Aku tahu, kalau hari-hari ini akan menjadi berbeda. Jadi aku siap sejak tahu kalau Bianca seperti tak akan lagi menahan diri untuk menunjukan sikapnya. Jadi ketika aku ikut sarapan sebelum pergi ke kantor, aku sudah walau mood menjadi taruhannya. Duduk di kursi ku seperti biasa. Mengambil sarapan berupa roti, telur goreng, dan sosis bakar serta segelas s**u. Aku diam saja. Tapi aku tahu ada yang berbeda. Dan aku menyadarinya. Bianca bahkan tidak lagi repot berpura-pura. Pagi ini meja makan terasa sempit meski kursinya sama. Aku baru duduk, baru menyentuh sendok, ketika tangan Bianca bergerak pelan, tapi terlihat sengaja. Gelas s**u di depannya terguling. “Ups.” Susu tumpah, mengalir melewati meja, jatuh tepat ke lengan dan d**a bajuku. Aku membeku. “Oh ya ampun,” kata Bianca, menut

