25. Mengungkapkan

1116 Kata

Permisi.” Suara itu membuatku mendongak seketika. Rheef. Restoran yang tadinya terasa sunyi mendadak seperti menyempit. Beberapa pasang mata melirik ke arah kami, yah, lebih tepatnya ke arah Rheef. Aku tidak heran. Visualnya Rheef memang selalu menarik. Aku justru tersenyum, refleks, tanpa sempat menahan diri. Kak Zian menoleh perlahan, saat aku melihatnya. Tatapannya berubah, bukan kaget, tapi waspada. “Aku boleh duduk?” tanya Rheef, sopan, namun jelas tidak benar-benar menunggu izin. Dia menarik kursi di sebelahku dan duduk. Bahkan terlalu dekat, entah dia sengaja atau tidak. Tapi aku bisa merasakan kehangatan lengannya menyentuh lenganku, hanya saja aku tidak menjauh. “Kamu ...,” Zian mengalihkan pandangan dariku ke Rheef. “Kenapa datang ke sini?” tanyanya “Aku yang minta dia d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN