Satu tahun Fatin kabur dari rumah. Menentang perjodohan dan ternyata hidupnya malah berantakan. Jadi dia pulang kepada orangtuanya. Meminta maaf dan berjaji akan menuruti semua keinginan orangtuanya.
Dia dijodohkan kembali dengan laki-laki pilihan ayahnya dan kali ini Fatin tidak akan menolaknya. Karena dia tahu pilihannnya sendiri justru malah membuatnya menderita.
"Jadi kamu sudah punya tunangan?" tanya Riko sambil melirik cincin di jari manisnya.
"Aku pikir 5 tahun lalu, kamu datang untuk menyelamatkan hidupku dari Andre. Ternyata kamu pun takut kepadanya. Jadi aku memilih untuk kembali pulang pada orangtua ku dan menuruti segala keinginannya. Aku yakin semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Ternyata benar, laki-laki lulusan mesir itu mampu merubahku menjadi yang lebih baik."
"Ia. Aku ikut bahagia. Jaga baik-baik hubungan kalian yah. Aku pamit ke kantor bu guru Fatin. Assalamualaikum," ucap Riko.
"Walikumsalam."
Sambil menyetir mobil matanya berkaca-kaca, sudah tidak ada harapan lagi untuknya bisa bersatu dengan Fatin, cinta pertamanya itu.
Ditengah kesedihannya, dia malah hampir menabrak orang yang sedang naik ojek. Gadis cantik dan mamang ojeg itu jatuh ketepi jalan masuk kesemak-semak. Tentu saja marah-marah meminta ganti rugi. Riko mengusap air matanya dan segera turun.
"Kalau ngga bisa nyetir ngga usah bawa mobil mas! hampir saja kita ketabrak!" geram gadis cantik itu sambil ngomel dan terus berteriak.
"Maaf mba, saya ngga sengaja," jawab Riko.
"Maaf ... maaf. Ngga bisa gitu dong. Gara-gara kamu aku jadi telat meeting. Jangan hanya minta maaf doang, ganti rugi dong, nih lihat tangan ku bared, luka-luka. Kamu ngga liat tadi aku jatuh masuk kesemak-semak!!!"
Karena malas mendengarkan ocehan gadis tengil itu. Riko memberikan sejumlah uang pada mamang ojeg dan dia pun pergi meninggalkan gadis jutek dan Riko berdua.
"Ayo masuk! aku akan antar kamu ke tempat tujuan!" perintah Riko dengan nada cuek khasnya.
"Baiklah."
"Siapa nama kamu?"
"Aku Rianti."
"Tujuannya mau kemana? biar aku antar."
"Ke kantor Nusa Jaya."
Jalanan sangat macet dan Rianti benar-benar takut datang terlambat ke kantor. Dia bekerja di PT. Berkah Jaya sebagai marketing. Jadi perusahaannya sedang koleb dan pimpinan memintanya untuk bekerja sama dengan PT. Nusa Jaya agar bisa bekerja sama dan menyelamatkan perusahaan pimpinannya.
Akhirnya Rianti sangat bawel sekali dan meminta Riko untuk menyetir dengan cepat.
"Mas bisa nyetir ngga sih, lelet amat! udah siang nih, aku ngga mau yah kesiangan gara-gara kamu!"
"Kamu bisa diem ngga? dari tadi berisik amat. Mending turun aja!!"
"Loh kok turun. Ngga bisa gitu dong kan udah janji mau antar!!"
"Ya udah makannya diam. Kalau ngga aku ngga akan antar kamu!!!"
"Baiklah."
Setelah sampai kantor Betkah Jaya, tempat dimana dia bekerja. Rianti mengucap terimakasih dan buru-buru lari ke dalam kantor. Tapi Riko pun malah ikut berjalan di belakangnya.
"Ih kamu ngapain sih ngikutin aku? udah sana pergi hus ... hus!!!"
Karena Riko tidak merespon. Akhirnya Rianti lari menuju ruang meeting. Sedari tadi atasannya sudah lama menunggu.
"Rianti. Jam berapa ini kok kamu baru datang?"
"Maaf Bu boss saya terlambat. Tadi dijalan ketemu laki-laki nyebelin yang nabrak ojek ku. Tuh sampe luka-luka gini."
"Udah jangan banyak omong, pokoknya harus presentasi semenarik mungkin yah agar pimpinan dari PT. Nusa Jaya mau tanda tangan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita. Kalau tidak kita semua akan gulung tikar. Kamu ngga kasihan sama karyawan lain, kalau sampai ngga punya pekerjaan. Mereka mau kasih anak dan istri makan apa? ya kan?"
"Baik bu boss."
Selang beberapa menit Riko masuk keruangan meeting itu dan Rianti langsung mengadu pada Ibu bos kalau dialah laki-laki menyebalkan yang sudah menabraknya tadi pagi sampai datang terlambat.
"Selamat pagi semuanya," sapa Riko.
"Nah ... nah ... ini nih bu bos laki-laki nyebelin yang sudah nabrak saya! ngapain sih kamu ngikuti kesini. Udah sana pulang!!!"
"Sttt ... sttt Rianti tutup mulut kamu!" ucap Ibu Boss.
"Kenapa Bu? benar kok dia yang membuat saya datang terlambat."
Rianti tidak mau diam, jadi Ibu Bos langsung saja memperkenalkan mereka.
"Maaf ya Pak Riko atas ketidak nyamanannya. Perkenalkan, dia Rianti marketing saya. Rianti, perkenalkan ini Pak Riko pimpinan dari PT. Nusa Jaya."
"Hah? pimpinan? Nusa Jaya Bu Bos? hehe haduh. Maaf ya Pak. Mari silahkan duduk Pak, akan saya mulai presentasinya."
"Tidak perlu. Saya tidak mau bekerja sama dengan perusahaan ini. Terimakasih. Saya pamit!"
Riko pergi meninggalkan ruangan meeting dan kembali ke parkiran mobil. Bu Bos menyuruh Rianti untuk membujuknya agar tidak marah dan mau bekerja sama.
"Kamu harus bertanggung jawab Rianti. Ibu tidak mau tahu gimana caranya agar Pak Riko mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Masa depan kita semua ada ditangan kamu," keluh Ibu Bos sangat menyentuh hati Rianti.
Sesegera mungkin Rianti berlari mengejar Pak Riko ke parkiran dan sayangnya sudah tidak terkejar. Jadi Rianti terpaksa menuju kantor PT. Nusa Jaya. Dengan menggunakan mobil kantor, dia pergi sendiri ke kantor Riko.
Rianti ke meja respsionis dan menanyakan keberadaan Riko.
"Mba ... saya mau bertemu Pak Riko."
"Atas nama siapa yah?"
"Rianti."
"Tunggu sebentar!"
Resepsionis itu menelpon ke ruangan Pak Riko dan segera Rianti di perbolehkan masuk ke ruangannya. Tanpa disuruh duduk, Rianti dengan percaya diri duduk. Riko langsung protes, "Siapa yang nyuruh kamu duduk?"
Rianti pun bangun dari duduknya dan meletakan ponselnya di sofa ruangan Riko.
"Jadi gimama Pak? mau yah kerja sama dengan perusahaan kami," pintanya sambil memelas.
"Tidak mau!!! kamu tau kan pintu keluarnya? saya banyak kerjaan. Lebih baik kamu pulang saja!"
Dengan kesal, Rianti pulang.
"Bener-bener tuh cowok nyebelin banget!! alamak HP gue ketingalan pula!!!"
Sudah sampai teras depan kantor. Akhirnya Rianti balik lagi menuju ruangan kerja Riko karena ponselnya tertinggal di sofa. Tanpa permisi Rinti langsung menggeledah sofa.
"Hey ngapain kamu?? asal slonong aja. Bener-bener ngga punya sopan santun ya kamu!!! sana keluar!!!" teriak Riko.
"Hp ku Pak ketinggalan. Kok ngga ada yah? tadi padahal aku taro di sofa loh. Aneh!"
Riko menahan senyum. Dia sengaja menyimpan Hp Rianti karena ingin memberi pelajaran padanya. Karena merasa tidak menemukan HPnya, Rianti pergi tanpa pamit kepada Riko. Dia hanya marah-marah.
"Heran masa ngga ada. Tadi kan ada di sofa!!" geramnya sambil berjalan keluar.
"Rasakan itu!!! jadi cewek judes amat. Aku kerjain baru tahu rasa kamu haha," ucapnya sambil tertawa puas.
Meski judes, Riko pikir-pikir itu cewek cantik juga. Bawel juga. Sepertinya Riko jatuh cinta pada pandangan pertama.
***