Jam makan siang benar-benar berakhir. Kami melangkah keluar restoran, dan sinar matahari terasa menyengat ringan di area parkiran, suara pintu mobil dan klakson sesekali bersahutan. Kak Zian membuka kunci mobilnya, sementara Kak Vika sudah lebih dulu berjalan ke sisi pengemudi. “Zen,” panggil Kak Zian sambil berhenti melangkah. “Kamu ikut Rheef aja balik ke kantor," katanya. “Hah?” Aku menoleh pada Kak Zian. "Tadi kan aku ikut kamu, Kak," kataku. Zian menoleh santai, seperti baru saja memutuskan hal paling wajar di dunia. “Aku sama Vika mau kencan," jawabnya santai dengan nada sombong. Aku mencibir tanpa ragu. “Alasan klasik atasan. Seenaknya.” Aku mengomentarinya. Vika tertawa lepas, membuka pintu mobil. “Ih, iri bilang bos." Ledeknya sambil nyengir padaku. “Aku bukan iri,” ba

