27. Kemarahan

1122 Kata

Hari-hari berikutnya membuat dadaku selalu terasa sesak. Bukan karena pekerjaan, tapi karena Bianca. Cara dia memandangku berubah, bukan lagi sekadar dingin, tapi menantang. Seolah dia sedang menunggu aku terpancing, menunggu aku meledak. Pagi ini di dapur, aku menuang kopi ketika siku Bianca menghantam lenganku. Cairan panas itu tumpah ke pergelangan tanganku. “Bianca!” aku refleks berseru, menahan perih. Dia terlonjak, terlalu dramatis. “Astaga! Kak Zen, aku nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa?” katanya panik, tapi matanya kosong. Tidak ada rasa bersalah di sana. Aku menatapnya tajam. “Kamu lihat aku lagi di sini. Kenapa harus lewat mepet?” tanyanya tajam. Aku tahu dia sengaja melakukannya. Alisnya langsung berkerut, bibirnya bergetar. Sialan. Aku muak dengan ini, drama lagi. “Kaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN