"Sayang ... ?" suara teriakan dari seorang perempuan yang sangat familiar di telinga Enggar membuyarkan pikirannya yang kalut. Di tolehnya asal suara itu, mama dan papanya berjalan beriringan menghampiri meja Enggar, setelah sebelumnya bertemu dengan Adi dan Asan yang sedang mengobrol di parkiran lalu terlebih dulu menyambangi dua sejoli yang tengah memadu kasih sambil menikmati lemon cheese cake di seberang meja Enggar. "Mama," suara Enggar lirih, hanya mampu di dengarnya sendiri. Enggar membalas lambaian tangan papa dan mamanya. Mereka menuju ke arah meja dimana Enggar sedang duduk dengan gelisah seorang diri, rupanya begitu grogi dan cenat cenut menanti seseorang yang sangat berarti. "Ma, Pa, kapan datang?" tanya Enggar antusias. "Kemaren sayang," jawab keduanya. "Jangan bilang, k

