Usai makan malam ini, rumah terasa asing dari biasanya. Tidak ada percakapan ringan di sofa, tidak ada basa-basi yang biasanya dipaksakan Lisa demi menjaga kesan hangat. Semua orang seolah tahu batasnya masing-masing, dan memilih diam. Rheef benar-benar membuat meja makan dalam keadaan hening. Bukan hening yang canggung semata, tapi hening yang sarat makna, seolah kata-katanya tadi masih menggantung di udara, menolak untuk dilupakan begitu saja. Lisa tampak paling jelas merasakan dampaknya. Senyum ramahnya tak kembali, gerak-geriknya kaku saat merapikan meja, dan sesekali dia menghindari tatapanku. Ada malu di sana, juga perhitungan yang gagal dia sembunyikan. Bianca berbeda, dia tidak berusaha menutupi kekecewaannya. Tatapannya kosong, pundaknya tegang, dan sejak Rheef menegaskan bahwa

