"Ibu ... jangan pergi Bu ... Ibu ... tunggu!" Tangan Yayu menggapai udara, peluh mengalir di dahinya, kepalanya bergerak kekanan dan ke kiri, tubuhnya bergetar, jerit dan tangisnya menggelegar. Matanya masih terpejam, dan mulutnya terus bergumam memanggil nama ibunya. "Kana, sssstt ... tenang sayang, tenang!" Enggar yang tidur mendekap Yayu terbangun dan berusaha menenangkan nya. Memberikan tangannya untuk Yayu genggam, mengelus puncak kepalanya, dan memeluknya semakin erat. Namun Yayu terus meronta dan menangis. "Sayang, bangun! Kana, bangun! sayang ... bangun!" Enggar menepuk pipi Yayu dan berusaha membangunkannya, karena elusan tangannya di kepala tidak mampu menenangkan Yayu. "Kana, bangun!" Enggar melepaskan pelukannya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Jemari tanga

