Keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambut basah, seraya tangan menyeka rambut menggunakan handuk sebelum sebuah suara hadir dari ponselnya. Keberadaan ponsel di atas nakas Gina raih, terpampang nama sang ibu di sana, buat Gina mengernyit. "Mau minta duit, nih, pasti." Walau enggan menerima telepon sang ibu, Gina tetap melakukannya. "Halo, Ma?" "Enak banget, ya, kamu. Mentang-mentang udah nikah sama orang kaya, gak pernah lagi hubungin Mama. Bahkan kamu gak punya pikiran buat kasih Mama uang. Lupa siapa yang udah lahirin kamu? Lupa selama hidup, Mama yang biayain kamu? Mau jadi anak durhaka kamu?" Cercaan sang ibu buat Gina memejamkan mata, baru dia merasakan kepalanya fresh setelah diguyur air, kini kembali memanas mendengar suara cerewet sang ibu. "Maaf, Ma." "Maaf, maaf. Jadi

