BAB 8: Menghilang

1030 Kata
Jam makan siang berakhir. Riko pamit ke kantor pada Aisyah untuk kembali bekerja. "Aku pamit yah, sudah waktunya aku kerja kembali. Kamu tidak apa kan kalau aku tinggal sendiri?" ucapnya sambil melihat Aisyah yang masih sibuk menyantap makanannya. Aisyah mengangguk. Riko sangat bingung. Bagaimana caranya untuk mengatakan kalau dirinya tidak nyaman dengan Aisyah. Dia terlalu sholehah. Rasanya Riko minder dan tidak pantas bersanding dengannya. Mukanya tampak murung memikirkan hal ini dan Papah mertuanya mendapatinya tidak seperti biasanya. "Gimana kencannya? seru?" tanya Papah mertua pada Riko yang sedang beres-beres file di mejanya. "Hmmm ... Aisyah terlalu pendiam Pah, Riko pun pendiam. Jadi kita hanya berdiam diri saja. Maaf ya Pah kalau membuat Papah kecewa." "Haha tidak usah meminta maaf. Itu tandanya kamu tidak cocok yah dengan Aisyah. Tidak apa, nanti Papah carikan yang lain. Jadi kamu sukanya perempuan yang bawel yah?" "Tidak juga Pah. Cuman biasanya saya kalau nyaman pasti akan berubah jadi orang yang asik dan banyak cerita. Tapi tadi saya bahkan tidak ingin cerita apapun pada Aisyah. Mungkin saya belum bisa menerima oranglain. Karena dihati saya masih ada Tia," ucapnya sambil berkaca-kaca. "Kamu memang laki-laki yang setia. Pantas saja Tia begitu tergila-gila pada kamu. Bukalah hati. Tia juga pasti akan senang melihat kamu bahagia!" "Baik Pah." "Kalau begitu. Sekarang kamu ingin mengenal gadis cantik yang mana lagi, ayo coba pilih!" ucapnya sambil mengeluarkan beberapa foto gadis cantik yang berkualitas. "Pah. Apa boleh saya memilih sendiri calon ibu sambung untuk Putri?" "Tentu saja boleh. Kamu sudah punya pacar? Papah carikan untuk kamu karena waktu itu kamu bilang. Kalau kamu tidak punya teman perempuan satu pun. Maaf kalau Papah terkesan menjodoh-jodohkan kamu. Ngomong-ngomong siapa gadis yang akan kamu nikahi?" "Fatin Pah! dulu dia sahabat Tia dan Riko." "Yah silahkan, yang penting berpendidikan, berakhlaq dan berkualitas bibit bobotnya bagus," jawab Papah mertua sambil menepuk punggung Riko dan pergi meninggalkannya. Membuat Riko semakin bingung. Sebenarnya boleh atau tidak menikah dengan Fatin. Tapi Fatin kan masih punya suami. Dia jadi makin pusing memikirkannya. *** Sejak melakukan cinta satu malam dengan Riko, Fatin jadi sulit untuk dicari. Banyak yang bilang katanya dia kabur. Bahkan Andre, suami sekaligus mucikarinya pun tidak tahu dimana keberadaannya.  Saat Riko datang menemui Andre, langsung saja Andre menghajarnya. Dia yakin pasti Riko yang membawanya kabur. "b******k!!! udah gue bilang, kembalikan Fatin kalau sudah dipake. Jangan rebut dia dari tangan gue. Dimana Fatin sekarang?!" geramnya sambil terus menerus memukul wajah dan perut Riko. "Sumpah gue ngga tau! Gue datang kesini justru karena pengen ketemu Fatin. Gue rindu permainan ranjangnya, jadi gue mau bayar dia lagi untuk muasin nafsu gue!!!" "Alah! loh pasti lagi bersandiwara kan?" "Terserah lo mau percaya atau ngga. Tanya sama penghuni club ini seminggu gue bolak balik ke sini nyari Fatin ngga ketemu-ketemu. Akhirnya gue nemuin lo, jadi gue tanya aja ke lo. Paham!!!" Perlahan Andre mulai melepaskan cengkraman mautnya yang sedari tadi melukai tubuh Riko. Habislah Riko dibuatnya babak belur. "Sepertinya Fatin kabur karena memang dari dulu dia selalu nolak jadi wanita malam. Sejak lo order dia jadi beneran pergi," kata Andre. "Terus nasib pernikahan lo sama Tia gimana?" "Lo ambil aja kalau mau! Lagian kita cuma nikah sirih.  Udah sering gue talak juga. Karena dia selalu bangkang." "Tapi sekarang gue harus cari dia kemana? gue bingung." "Kalau lo sama Fatin ditakdirkan berjodoh pasti bakal ketemu lagi broo santai aja!!!"  Setelah perbincangan panjang, akhirnya Riko pamit dan setelah sampai rumah, lukanya di obati oleh Bi Inah. "Mencari cinta kok sampe babak belur begini Den?" "Ia Bi. Biasa anak muda haha," jawabnya sambil tertawa. *** 5 tahun kemudian. Putri tumbuh jadi anak yang cantik dan periang meski tanpa kasih sayang seorang Ibu. Dia mulai sekolah di Taman Kanak-kanak fullday school islami. Riko sengaja menyekolahkannya di sekolah fullday agar dari pagi sampai jam 5 sore, Putri tidak kesepian. Banyak teman di sekolah, belajar, diurusin makan dan tidur siangnya sampai mandi pun ada yang ngurusin. Jadi saat Riko menjemput Putri pulang, Putri sudah makan dan mandi. Putri tumbuh jadi anak yang bawel doyan ngomong. Pengalaman pertamanya masuk sekolah pun dia ceritakan kepada ayahnya. "Selamat sore ayah," sapa Putri pada ayahnya yang baru pulang dari kantor. "Sore cantik. Maafkan ayah ya dihari pertama kamu sekolah tidak bisa menjemput," jawab ayah sambil memeluk Putri dan menggendongnya. "Tidak apa ayah." "Gimana hari pertama kamu sekolah? seneng ngga?" "Senang sekali ayah. Pagi-pagi kita sarapan bersama sebelum belajar. Terus kita bernyanyi bersama dan bermain di taman sekolah. Sebelum tidur siang, bu guru mendongeng terlebih dahulu. Bu gurunya cantik dan baik sekali. Aku ingin punya ibu seperti itu ayah," rengeknya. "Ingin ibu seperti bu guru?" "Ia ayah, namanya ibu Fatin. Dia membelai kepala Putri sampai Putri bobo pules banget. Bahagianya." "Fatin?" Riko jadi penasaran dengan bu gurunya Putri yang bernama Fatin. Apa dia Fatin yang selama ini dia cari? jadi Riko memutuskan untuk mengantarnya nanti pagi. Putri dan Riko makan malam bersama. Sejak usia Putri 4 tahun. Putri memilih untuk tinggal bersama ayahnya. Tapi sesekali main keruamh kakek neneknya. Rupanya Riko berhasil jadi ayah yang baik dan membuat Putri nyaman. Sehingga dia tidak mau jauh dari ayahnya. Di meja makan, ayah menyodorkan foto persahabatan Tia, Fatin dan Riko pada anaknya.  "Coba lihat foto ini! Apa Ibu Fatin yang ini?" ucap Riko sambil menujuk ke foto Fatin. "Ibu Fatin pake kerudung ayah." "Oh pake kerudung." "Ini foto siapa ayah?" "Ini foto persahabatan ayah, ibu Tia dan ibu Fatin." "Ibu Tia dan Ibu Fatin sama-sama cantik. Ayah pintar sekali mencari pacar haha," jawab Putri sambil tertawa meledek. Keesokan harinya. Ayah memutuskan untuk mampir dulu ke sekolahan Putri untuk bertemu ibu Fatin. Dan benar saja Fatin sudah berdiri di depan gerbang sekolah menyambut anak-anak yang datang dan saling memberi salam satu sama lain. Hati Riko berdegup kencang. Cinta yang hilang kini ada dihadapan matanya. Fatin sang wanita penghibur kini tampil sangat berbeda. Menggunakan gamis panjangnya dan hijab tertata rapih membuatnya semakin anggun dan sholehah. Membuat Riko semakin jatuh cinta. "Ayah aku pamit masuk!" kata Putri. "Ia sayang. Semangat belajarnya!" "Ayah? itu anak kamu?" tanya Fatin. "Ia bu guru. Sudah lama yah kita tidak jumpa, aku selalu mencari kamu," jawab Riko semakin mendekat pada Fatin. Lagi-lagi Tuhan mempertemukan mereka kembali. Riko benar-benar yakin kalau Fatin memang jodohnya dan cinta sejatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN