BAB 11: Jatuh Cinta

1021 Kata
Lagi-lagi Rianti dibuatnya kaget. Riko datang dari belakang tubuhnya dan membuar Rianti kaget sehingga dia menumpahkan air minumnya ke baju Riko. "Aduh ... aduh maaf ya Pak. Lagian Pak Riko kenapa ngagetin jadi baju Pak Riko basah. Sini biar saya bersihkan!" ucapnya sangat panik. Riko membiarkan Rianti mengelap bajunya yang basah. Mereka saling pandang dan Rianti sangat terpesona dengan ketampanannya. "Hmmm dipandang-pandang nih cowok jutek ganteng juga, gagah dan harum," gumamnya dalam hati. "Hey kamu kenapa, kok melamun?" tanya Riko memngaketkan Rianti. "Ngga papa kok Pak." "Ya sudah ayo duduk! Saya sengaja menyuruh kamu datang kemari, karena saya mau makan siang ditenenin kamu." "Makan siang?" "Ia. Ayo kamu mau pesen apa? tenang saya yang traktir." Riko memanggil pelayan dan mereka mulai memesan beberapa makanan dan minuman. Rupanya Riko benar-benar kesepian, dia sudah tidak sanggup lagi dengan kesendiriannya. Akhirnya dia mengungkapkan perasaannya kepada Rianti. Cewek jutek yang baru saja dia kenal dua hari lalu. "Aku suka sama kamu, sejak pandangan pertama," kata Riko membuka pembicaraan. Rianti langsung tersedak mendengarnya. Tanpa basa-basi Riko langsung mengatakannya. Rianti jadi salah tingkah. Pikirnya why not? ganteng, tajir, pengusaha lagi.  "Kamu mau ngga tiap hari nemenin saya makan siang terus kaya gini?" Rianti hanya tersenyum dan merasa bingung. Namun Riko terus melanjutkan ucapannya. "Kamu mau kan jadi pacar saya?" Rianti masih terdiam menikmati makanan gratisnya. "Ya sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Kita kan bukan anak kecil lagi yang butuh proklamirkan status jadian. Jalanin saja yah." "Ia betul Pak, saya setuju hehe," jawab Rianti sambil cengengesan. Setelah Riko berhasil menyatakan cintanya. Perasaannya jadi lega. Moodnya mulai membaik. Akhirnya Riko mau bekerja sama dengan perusahaan Rianti yang sedang koleb. "Masalah kerja sama perusahaan, kamu jangan khawatir. Saya mau kok bekerja sama dengan perusahaan kamu," ucap Riko sambil merapihkan bajunya. "Serius Pak? terimakasih banyak Pak," jawabnya. Saking bahagianya Rianti tidak sengaja memeluk Duda kaya yang harum itu. Riko pun berdebar, sudah bertahun-tahun dia tidak merasakan pelukan seorang wanita dan hari ini Rianti memeluknya. Jadi Riko pun memeluk erat Rianti. Namun kemudian Rianti malu dan salah tingkah. "Ya ampun. Maaf ya Pak. Saya saking bahagianya jadi sampe peluk-peluk hehe." "Ngga apa-apa saya suka." "Kalau gitu saya mau Pak, jadi pacar Pak Riko! Sampe ketemu besok ya sayang," rayunya pada Duda beranak satu itu. "Sayang?" desis Riko penuh senyum kebahagiaan. Riko seperti puber kembali. Sudah lama tidak ada yang memanggilnya sayang. Tapi hari ini Rianti memanggilnya dengan sebutan itu. *** Sampai kantor. Rianti loncat-loncat girang merasa berhasil menaklukan hati si cowok jutek. Dan yang paling penting adalah Riko mau bekerja sama dengan perusahaannya. "Bu Boss akhirnya Pak Riko mau bekerja sama dengan perusahaan kita," teriaknya sangat bahagia. "Serius emang keren ya kamu. Salut deh pokoknya," kata Nayla sahabat Rianti. "Sudah Ibu duga, kamu pasti bisa!! seperti tantangan-tantangan yang sudah lalu, kamu selalu berhasil menaklukan klayen manapun. Selamat yah, pokoknya gaji kamu bakalan naik mulai bulan ini," ucap Ibu Boss. "Walah makasih Bu Boss," jawabnya sambil memeluk atasannya itu. "Horee thanks Rianti. Akhirnya gue ngga akan jadi pengangguran!" ucap Nayla. "Ya sudah Ibu pamit dulu yah banyak kerjaan nih," kata Ibu Boss. Saat Rianti sampai rumah. Tiba-tiba dia mendapat kiriman bunga. "Selamat malam mbok," sapa Rianti pada pembantunya. "Malam non, ini ada titipan bunga non." "Dari siapa mbok?" "Ngga tau non," jawab Bi Ijah sambil menyerahkan bunganya. Rianti membaca surat yang ada pada bunga itu, ternyata dari Riko. Katanya dia tidak bisa melupakan kejadian saat pertama mereka bertemu. Sangat romantis.  Pemberian bunga itu bukan hanya sekali. Di kantor pun Riko terus mengiriminya bunga. Kejutan demi kejutan dia berikan untuk pujaan hatinya. "Hah bunga lagi?" kata Rianti. Didalam bunga itu terdapat surat yang bertuliskan. "Aku ingat sekali muka kamu. Saat kamu tahu kalau aku lah klayen yang akan kamu ajak kerja sama." Rianti tampaknya mulai jatuh cinta dan bahagia sekali dengan kejutan yang Riko berikan padanya. Dia pun mulai masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ternyata sudah ada Arya yang menunggu. "Arya? ngapain kamu ada diruangan gue?" tanya Rianti. "Rianti? itu bunga dari siapa? gue ngga mau ya kalau lo sampe jadi milik orang lain!"  "Bukan urusan lo!" "Gue mohon maafin gue. Hidup gue jadi hampa tanpa lo Rianti. Gue janji ngga akan selingkuh lagi." "Alah basi. Udah sana pergi, gue lagi mau sendiri!"   Arya pergi meninggalkan Rianti sendiri. Dan saat Rianti duduk di meja kerjanya ternyata dia menemukan kiriman bunga lagi. "Hah bunga lagi?" desisnya sambil tersenyum. Suratnya bertuliskan, "Kamu tahu, waktu di cafe flamboyan? aku sengaja mengaketkan kamu dari belakang. Sehingga minumannya tumpah di bajuku. Agar kita bisa saling tatap dan semakin dekat. Aku benar-benar jatuh cinta padamu Rianti." "Riko ... Riko lo bener-bener nyebelin yah. Tapi lo romantis juga. Hmmm seandainya Arya bisa kaya lo yah!" gumamnya pada diri sendiri. Saat hatinya sedang melayang terbang ke angkasa Nayla datang meledeknya. "Eciye dapat bunga!!!" "Apaan sih cuma bunga doang kok." "Tapi lo seneng kan? jangan-jangan lo jatuh cinta ya sama Riko? haha katanya lo akan buat dia jatuh cinta, sekarang malah lo sendiri yang jatuh cinta." "Sembarangan. Gue biasa aja kok!" jawabnya sambil mukanya memerah. *** Riko tidak boleh egois. Dia memang sedang jatuh cinta tapi dia tidak boleh lupa dengan anaknya. Dia akan menceritakan kabar bahagia ini pada Putri, anaknya yang masih sekolah TK. Putri sedang asik nonton TV di ruang tengah dan Riko langsung mengajaknya ngobrol. "Put sekarang Papah sudah punya pacar loh. Nanti Papah kenalin ya sama kamu." "Pacar? maksudnya Ibu Fatin?" tanyanya penuh harap. "Bukan. Namanya tante Rianti. Dia cantik loh dan baik pastinya." "Ngga mau Pah, Putri maunya Papah itu nikahnya sama Bu guru Fatin saja. Titik." "Kok gitu. Tapi Bu guru Fatin kan sudah punya calon suami. Papah ngga boleh rebut dia dari calon suaminya." "Biarin aja Pah. Kan baru calon suami belum jadi suami!" "Ngga bisa gitu cantik. Belum tentu juga Bu guru Fatin mau sama Papah kan?" "Tapi kan Papah belum nyoba kan? pokoknya Putri ngga mau punya Ibu baru kecuali Ibu guru Fatin!!!" teriaknya sambil lari nutup pintu kamar. Riko dibuatnya pusing. Baru saja dia merasakan jatuh cinta. Ternyata Putri tidak mau punya Ibu sambung kecuali Ibu guru Fatin. Tapi Riko tidak bisa memaksa kemauan anaknya karena walau gimanapun Fatin sudah punya calon suami. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN