Mulai hari ini Riko akan mengantar anaknya ke sekolah. Karena supir pribadinya sedang cuti, anaknya di kampung sedang sakit. Saat mengantar Putri. Dia tampak bahagia dan semangat sekali. Fatin langsung menyambut mesra kedatangan Putri penuh kasih sayang. Pantas saja Putri hanya ingin Fatin yang menjadi ibu sambungnya.
"Selamat pagi Bu Fatin," ucapnya sambil memeluk erat Fatin.
"Pagi sayang."
"Bu Guru Fatin. Supir saya sedang cuti. Nanti kalau saya belum kelar meeting, bisa ibu antarkan Putri ke kantor saya? ini alamatnya," katanya sambil menyodorkan kartu nama.
"Baiklah. Tidak usah panggil Bu guru. Panggil seperti biasanya saja Fatin hehe," ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak bisa. Sekatang kamu sudah jadi guru anak saya. Baiklah kalau begitu saya pamit dulu. Saya titip Putri ya Bu."
"Ia Pak Riko."
Hari ini Riko memang sibuk. Jadi dia tidak bisa menjemput anaknya saat pulang sekolah. Jadi dia menyuruh Fatin untuk mengantarkannya ke kantor.
Dari pagi Riko sibuk meeting. Sampe sudah waktunya jam makan siang pun ternyata kerjaannya belum beres. Dia sampai lupa ada janji makan siang dengan Rianti. Saat sedang meeting ponselnya berbunyi berkali-kali. Ternyata dari Fatin. Dia bilang kalau dia dan Putri sudah ada diruangan Riko.
"Riko. Saya sudah ada di ruangan kamu," ucapnya lewat telpon.
"Baik. Saya akan segera kesana!"
Sementara itu. Putri pamit sebentar untuk berjalan-jalan keluar ruangan.
"Bu guru, Putri keluar sebentar yah."
"Jangan sayang! sebentar lagi Papah kamu datang."
Tapi Putri tidak peduli seolah sengaja agar membiarkan Papahnya dan Bu Guru Fatin berduaan diruangan pribadi Riko. Putri tetap pergi keluar meski dilarang.
Putri berlarian di depan kantor. Tidak sengaja menabrak Rianti yang sedang emosi, karena Riko susah dihubungi. Padahal mereka ada janji makan siang berdua, tapi Riko tidak kunjung datang di cafe langganan. Jadi Rianti langsung saja datang ke kantornya. Dengan langkah yang terburu-buru, akhirnya Putri dan Rianti saling bertabrakan.
"Jalan yang bener dong! lagian kamu anaknya siapa sih? anak kecil dilarang berkeliaran di kantor tau!!!" teriak Rianti pada Putri.
Putri hanya diam dan berusaha mengingat wajah judesnya. Berulang kali dia berdoa dalam hati, tidak mau punya ibu tiri yang galak seperti itu.
Setelah puas marah-marah pada Putri. Rianti langsung masuk menuju ruangan pribadi Riko. Betapa terkejutnya saat melihat Riko sedang berduaan bersama Fatin.
"Oh jadi karena sedang asik pacaran dengan wanita lain jadi kamu lupa janji makan siang sama aku!!!" teriak Rianti sambil memukul pintu.
"Rianti ... tunggu! biar aku jelaskan!!!" kata Riko sambil mengejar Rianti yang ngambek dan pergi ke arah pintu keluar.
"Mau jelasin apa? sudah jelas kok. Kamu lebih pilih bersama wanita berhijab itu dibanding makan siang dengan pacar kamu sendiri!!!"
"Hey dengerin dulu! Itu Ibu Fatin. Ibu gurunya Putri."
"Siapa Putri?"
"Anak aku," ucapnya sambil tertunduk.
"What? ANAK? Jadi kamu udah punya anak? punya istri?" tanya Rianti sangat kaget kalau ternyata Riko bukan bujangan.
"Istriku sudah meninggal 5 tahun lalu."
"Oh jadi kamu duda beranak satu! Jahat ya kamu udah bohongin aku."
"Bohongin gimana? aku pikir status ngga penting buat kamu."
"Udah cukup. Aku ngga mau dengerin kamu lagi!!" teriaknya sambil pergi menjauh dari Riko.
***
Rianti merasa kecewa dan sudah dibohongi oleh status Riko. Dia pulang ke kantor sambil membawa tangis dan itu membuat Nayla bertanya-tanya.
"Kamu kenapa kok nangis?"
"Aku kecewa aja. Ternyata Riko duda beranak satu! Jijik tau ngga!!!"
"Kalau kamu beneran sayang kenapa harus jijik. Lagian duda itu ngga hina kok."
"Ngga bisa gitu Nay, gue ngerasa ketipu aja, sakit banget rasanya! pokoknya gue bakal balas perbuatannya. Gue juga bakal balik nyakitin dia. Awas aja!!!"
"Nyebut Ri!!! lo jadi cewek jangan kasar napa, inget lo karma berlaku," pesan Nayla pada sahabatnya itu.
"Bodo amat! harusnya dia lah yang dapet karma. Dia yang nipu gue!!!"
Keesokan harinya. Riko terus berusaha meminta maaf. Rianti pun memaafkan, namun tidak tulus memaafkan. Dia punya rencana untuk menyakiti hati Riko dengan cara, Rianti tetap jadi pacar Riko dan akan morotin duitnya yang tajir itu. Namun dia juga akan balikan sama Arya, mantannya yang dulu pernah selingkuhin dia.
Menyaksikan sandiwara inj Nayla sangat kecewa sekali. Tidak habis pikir, sahabatnya itu bakalan benar-benar nyakitin hati Riko yang benar-benar tulus mencintai dirinya.
Arya masuk ruangan dan saat itu juga dia meminta balikan pada Rianti. Tanpa pikir panjang Rianti pun menerima cintanya.
"Rianti. Lo apa-apaan sih? Arya tuh tukang selingkuh!"
"Itu dulu Nay. Dia udah janji kok ke gue kalau dia ngga akan selingkuh lagi. Udah deh lo ngga usah urusin kehidupan gue ah!!"
"Gue cuma ngingetin aja. Gue ngga mau lo disakitin lagi."
"Ngga akan udah deh tenang aja!"
Jadilah Rianti punya dua pacar sekarang. Nikmat sekali rasanya nyakitin orang yang sudah membuat hati Rianti sakit.
***
Saat jemput Putri pulang sekolah. Riko sebentar meluangkan waktunya untuk berbicara pada Fatin.
"Bu guru ... boleh minta waktunya sebentar."
"Boleh ada apa ya Pak Riko."
"Saya sedang sedih dan saya benar-benar butuh teman bicara saat ini."
"Silahkan Pak jangan sungkan untuk bercerita."
"Saya sudah berusaha mencarikan Ibu untuk Putri, tapi ternyata dia hanya ingin saya menikah dengan kamu. Bagaimana menurut kamu?"
"Kalau jodoh kenapa tidak?"
"Memang kamu mau menikah dengan ku?"
"Wanita mana yang tidak mau bersanding dengan kamu Riko," ucapnya sambil tersenyum.
Air mata Riko mulai menetes. Saat sedang asik berbicara berdua. Tiba-tiba datang Ayah Fatin dan beberapa pengawalnya.
"Siapa mereka?" tanya Riko.
"Mereka Ayahku dan beberapa pengawalnya."
"Ada apa dengan mereka?"
"Mereka sedang mengawasi kita."
"Mengawasi?"
"Sudah ku bilang. Aku sudah di jodohkan dengan jebolan mesir. Jadi ayah selalu mengawasi gerak gerikku. Dia takut aku kabur lagi seperti dulu saat perjodohan itu tiba. Jadi sekarang sepanjang hidupku, aku selalu di awasi mereka."
"Apa kamu masih mencintai aku?"
"Tentu saja. Aku pun ingin bersama kamu. Tapi ... aku sudah janji pada orangtuaku akan menurut kali ini. Lagi pula aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. Nyawa kamu dalam bahaya kalau kamu berani menikahi aku."
Riko bangun dari tempat duduknya dan menghampiri mereka yang sedari tadi mengawasinya.
"Selamat siang Pak. Saya Riko. Anak saya yang bernama Putri sekolah di sini di ajar oleh anak Bapak. Dia sangat mencintai Bu Guru Fatin. Setaip hari dia meminta saya untuk menikahi bu gurunya. Dia ditinggal ibunya sejak lahir. Jadi sampai detik ini dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu. Jadi saat bertemu Bu guru Fatin, dia sangat bahagia sekali. Ijinkan saya untuk menikahinya Pak!" ucap Riko sambil berderai air mata.
"Tidak bisa! dia sudah saya jodohkan dengan laki-laki berkualitas dan terbaik."