Aku baru saja meletakkan tas di meja kerjaku ketika pintu ruanganku diketuk sekali, lalu terbuka tanpa menunggu jawaban. “Kamu terlambat,” suara Kak Vika terdengar lebih dulu sebelum sosoknya benar-benar masuk dan berdiri di depanku. Aku menoleh. Kakak iparku itu berdiri dengan tablet di tangan, setelan kerjanya rapi seperti biasa, ekspresinya tenang tapi sorot matanya jelas menyiratkan sesuatu. “Maaf,” kataku sambil menarik kursi. “Ada sedikit urusan pagi tadi.” “Sedikit?” Vika mengangkat alis. “Kamu bukan tipe yang ‘sedikit’ tapi menghilang tanpa kabar," katanya. Yah, dia terlalu hafal kebiasaanku. Aku menghela napas pelan. “Aku tidak bermaksud menghilang.” Aku mengakuinya, dan untuk menenangkan kakakku yang satu ini. “Zian mencarimu sejak semalam dan pagi ini, tapi ponselmu mala

