Eps 6

1320 Kata
"Mari, silahkan duduk" Ucap sang Direktur begitu keduanya masuk kedalam ruangan khusus (Ruang kerja) "Anda lulusan mana?" "Saya lulusan S1 jurusan teknologi pendidikan di Universitas Jakarta, sekarang saya masih menjalani S2 tetapi saat ini sedang cuti kuliah, ini surat bukti izin cuti saya pak" Khefaz pun memberikan lembaran kertas tanda bukti tersebut. Begitu dibaca perlahan isi didalam kertas itu, sang Direktur pun menyadari sesuatu "Khefas Vanderson. Dari nama belakang anda terlihat tidak asing. Sepertinya saya pernah mendengar nama ini, apakah ..." "Ayah saya sekretaris jendral di kementrian ESDM Dr.Ir. Vanderson, M.sc pak" Jelas Khefaz. "Astaga, Anda putra-nya Pak Vanderson itu?" Tampak terkejut "Betul pak" "Ya ya ya saya pernah membaca tentang pak Vanderson di internet dan koran. Lalu ... jika begitu untuk apa anda mau mendaftar menjadi guru sukarelawan?" Khefaz masih diam seribu bahasa. "Uang jajan bulanan anda saja ... sangat mampu menggaji seorang guru sukarelawan bahkan untuk satu tahun kerja. Dan dari lulusan pendidikan S1 anda, anda bisa mendapatkan pekerjaan yang layak." "Itu uang keluarga saya pak, saya pribadi tidak memiliki uang" Sang direktur pun senyum dan menggeleng-gelengkan kepala penuh heran, lalu dia sengaja membahasnya lebih lanjut "Kalaupun benar anda ingin mrngajar, anda ingin di tempatkan dimana?" Pikiran Khefaz terngiang tulisan berisikan nama desa didalam buku Diary yang sempat dia baca sekilas. "Saya ingin di tempatkan di desa matanganong, pak" "Apakah anda tahu seperti apa desa itu?" Sang direktur nampak membelalak penuh heran. "Saya pernah mendengarnya pak" Masih sulit percaya dengan keinginan putra Vanderson ini lantaran nama desa itu belum masuk kedalam daftar pencarian di internet (Wikipedia, dll) lalu darimana pemuda ini bisa mengetahuinya? Dengan mengatur napas secara baik-baik, lekaslah dia mengatakan "Baiklah, sekarang saya tanya pada anda terlebih dahulu. Apakah anda pernah tinggal di tempat yang tidak memiliki persediaan listrik dan air?" Dengan jujur Khefaz menggelengkan kepala, lalu menjawabnya "Tidak pak" "Pernahkah anda memasak makanan untuk diri anda sendiri?" "Tidak pernah pak" "Dan ... Pernahkah anda hidup tanpa bantuan asisten rumahtangga?" Khefaz menghela napas perlahan, dan menjawabnya dengan kalimat serupa "Tidak pernah pak" Sang direktur pun terlihat kesal akan hal ini lantaran sangat mustahil apabila orang semacam putra Vanderson ini dapat hidup di daerah itu, tetapi melihat tekatnya sangat besar, lekaslah ia memperingatinya sejenak "Taukah anda menjadi guru di daerah itu sangat tidak mudah. Daerah itu terpencil dan sangat terpencil bahkan belum tersorot awak media sampai saat ini. Penduduknya pun masih sangat primitif. Sebagian Orang yang tinggal disana berasal dari luar daerah sana mengorbankan waktunya untuk mencari seorang guru untuk mengajar generasi penerus. Jika anda bersedia mengajar disana hanya ingin coba-coba untuk unggahan media sosial anda ataupun untuk portofolio pengunjungan anda semata, saya sarankan urungkan niat anda." Khefaz enggan bila direndahkan prihal kemampuan, ia pun langsung menjawabnya "Tidak pak, saya benar-benar ingin mengajar disana" "Huff ... baiklah, sekarang jawablah pertanyaan saya selanjutnya" Khefaz mendengarkan sungguh-sungguh sembari menatap kedua mata orang itu. "Apakah ada hal yang tersulit didalam hidup anda sehingga anda bersikeras ingin mengajar disana? Apakah anda sedang mencari makna hidup?" Khefaz diam seribu bahasa tidak mau menjawabnya. Bukan hal lain, selain ia sendiri saja tidak tahu-menahu tentang kenapa ia sangat ingin pergi kesana. Selepas berulang-ulang Khefaz meyakinkan si Direktur bahwa ia mampu, akhirnya diperbolehkan oleh sang Direktur untuk mengajar disana dengan syarat yang sudah disepakati, berupa apapun rintangan yang akan datang menghadang sewaktu diperjalanan, maupun konflik dengan penduduk pedalaman itu, Khefaz tidak di perbolehkan pulang sebelum masa mengajarnya selesai maupun tidak dapat menuntut apapun. "Baik pak, terima kasih, saya setuju dengan semua konsekuensinya" Khefaz tanpa ragu menandatangi surat perjanjian itu setelahnya berlalu dari sana. ___ Setibanya di rumah hari sudah petang, sang bunda pun langsung menyambut kepulangannya "Darimana saja kamu Nak. Kenapa nomor kamu tidak bisa kami hubungi sejak pagi?! Apakah kamu sudah minum obat sesuai anjuran dokter? Jangan sampai telat loh Nak, kamu belum sepenuhnya pulih. Dan kamu--" berbicara beruntun tanpa jeda bagaikan tanpa rem saat berkendara. "Haishh sudahlah ma, aku bukan anak kecil lagi. Aku tadi pergi cuma nyari angin, bosen di rumah terus!" "Khefaz" Panggil Vanderson dari arah pintu kamar kemudian langsung menegurnya. "Kau ini masih saja selalu begini, keluyuran terus, keluyuran terus! Apa kau tidak jera dengan apa yang telah kau alami hah! Mama menegurmu karena dia sayang dan sangat mengkahatirkan kau Khefaz!" Khefaz tidak mempedulikan omelan itu, melainkan beralih perbincangan lain "Dia bernama Zadav Yesaya seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama Om dan tantenya yang papa dan mama beli jantungnya kan pa, ma? " Tentunya kedua orangtuanya membelalak kejut "Apa maksud yang kau bicarakan itu Khefaz" "Aku udah tau orang yang jantungnya di beli oleh papa demi anaknya yang gak berguna sepertiku ini, Kenapa papa begitu kejam dengan anak orang lain! Kenapa kalian egois! Apa papa dan mama tau selama hidup dia selalu menafkahi keluarganya, kenapa papa merenggut nyawa dia pa, kenapa!" Sang bunda langsung menangis melihat putranya yang sekarang berubah menjadi seperti ini sejak transpalasi jantung. Sementara Vanderson langsung berkata "Itu sudah takdir hidupnya! Dan ini juga sudah takdir hidupmu, Khefaz. Sudahlah tidak usah banyak beromong-kosong!" dengan jawaban kalimat ini, tentunya semakin jelas bahwa benar jantung Zadav Yesaya-lah sekarang berada di tubuhnya bagi Khefaz. "Aku tidak pernah menyangka, ternyata aku memiliki orangtua yang kaya-raya tapi miskin hati, sangat kejam seperti ini!" Khefaz langsung berlalu dari sana kemudian masuk kedalam kamarnya. ____ Semacam laki-laki cengeng begitulah yang terjadi dengan Khefaz saat ini sangat Antonim dari Khefaz yang dulu. Ia sesegukan seorang diri meratapi nasib orang lain yang seakan ada kaitannya dengan hidupnya (Misteri alam) Kemudian sang bunda datang ke dalam kamarnya dan duduk di sebelahnya. "Nak ..." Sejak Khefaz tumbuh besar sang bunda tidak pernah melihat Khefaz menangis seperti ini, membuat ia selaku wanita yang melahirkannya terasa sesak didalam d**a. "Kenapa ma ... "Khefaz hendak mengemukakan kalimat serupa seperti tadi, tetapi terpotong oleh sang bunda "Dengarkan mama bicara dulu ya Nak ..." Akhirnya Khefaz diam, sembari menyapu air mata di pipinya. "Mungkin dengan apa yang kami lakukan ... kamu masih menilai kami orang yang kejam dan tidak manusiawi. Tapi ketahuilah Nak, didunia ini semua orangtua berjuang demi kehidupan anak-anaknya dan menjamin semuanya agar kehidupan anaknya tercukupi. Mama sedih sekali sayang setiap kali kamu membahas ini selalu menyalahkan kami. Baiklah, sekarang mama ceritakan padamu ya Nak. Saat kondisi kamu kritis di rumah sakit, ada pasien lain di sebelah ruanganmu sedang kritis juga. Saat itu kebetulan tirai gorden sedikit terbuka ada beberapa suster yang datang ke ruangan pasien itu, pasien itu sempat sadar nak dan melihat ke arah kamu, lalu ..." "Lalu apa ma? Apa yang terjadi?" "Lalu dia berbicara sama papa dan mama dengan suara yang tersenggal-senggal, dokter pun mengatakan kalau nyawa pasien itu sudah tidak bisa tertolong lagi. Pasien itu mengatakan pada kami kalau mau mendonorkan jantungnya sendiri untukmu Nak ..." "Tidak!" Khefaz benar-benar tidak menyangka. "Kami tidak punya pilihan lagi selain menerimanya Nak, kami sangat khawatir dengan kondisimu, lalu kami pun memberikan uang untuk keluarganya sebagai rasa terima kasih kami. Mama perjelas lagi, Kami tidak sengaja membeli jantung pasien itu nak, jikapun kami terpaksa harus membeli jantung, kami tidak akan membeli jantung orang yang masih hidup apalagi orang yang sedang kesulitan Nak ..." Air mata Khefaz sempat terjeda, lalu sekarang berlinang lagi. "Kenapa ma ... kenapa Tuhan begitu tidak adil seperti ini" "Jangan berbicara seperti itu Nak ...." "Kenapa orang sebaik dia bahkan masih muda sudah menafkahi keluarga, Tuhan secepat itu mengambilnya ma?" Sang bunda pun mengusap lembut rambut putranya itu, lalu mengatakan "Nak, seumpama kamu mama ajak ke sebuah taman, di taman itu banyak sekali bunga-bunga bermekaran, sebagian ada bunga yang layu karena tersengat matahari, tetapi disana masih ada yang mekar segar dan indah, mana yang kamu pilih?" "Aku pastinya akan memilih bunga yang masih mekar dan segar ma." Nada bicara Khefaz teralihkan dari masalah tadi, seumpama seperti anak kecil yang sedang di bacakan dongeng oleh bundanya. "Nah, begitulah juga yang Tuhan lakukan. Dia suka dengan kebaikan orang itu seperti bunga mekar segar, makanya dia cepat-cepat mengambilnya nak ... agar tidak layu mau dia taruh di Taman sorganya. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN