempertemukan kembali Riko dengan dirinya di club malam. Riko yang saat itu sedang bersedih karena kepergian Tia, istrinya untuk selama-lamanya. Setelah perjuangan panjang Fatin dan Riko menikah. Setelah Fatin berhasil menuliskan premisnya dengan singkat. Dia berharap hidupnya akan indah sama seperti outline novel yang dia buat. Happy ending. "Semoga kita bisa hidup bahagia ya Riko, tanpa gangguan orang ketiga," desisnya pada diri sendiri sambil menantap layar monitor laptop. Fatin menghela nafas panjang, menyeruput teh hangatnya kemudian kembali menulis lagi. *** Chapter 1 Aku berlari terburu-buru dan nafasku sangat terengah. Ini hari pertama OSPEK di sekolah menengah atas dan aku kesiangan. Untung gerbangnya masih di buka dan aku masih berkesampatan masuk. Namun aku terus berlari. Belum juga sampai kelas, aku malah menabrak cowok tampan yang berjalan santai di depanku. BRAK!!! Kami berdua sama-sama terjatuh. Dan saling pandang seperti adegan di sinetron. Kami saling bantu dan berlari bersama menuju kelas. Dan ternyata kami sekelas.  "Lah ngapain kamu ngikutin aku sih?" tanya Fatin. "Aku emang lagi ikut OSPEK dikelas ini," jawab Riko. Waktu itu memang belum pembagian kelas tetap. Mungkin berdasarkan urutan daftar jadi kita bisa sekelas. Katanya setelah OSPEK selesai baru akan diberikan info sesuai kelas masing-masing.  "Siapa ya nama cowok keren itu?" gumamku dalam hati. Riko laki-laki yang cuek. Tapi karena sikap cueknya itu justru para siswi jadi naksir dia. Aku merasa banyak saingan waktu itu. Ternyata dibalik kesempurnaannya, Riko bukan anak orang kaya. Dia masuk sekolah elit ini karena dapat beasiswa. Jalur prestasi altlit. Dia anak basket ternyata. Benar-benar pacar idaman bagi semua cewek. Aku dan Riko seperti bumi dan langit. Sejak cinta pada pandangan pertama, aku sudah berusaha menghapus rasa itu. Karena aku tahu, ayah pasti tidak akan merestui kami. Ayah hanya ingin aku bersanding dengan laki-laki yang sederajat. Hari pertama OSPEK pun Riko tidak membawa persyaratan OSPEK yang diperintahkan kakak kelas kelas. Dia menjadi bahan olok-olokan teman sekelas. "Miskin ya kamu! beli cemilan gitu doang kagak mampu haha," ucap Tono si biang kerok di kelas. "Untung aja lo ganteng, kalau nggak, udah gue usir dari sini haha," ucap Joko teman sebangku Tono. Riko hanya diam membisu. Sepertinya dia orang yang sabar. Dan aku semakin jatuh cinta. Saat itu teman-teman tahu kalau aku adalah anak kolong merat yang tiap tahun ayah ku selalu menjadi donatur di sekolah. Sebelum aku sekolah di sekolah elit ini pun ayah sudah rajin menjadi donatur. Jadi tidak heran kalau aku menjadi primadona di sekolah ini. "Riko!!! maju ke depan kelas sekarang! karena kamu tidak membawa persyaratan OSPEK jadi kakak akan memberikan hukuman untuk kamu," perintah kakak kelas. Sebelum Riko maju ke depan kelas. Aku langsung mengangkat tanganku dan mengatakan, "Kak aku juga tidak bawa persyaratan OSPEK," kata ku. langsung semua mata tertuju padaku. Menatap aneh. Mungkin mereka pikir, aku juga tidak punya uang untuk membeli semua cemilan yang di perintahkan kakak kelas sebagai persyaratan OSPEK. Namun sebenarnya aku hanya ingin menemani Riko dihukum. Agar dia tidak merasa terbulli dan terkucilkan. Aku yakin para netizen akan menyoraki aku miskin sama seperti yang mereka lakukan pada Riko. Tapi ternyata tidak. Mereka hanya diam saja. "Tidak membawa bukan berarti miskin!! mungkin banyak hal lain yang harus dikerjakan jadi lupa dengan persyaratan OSPEK!" .1kataku nyeletuk. Kalau sampe ada yang berani membuli ku akan aku pastikan kalian di tendang dari sekolah elit ini. Tekadku dalam hati. "Baiklah! Ayo Fatin dan Riko silahkan maju ke depan, kalian berdua akan kakak hukum yah karena tidak bawa persyaratannya." "Baik kak apa hukumannya," aku bertanya sangat semangat. "Kalian bersihkan semua WC siswa yah!" "Sekarang kak?" "Ya sekarang!" Jadi Fatin dan Riko tidak menikmati indahnya OSPEK dihari pertama melainkan malah dihukum berdua. Tapi bagi Fatin itu lebih seru. Jadi mereka mulai akrab. CIPRAT!!! Fatin menyipratkan air ke wajah Riko yang sangat serius. "Hey dasar jail!!" ucap Riko. "Habis kamu terlalu serius. Udah bawa santai aja!" Akhirnya mereka saling ciprat air dan saling kejar bak tom and jerry. Fatin merasa kedinginan karena Riko terlalu banyak menyipratkan air pada wajah dan bajunya. Baju dalamnya jadi kelihatan. Membuat Riko salah tingkah. "Kamu kenapa?" tanya Fatin. "Itu bra kamu kelihatan, warnanya hitam hehe," jawab Riko sambil tersenyum. "Tidak apa. Sini mendekatlah!"  "Ada apa?"  Setelah Riko mendekat. Fatin memeluk erat tubuh Riko di dalam toilet perempuan paling ujung. "Aku dingin sekali, peluk lah erat sebentar saja!" ucap Fatin sambil memeluk Riko.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN