Aliza berbaring di ranjang ukuran king memunggungi suaminya. Dia sengaja menghadap ke tembok agar tidak perlu melihat wajah di sebelah, yang baru saja menghabiskan malam dengan perempuan lain. Gadis itu tidak bicara apa-apa, bersikap seakan tinggal sendirian di ruangan luas berfasilitas lengkap. Dia bungkam sejak suaminya masuk kamar, bersih-bersih badan, dan berganti pakaian. Lalu pura-pura memejamkan mata selagi merasa ranjang berderit, Gibran berbaring di sebelah dipisahkan oleh guling sebagai pembatas. Padahal Aliza sudah mencerna baik-baik nasihat papanya, mencoba menerima Gibran sebagai suami sah. Sekarang tentu menyesal pernah terbesit di kepalanya akan melepaskan Reyhan. "Bee, apa kamu sudah tidur?" Gibran hanya memastikan. Ia melirik punggung sang istri. "Percaya sama aku, B

