Kami tiba di restoran tidak lama kemudian. Tempatnya tidak terlalu ramai, tapi cukup tenang untuk makan siang dan ternyata cukup sunyi untuk interogasi. Kak Zian memilih meja di sudut, jauh dari lalu-lalang orang. Aku mengikuti tanpa banyak bicara. “Kamu duduk,” katanya singkat. Aku menarik kursi dan duduk, punggungku tegak tapi bahuku terasa kaku. Kak Zian masih berdiri sejenak, menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat, sebelum akhirnya duduk di seberangku, di sampingnya Vika turut duduk. Pelayan datang, menawarkan menu. Kak Zian memesan cepat, hampir tanpa melihat daftar makanan. Aku hanya mengangguk saat ditanya, memilih apa pun yang mudah dan tidak perlu kupikirkan, sama dengan pesanan Kak Vika. Begitu pelayan pergi, suasana langsung berubah. Tidak ada s

