BAB 10: MENYEBALKAN

1019 Kata
Rianti memutuskan untuk pulang ke kantornya. Dengan wajah penuh lelah dan kesal dia pasrah saja kalau memang dirinya harus dipecat dari perusahaan. "Rianti gimana hasilnya?" tanya Ibu Boss. "Gagal bu. Cowok jutek itu ngga mau kerja sama. Udah mana HP saya ilang Bu di kantornya. Saya nyerah Bu. Ngga apa deh Bu Bos mau pecat saya sekarang juga, saya siap daripada harus berhadapan dengan cowok tengil itu." "Jangan begitu dong. Bukan masalah pecat pecat Rianti. Kamu ngga kasihan sama karyawan lain, mereka yang punya anak istri? kamu ngga mau bantu kami lagi?" ucap Ibu Boss sambil memelas. "Baik Bu. Saya akan coba lagi besok." "Gitu dong. Ini baru Rianti yang Ibu kenal. Selalu semangat, optimis dan selalu bisa menaklukan klayen," puji Ibu Boss karena memang Rianti marketing terbaik di perusahaannya. Rianti kembali ke meja kerjanya. Ada Nayla juga sahabatnya yang duduk di samping meja kerjanya bagian marketing juga. "Jadi kamu gagal naklukin cowok jutek itu haha," ledek Nayla. Ditengah perbincangannya. Ada Arya masuk ke ruangan mereka. Arya adalah mantan pacar Rianti yang juga kerja di perusahaan yang sama yaitu PT. Berkah Jaya. Mereka satu minggu lalu putus karena Arya ketahuan jalan dengan pacarnya yang baru. Arya memang playboy. Nayla juga sempat dia godain. Nayla sangat tidak suka dengan kehadiran Arya di ruangan mereka. Jadi dia pergi keluar. "Ngapain kamu kesini? ngga ada kerjaan emang?" tanya Rianti pada Arya. "Kerjaan ku udah kelar. Rianti ... aku mohon beri aku kesempatan kedua. Aku janji ngga akan selingkuhin kamu lagi," katanya sambil memelas. "Sudahlah lupakan saja! Aku ngga mau lagi sama playboy kaya kamu. Sana keluar!!!" ucapnya sambil mendorong tubuh Arya ke pintu keluar. Setelah Arya sudah tidak ada di ruangan kerja mereka Nayla pun kembali masuk dan melanjutkan perbincangan mereka. "Jadi Arya ngajak balikan?" "Ia. Nyebelin kan?" "Ih jangan mau. Dia kan playboy." Lagi asik ngobrol telpon kantor berbunyi. kring ... kring ... "Siapa ya?"  "Coba angkat aja Nay!" "Males Ah!" Akhirnya Rianti yang mengangkat telponnya.  "Halo selamat siang. Ini dengan siapa?" kata Rianti lewat telpon kantornya. "Hallo juga mba. Jadi begini mbak, saya nemuin HP mbak nih di jalan." "Oh yah? bisa tolong kembalikan mas!!" "Bisa mbak tapi ada syaratnya." "Apa itu mas?" "Traktir aku makan siang yah!! sekarang juga aku tunggu di cafe flamboyan." "Ok. Tunggu mas!!" Rianti pamit kepada Nayla untuk ke cafe falmboyan. Heran juga sih. Kok HPnya ditemukan orang dijalan padahal jelas-jelas ketinggalan di sofa ruangan Riko. Walau begitu, Rianti tetap pergi menemui laki-laki yang menemukan HPnya. *** Setelah sampai cafe. Rianti menengok kesana kemari mencari orang yang barusa menelponnya. Dari arah belakang dia dikagetkan dengan suara Riko yang sambil cengengesan. "Hay cewek jutek!!! ini Hp loe kan?" "Kamu?" "Ayo duduk dulu. Loe kan udah janji mau traktir makan siang!" ucapnya sangat puas mengerjai Rianti. "Ngga mau!!" "Ya udah berarti Hp ini jadi milik gue yah haha." Akhirnya Rianti duduk dan makan siang berdua dengan Riko. Rasanya Riko sudah lama sekali tidak makan berduaan begini dengan perempuan. Hatinya sangat bahagia sekali. Riko benar-benar Rindu sosok kekasih. Ingin rasanya ada yang menemani hari-harinya, setelah 6 tahun kepergian istrinya. Riko makan dengan sangat lahap. Mereka berdua saling pandang. Rianti tertunduk malu. "Mbak ... aku mau nambah! ada menu spesial ngga yang paling mahal yah!" ucap Riko rupanya belum puas mengerjai Rianti. "Ada mas. Baik mas!!" jawab pelayan. Pelayan menyiapkan menu yang spesial dan mahal. Rianti menelan ludah karena dia tahu pasti dia yang harus bayar semua ini. Pikirnya kalau bukan karena kerja sama perusahaan. Dia ngga akan mau bersabar seperti ini.  "Bener-bener nih cowok nyebelinnya tingkat dewa!" gerutunya dalam hati. Setelah kenyang, Riko pamit pulang dan sesuai janjinya dia kembalikan HP milik Rianti. "Terimakasih untuk traktirannya hari ini. Nih HP kamu!" Kemudian Riko pergi begitu saja.  Sampai rumah Riko terus terbayang Rianti. Baru kali ini dia merasakan kasmaran. Dia berpikir akan terus memanfaatkan situasi ini untuk bisa mendapatkan cintanya, sebelum akhirnya Riko menyetujui kerja sama anatara perusahaannya dengan perusahaan Rianti. Riko cepat-cepat memejamkan mata agar pagi segera tiba. Dia ingin bertemu Rianti lagi. *** Keesokan harinya. Riko menyusun rencana untuk membuat Rianti lebih kesal dibanding hari kemarin. Jadi Riko menelpon Ibu Bos untuk memerintahkan Rianti datang ke kantornya untuk membahas kontrak kerja sama. Bukan main bahagianya Ibu Bos. Jadi Ibu Bos ke ruangan Rianti dan memintanya segera menemui Pak Riko. "Rianti hari ini kamu ada tugas ke kantor Pak Riko yah. Barusan dia menelpon katanya ingin melanjutkan membahas kerja sama perusahaan kita. Ayo semangat! Ibu yakin kamu bisa menakukannya." "Baik Bu. Saya pergi sekarang! Nay aku pergi yah." "Good luck yah!" "Ok thanks." Rianti pergi menggunakan mobil kantor seorang diri. Setelah sampai kantor Riko. Dia melapor pada resepsionis bahwa dirinya sudah ada janji temu dengan Pak Riko. "Permisi Mbak. Saya mau keruangan Pak Riko." "Tapi Mbak. Pak Riko ngga ada di ruangannya. Katanya kalau ada kalyen bernama Rianti tolong suru ke cafe tamara. Ini Mbak bisa lihat catatannya!" Saat Rianti baca memang benar. Jadilah dengan penuh kesabaran. Rianti pergi ke cafe tamara. Setelah sampai cafe tamara. Seorang waiter mengatakan pesan padanya. "Mbak Rianti Yah?" "Betul Mbak." "Ada pesan dari Pak Riko. Katanya disuruh ke cafe melati, dia sudah menunggu di sana." "What?" geram Rianti. "Permisi mbak!"  "Tuh cowok benar-benar tengil!!!" gerutunya. Karena merasa kesal, akhirnya Rianti menelpon Ibu Bos dan mengatakan menyerah. "Bu Bos. Kayanya saya nyerah saja deh! Pak Riko benar-benar ngerjain saya Bu." "Ngerjain gimana?" "Dia bilang katanya saya disuruh ke kantor. Giliran sudah sampai kantor saya malah disuruh ke cafe tamara. Di cafe tamara malah tidak ada. Saya malah disuruh ke cafe melati. Bener-bener nyebelin bu!" "Sabar saja dulu. Kita kan butuh. Ayolah Rianti kamu pasti bisa bantu Ibu." Rianti menutup telponnya dan menuju cafe melati. Begitu sampai, lagi-lagi dia dikerjai. "Mbak Rianti sudah di tunggu Pak Riko di cafe flamboyan," ucap seorang waiter pada dirinya. "What?" ucapnya sambil menghela nafas panjang. Sambil nyetir mobil Rianti marah-marah sendiri. Kalau sampe di cafe flamboyan tidak ada. Dia bakalan obrak-abrik itu kantor si cowok tengil. Setelah sampai. Rianti mencari kesana-kemari sambil membawa segelas air putih dan meminumnya beberapa kali. "Mana sih tuh orang? awas aja kalau sampe ngga ada di cafe ini!!" keluhnya pada diri sendiri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN