Riko membawa anaknya menuju Rumah Fatin. Niat sucinya untuk melamar Fatin karena anaknya yang meminta. Beberapa hari ini Riko selalu murung karena diduakan oleh Rianti. Jadi Putri, anaknya mencari cara agar Papahnya bisa bahagia lagi.
Putri pura-pura sakit dan ingin segera melihat Bu guru Fatin menjadi Ibunya. Jadi Riko datang melamar dan akan menikahinya.
Tidak disangka kedatangannya disambut mesra oleh orangtua Fatin. Ayah Fatin yang terkenal galak dan tegas itu merestui hubungan mereka. Fatin jadi heran.
Di ruang tamu yang megah. Riko disaksikan anaknya dan ayah Fatin serta Fatin. Mengungkapkan niat baiknya.
"Jadi begini Pak. Kedatangan saya kemari untuk melamar Fatin. Kasihan Pak anak saya, dia sangat menyayangi Fatin sehingga beberapa hari ini sakit dan ingin selalu bersama Fatin. Saya pikir, lebih baik saya akan menikahi Fatin daripada Fatin harus bolak-balik kerumah saya untuk mengurus Putri. Saya harap Bapak bisa maklum dan merestui kami."
"Ia saya mengerti. Kalau lihat putri rasanya seperti lihat anak saya sendiri. Fatin juga dibesarkan tanpa ada kasih sayang seorang ibu. Sampai sebesar ini pun Fatin tidak punya ibu. Baiklah saya akan merestui hubungan kalian."
Riko langsung berterimakasih dan memeluk erat calon Papah mertuanya itu.
Hari ini juga Riko akan mempersiapkan pernikahannya dengan Fatin secara sederhana. Jadi dari pagi, dia tidak masuk kantor. Dia memberitahu teman-teman sekantornya kalau hari ini setelah duhur dia akan menikah dengan Fatin di kediaman mempelai wanita. Jadi para karyawan boleh ikut makan siang di resepsi pernikahan mereka.
Sambil melihat penataan tempat respsi yang sederhana. Fatin bertanya pada ayahnya.
"Kenapa sangat dadakan sekali? ayah kenapa setuju dengan pernikahan ini?"
"Kenapa? kamu tidak bahagia?" tanya Ayah Fatin.
"Bukan Pah. Hanya saja aku heran, Papah kan biasanya keras kepala terus-terusan menjodohkan aku dengan pilihan Papah?"
"Sudah lah lupakan saja. Johan lulusan mesir itu sudah tidak mau sama kamu. Terlebih masalalu kamu yang hanya sebagai wanita malam. Dia tidak bisa menerima masalalu kamu yang gelap itu. Jadi Papah setuju saja kalau kamu harus menikah dengan duda beranak satu. Lagi pula Riko kelihatan baik dan bertanggung jawab. Ya kan?"
Fatin hanya mengangguk. Apapun alasannya. Fatin bahagia sekali akhirnya cinta pertamanya bisa kembali lagi.
Setelah dekorasi selesai. Pak penghulu menikahkan mereka berdua. Tampak senyum bahagia di wajah Putri. Akhirnya Putri punya Ibu sambung sesuai keinginannya.
Disisi lain. Rianti datang ke kantor untuk meminta maaf dan mengakui tentang perasaannya. Kalau sebenarnya dia sudah jatuh cinta pada Riko. Dan Rianti sangat menyesal sekali sudah melukai hati Riko. Niatnya hari ini dia akan memperbaiki semuanya, Namun sudah terlambat. Riko sudah menikah dengab Fatin.
Rianti masuk kantor Riko dan menghampiri respsionisnya.
"Mbak saya mau ketemu Pak Riko."
"Mohon maaf mbak Pak Riko tidak masuk hari ini."
"Kenapa mbak? dia sakit?"
"Bukan mbak, dia menikah hari ini."
"MENIKAH??" ucapnya kaget dan matanya mulai berkaca.
"Ia mbak. Di kediaman mempelai wanita. Itu barangkali mau breng mbak ... para karyawan juga mau datang kesana."
Akhirnya Rianti ikut gerombolan karyawan PT. Nusa Jaya menuju kediaman mempelai wanita. Sesampainya disana ternyata sudah terlambat. Para saksi sudah berteriak dengan kompak mengucap,
"SAH ... SAH ...SAH."
Rianti hanya bisa berdiri mematung dan mengeluarkan air mata. Dia benar-benar menyesal. Karena sudah menyia-nyiakan orang yang serius dengan dirinya. Sementara Arya yang dia pilih malah tega memilih wanita lain.
***
"Selamat ya Riko!" ucap Rianti.
"Rianti! ngapain kamu kesini?" tanya Riko heran.
"Niatnya aku mau ajak kamu balikan tapi sudah terlambat," katanya sambil menangis.
Riko mulai mengusap matanya perlahan dan merasa kasihan. Namun Putri langsung marah dan memakinya.
"Ih .. Papah jangan sentuh tante galak itu. Dia yang sudah marahin aku waktu aku main ke kantor! aku ngga suka tante itu. Sana kamu pergi!!!" teriak Putri menjadi pusat perhatian.
Sebenarnya Riko masih cinta dengan Rianti. Apalagi Rianti masih perawan ting tong. Laki-laki mana yang tidak mau dengannya. Tapi karena Putri lebih suka dengan Fatin. Dia jadi harus menikahi Fatin. Meski awalnya Riko memang ingin menikah dengan Fatin, tapi setelah Fatin jadi p*****r rasanya niat itu memudar begitu saja.
"Sebentar ya Fatin," katanya sambil pergi meninggalkan Fatin dan Putri.
Riko membawa Rianti keluar gerbang rumah Rianti. Dan berusaha menenagkannya.
"Kamu jangan sedih yah. Aku terpaksa menikahi Fatin karena Putri yang meminta."
"Terus maksud kamu apa?"
"Tidak ada maksdu apa-apa? hanya saja jika kamu butuh bantuan aku. Jangan sungkan!"
Rianti seperti mendapat lampu hijau dari Riko. Dia tentu saja memanfaatkan ini semua. Untuk merusak rumah tangga Riko dan Fatin.
"Baiklah kalau begitu aku pamit yah," ucap Rianti.
***
Malam pertama Fatin dan Riko tidak begitu spesial. Padahal dulu Riko ingin sekali segera menikahinya karena ingin permainan ranjang Fatin yang super lincah. Namun malam ini, Rasanya Riko tidak b*******h malah teringat Rianti. Jadi malam ini Riko memutuskan untuk tidur bersama Putri dan Fatin.
"Putri. Malam ini kamu tidur dengan Papah dan Mamah yah!" perintah Riko.
"Kok gitu yah? apa kehadiranku tidak akan menggangu kalian?"
"Tidak sayang kami justru senang tidur bertiga," ucap Fatin ikut menambahi.
Riko menggendong Putri ke atas kasur dan mereka bercerita banyak hal sebelum tidur.
Fatin bercerita awal mula dirinya jatuh cinta pada Riko, ayahnya Putri.
"Kamu tahu Putri? ayah kamu itu adalah cinta pertama Bu guru Fatin. Dari dulu memang ingin sekali menikah dengan Papah Riko. Sayangnya Bu Guru Fatin sudah di jodohkan dengan Om Johan."
Saat masih sekolah menengah atas. Ketika itu sedang MOS. Kakak kelas memerintahkan adik kelasnya untuk membawa beberapa makanan ringan, Namun Riko tidak membawanya. Katanya karena tidak punya uang untuk membelinya. Jadilah Riko di hukum. Saat itu Fatin merasa kasihan, akhirnya dia ngaku pada kakak kelas kalau dirinya pun tidak membawa persyaratan MOS.
Akhirnya kakak kelas menghukum Riko dan Fatin untuk membersihkan toilet sekolah. Sejak saat itu mereka saling jatuh cinta satu sama lain. Semester dua barulah kedatangan siswi baru bernama Tia. Fatin dan Tia memutuskan untuk bersahabat. Karena melihat Tia sangat kasihan hanya berdiam diri di kelas dan tidak pernah ke kantin.
"Tia? Ibunya Putri ya Bu Guru Fatin?" tanya Putri.
"Betul sekali. Mamah Tia sangat cantik, namun sangat pendiam dan pemalu. Tapi dia baik dan penyayang."
Hanya sebatas itu Fatin bercerita pada Putri. Selebihnya dia akan tulis kisah hidupnya agar menjadi novel dan dapat dikenang dan dijadikan pelajaran oleh semua pembaca. Jadi Fatin memutuskan untuk menjadi penulis, selain bertugas mengurusi Putri dan pekerjaan rumah tangga setelah menjadi istrinya Riko.