Bab 5

1296 Kata
Valeria Richardson telah menghabiskan dua minggu yang penuh penderitaan di penjara, terkurung dalam kesendirian dan rasa bersalah yang tak terelakkan. Dua minggu yang kelam ini adalah akibat dari keterlibatannya dengan keluarga Sinclair—sebuah kesalahan besar yang menyeretnya ke dalam jurang yang lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Luka bakar di tangan Valeria telah sembuh, tetapi luka di hatinya masih berdarah, tidak kunjung pulih. Malam pertama di balik jeruji besi adalah malam yang dingin, tidak hanya karena udara yang menusuk, tetapi juga karena kesendirian yang begitu menyakitkan. Hanya satu panggilan telepon yang diperbolehkan, dan Valeria dengan penuh harap menelepon ibunya. Namun, bukan suara lembut ibunya yang menjawab, melainkan tetangganya yang memberitahu bahwa sang ibu, yang kini terbaring lemah akibat stres, tidak bisa berbicara. Valeria hanya bisa membayangkan wajah ibunya yang pucat, penuh dengan kekecewaan dan rasa malu atas tindakan putrinya. Ternyata, luka yang ia bawa tidak hanya menyakiti dirinya, tetapi juga menghancurkan satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat. Di dalam sel yang kumuh, Valeria berbagi ruang sempit dengan dua wanita yang penuh amarah. Mereka sering bertengkar, tetapi untungnya, belum ada kekerasan yang menimpanya. Ini adalah kenyamanan kecil di tengah penderitaan yang lebih besar. Suatu pagi yang suram, Valeria mendapatkan kunjungan yang tak terduga. Elena Sinclair, dengan keanggunan yang tak bisa disangkal, melangkah masuk ke ruang kunjungan. Penampilannya begitu memukau, seakan-akan dunia di luar penjara ini tidak terpengaruh oleh kekacauan yang telah terjadi. Valeria merasa begitu kecil, begitu tak berarti di hadapan wanita ini. "Valeria Richardson, maju ke depan," perintah seorang penjaga dengan nada datar, seraya memborgol tangan Valeria dan membawanya ke depan. Kursi yang disiapkan untuknya tampak keras dan tidak nyaman, begitu kontras dengan keanggunan yang dibawa oleh Elena. Dengan tatapan penuh kebencian, Valeria menolak duduk. "Aku tidak akan duduk di kursi itu," ucapnya dengan dingin. Penjaga hanya mendengus sinis. "Berdirilah, kalau begitu," jawabnya dengan nada merendahkan. Elena tidak terganggu. Dengan tenang, ia membuka tas Gucci-nya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Ini surat-surat perceraian. Tandatangani," ujarnya tanpa emosi. Kata-kata itu seperti pukulan telak bagi Valeria. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan, hatinya hancur berkeping-keping. "Kenapa dia tidak datang sendiri?" tanyanya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam rasa sakit yang mendalam. Elena menatap Valeria dengan tatapan dingin, tanpa belas kasihan. "Apa yang kau harapkan dari Adrien? Kau hanya karyawan dan titipan keluargaku. Mengapa dia harus repot-repot datang ke sini? Tandatangani saja surat-suratnya. Ini untuk kebaikan semua orang." Tatapan Valeria jatuh pada baris tanda tangan yang tertera di kertas itu, di mana nama Adrien tertulis dengan jelas. Menandatangani berarti mengakhiri semuanya, tetapi apakah itu benar-benar akhir? Atau justru permulaan dari penderitaan yang lebih dalam? Elena menunggu dengan sabar, tatapannya tajam seperti pisau. "Kau tahu ini yang terbaik, Valeria. Tanda tangani saja," desaknya, nada suaranya terdengar seperti ultimatum. Dengan tangan gemetar, Valeria meraih pena yang disodorkan. Hatinya terasa berat, seolah-olah dia tengah menandatangani akhir dari seluruh kehidupannya. Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa menandatangani dokumen ini mungkin satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari bayang-bayang kelam masa lalu. Namun, saat ujung pena menyentuh kertas, Valeria berhenti. Dia menatap Elena dengan pandangan penuh tekad dan pemberontakan. "Dan bagaimana dengan dia?" bisiknya. "Apakah dia peduli?" Sejenak, wajah Elena menunjukkan sekilas emosi, mungkin simpati yang terpendam. Namun, itu cepat menghilang. "Adrien sudah melangkah maju, Valeria. Sudah saatnya kau melakukan hal yang sama," jawabnya dengan suara dingin. Valeria memandang kertas-kertas itu sekali lagi. Dia tahu bahwa menandatangani berarti melepaskan—tidak hanya dari Adrien, tetapi juga dari harapan-harapan yang telah ia bangun dengan susah payah. Dengan gerakan yang tegas, dia menaruh pena di atas meja, tidak menandatangani. "Katakan pada Adrien bahwa jika dia ingin aku menandatangani surat cerai ini, dia harus datang sendiri," ucap Valeria dengan suara yang mantap. "Atau... mungkin dua minggu bulan madu itu cukup bagimu untuk menyingkirkan bayi yang bukan anak Adrien?" Kalimat terakhirnya penuh dengan kepahitan, dan ia melihat Elena menjadi pucat, menyadari bahwa rahasianya telah terbongkar. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Valeria. Adrien tidak akan datang ke sini hanya untuk itu," jawab Elena, berusaha menyembunyikan ketegangannya. "Kalau begitu, aku tidak akan menandatanganinya. Permisi, penjaga. Saya ingin mengakhiri kunjungan ini." Valeria berdiri, meninggalkan Elena di belakang dengan kepingan-kepingan dari rahasia yang telah ia ungkap. Saat pintu sel menutup di belakangnya, Valeria merasakan sebuah kekuatan baru mengalir dalam dirinya. Dia mungkin masih terkurung, tetapi dia tidak akan lagi membiarkan hidupnya dikendalikan oleh orang lain. Sepuluh menit kemudian, Adrien McKenzie berdiri di luar sel Valeria, wajahnya penuh ketegangan. Pertemuan ini, singkat namun penting, akan menentukan arah hidup mereka selanjutnya. Dan meskipun Valeria masih terperangkap dalam kesakitan dan kebingungan, ia tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang baru—sesuatu yang mungkin akhirnya bisa memberikan kebebasan yang sejati. “Apakah Anda ingin masuk, atau kami akan membawanya keluar?” tanya penjaga dengan nada yang datar. “Tidak usah repot-repot. Saya akan berbicara dengannya dari sini, hanya sebentar saja.” “Baiklah, Pak.” Dua wanita yang berbagi sel dengan Valeria, terpesona oleh penampilan Adrien yang tampan, bergerak mendekatinya. Salah satu dari mereka berbisik, "Mengapa wanita cantik itu datang menemuimu, dan sekarang pria tampan ini?" "Dia suamiku," Valeria mengakui, membuat kedua wanita itu terkejut. “Baiklah, bicaralah dengannya!” desak mereka. "Jangan membuatnya menunggu, apa kamu sudah gila?" Valeria menggeleng. Terakhir kali Adrien melihatnya terhina, dia hanya diam, tidak melakukan apa pun. Sekarang, dia tahu bahwa ini adalah saatnya untuk mengambil kendali, untuk tidak menyerah begitu saja. Adrien menatapnya dengan harapan yang samar, mungkin mengira Valeria akan memohon bantuan. Namun, Valeria tetap teguh, menatap balik tanpa menunjukkan kelemahan. Ini adalah duel diam-diam di antara mereka, sebuah pertarungan yang belum jelas siapa yang akan keluar sebagai pemenang. "Valeria," Adrien akhirnya berbicara, suaranya terdengar tidak nyaman berada di tempat yang begitu kotor dan penuh aroma tak sedap. "Kita perlu membahas perceraian." Kedua wanita itu, yang kini menyaksikan setiap gerak-gerik mereka, terkesima melihat bagaimana Valeria berhasil memenangkan putaran pertama dalam pertempuran tanpa kata-kata ini. Valeria berdiri, tubuhnya terasa lelah oleh kursi kayu yang keras, dan mulutnya terasa asam. Dia menjaga jarak dengan Adrien, sadar bahwa penampilannya jauh dari kata sempurna. "Kenapa kamu datang ke sini?" tanyanya, suaranya enggan namun tetap tegas. "Aku ingin kau menandatangani surat cerai. Seharusnya tidak perlu sampai seperti ini; mari kita percepat masalah ini dan berpisah segera!" "Kita tidak pernah benar-benar bersama," kata Valeria dengan tegas. "Tidak ada yang perlu dibubarkan." Adrien menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan rasa frustrasi yang mulai menguasainya. "Apakah kau akan menandatangani surat cerai itu?" Valeria menatapnya, menyadari bahwa dalam sel yang kotor ini, dia bukan siapa-siapa—bukan istri Adrien, bukan wanita yang pernah dicintai. Hanya seorang tahanan di antara dua wanita lain yang bernasib serupa. Namun, dia juga tahu bahwa menandatangani surat cerai ini akan membuatnya benar-benar tidak berarti lagi. "Jika aku mengeluarkanmu dari sini, apakah kau akan menandatangani surat-suratnya?" Adrien bertanya, meskipun nadanya sedikit ragu. "Kamu tidak mengerti, Adrien," katanya dengan suara yang bergetar karena menahan emosi. "Aku adalah istrimu—sesuatu yang pernah kau anggap sebagai harta yang berharga. Kau berjanji akan bersamaku selama satu tahun penuh, tapi sekarang kau ingin membuangku seperti sampah." Dia menoleh ke teman-teman satu selnya dan berbicara lebih keras, "Para gadis, jangan pernah percaya pada kata-kata orang kaya. Mereka memberikan janji-janji seperti emas, tetapi nilainya kosong. Lebih baik berkomunikasi dengan uang; setidaknya itu nyata." Mendengar Valeria dan para wanita lainnya mengejek, Adrien kehilangan kendali, mendekati jeruji besi dengan kemarahan yang mulai mendidih. "Kata-kataku lebih berharga dari nyawa kita bertiga jika digabungkan! Setahun bersamamu akan terasa seperti seribu tahun siksaan, tetapi itu akan jauh lebih buruk bagimu." Valeria melihat kemarahan Adrien dan tahu dia telah memenangkan putaran lain. Adrien melangkah mundur, mencoba menenangkan dirinya, lalu memberikan sinyal kepada penjaga. Beberapa saat kemudian, Valeria dibebaskan dari selnya. Dia melangkah keluar, tahu bahwa kebebasan ini datang dengan harga yang sangat tinggi. Tetapi setidaknya, untuk saat ini, dia bebas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN