Saat aku melewati pintu utama, Lisa menghentikanku tepat sebelum aku sempat menaiki anak tangga. “Zenata,” panggilnya lembut, nyaris seperti bisikan yang ditata rapi. “Kamu ke mana?” “Kamar,” jawabku singkat. “Aku capek.” Lisa tersenyum, senyum yang selalu dia pakai saat ingin terlihat bijak. “Sebentar saja. Makan malam ini spesial. Kamu harus ikut.” Aku menoleh ke ayah, berharap ada penolakan darinya. Tapi ayah hanya mengangguk datar. “Ikut dan duduklah sebentar. Tidak lama.” Aku menarik napas panjang, lalu berbalik tanpa membantah. Saat duduk, aku baru menyadari kalau kursiku berada tepat di samping Rheef. Seolah itu sudah diatur. Rheef menoleh, melihat ekspresiku, lalu memberi anggukan kecil yang menenangkan. Tangannya menyentuh punggung tanganku sekilas di bawah meja, seakan m

