1. Dipaksa Nikah.
“Jadi kapan, kamu mau bawa calon mantu mama ke rumah, Fatra?” Tanya Bu Andri yang tak lain adalah mamanya sendiri, tanpa memberi aba-aba. Fatra yang baru saja ingin merebahkan diri ke sofa langsung menegakkan punggungnya lagi. Ditaruhlah tas tabungnya ke atas sofa. Sedikit menghela nafas. Fatra membalikkan badan, kemudian menatap mata mamanya intens.
“Ma, Fatra baru aja sampai rumah lho. Kok langsung ditanyain begituan. Jadi ini tujuan mama nungguin Fatra pulang? Cuma mau nanyain ini?” Wajah fatra sedikit beriak. Antara lelah dan bercampur sedikit emosi.
“Harus berapa kali sih, Fatra bilang ke Mama? Fatra belum mau menikah Ma untuk saat ini. Masih banyak hal yang mau Fatra kejar.” Fatra menjatuhkan dirinya ke sofa berwarna cokelat tua di ruang tamu rumah itu.
“Apa lagi sih yang kamu kejar? Kerjaan sudah mapan. Finasial sudah lebih dari cukup. Umur sudah cukup. Mau apa lagi? Umur kamu itu sudah dijatuhi wajib untuk menikah.” Bu Andri menyusul duduk di sofa tunggal lainnya. Tatapan Fatra mengedar ke langit-langit rumah. Kedua tangannya terulur ke sisi kanan dan kiri. Bu Andri menatap anak sulungnya itu dengan tatapan sendu.
“Melati sudah bahagia dengan pilihannya Fatra. Dia bahkan bisa melanjutkan hidup tanpa memikirkan kamu.”
Fatra terhenyak. Kedua bola matanya melebar. Jantungnya seakan dihantam dengan sesuatu yang keras.
Deg.
Begitu kencang sampai badannya menegak. Kini Fatra menatap tajam mamanya.
“Kenapa Melati lagi? Kenapa lagi-lagi Melati yang mama ungkit? Ini semua enggak ada hubungannya sama Melati Ma.”
Kedua mata Bu Andri perlahan menghangat. Tarikan nafasnya mulai naik turun tidak teratur. Balas menatap tajam Fatra.
“Kamu masih berharap sama perempuan itu? Setelah apa yang sudah dia perbuat ke kamu? Kamu seakan jadi mayat hidup Fatra! Anak yang mama besarkan dengan kasih sayang, mama rawat dan jaga dengan sungguh-sungguh, dihancurkan dalam satu malam!” Tegas dan keras dalam satu tarikan nafas Bu Andri berujar. Menghela nafas pelan, Fatra mencoba bersabar. Pada akhirnya Fatra berdiri dan hendak menyudahi obrolan dengan sang mama. Obrolan yang dia yakini akan berujung dengan saling emosi. Fatra memejamkan kedua matanya sejenak. Sebelum melangkahkan kakinya, Fatra berkata dengan sehalus mungkin
“Mulai besok Fatra stay di apartemen lagi.”
Bu Andri sedikit terkejut. Pasalnya Fatra baru satu tahun ini tinggal lagi bersamanya di rumah. Itu pun harus dengan bujukan yang butuh sekali usaha.
Semenjak Fatra diputuskan sepihak oleh Melati dulu. Fatra memilih tinggal sendiri di apartemen pribadinya. Dengan alasan ingin menenangkan diri dan menata lagi hatinya. Lima tahun berpacaran dengan Melati bukanlah waktu yang sebentar. Susah dan senang sudah mereka lalui bersama. Tetapi suatu hari Melati memutuskan hubungan mereka sepihak. Tanpa ada obrolan tanpa ada pembicaraan. Hanya karena alasan Fatra terlalu baik untuknya. Perbedaan status sosial menjadikan Melati selalu merasa tidak nyaman dengan hubungan mereka. Padahal selama berpacaran Fatra tidak pernah, bahkan sama sekali tidak menyinggung perbedaan status mereka. Yang penting bagi Fatra, Melati mau menerimanya sudah lebih dari cukup. Alhasil setelah diputuskan Melati, Fatra menjadi pribadi yang semakin tertutup.
“Kamu mau ninggalin mama?”
“Fatra enggak akan ninggalin mama. Toh masih ada Kirani dan Kinara di rumah.” Ucap Fatra menyebutkan nama adik-adiknya. Si kembar. Kirani dan Kinara yang berusia 20 tahun.
“Fatra enggak mau bikin mama sedih. Fatra enggak mau melakukan hal yang Fatra sendiri belum siap buat menjalaninya. Menikah untuk fatra itu untuk seumur hidup Ma. Bukan hanya sebulan atau dua bulan.”
“Ya makanya jangan berpisah dong. Dengan menikah hidup kamu jadi terarah fatra. Lebih jelas. Enggak kelumbrak-kelumbruk gini.”
“Kelumbrak-kelumbruk gimana sih, Ma? Fatra lho, kerja dari pagi sampai sore. Kadang sampai malam, kadang lagi sampai enggak pulang.” Merasa emosinya sudah mau sampai ubun-ubun, Fatra memilih mengalah. Dilangkahkan kedua kakinya menuju kamar. Tetapi tiba-tiba terhenti saat mamanya Kembali bertanya dengan pertanyaan yang benar-benar membuatnya tak habis pikir.
“Kamu masih laki-laki normal kan fatra?”
Fatra seketika memutar, membalikkan badannya. Mulutnya ternganga dan matanya membulat. Fatra bertanya, memastikan pendengarannya tidak salah.
“Apa? Mama bilang apa barusan? Fatra gak salah dengarkan?”
Bu Andri terdiam, hanya menatap anaknya dengan tatapan datar. “Sudah banyak berita diluar sana yang menyudutkan kamu, Nak. Apa kamu enggak tahu dan enggak sadar itu?”
“Berita apa sih, Ma? Mama dengar dari mana?” tanya balik Fatra dengan nafas yang sedikit memburu.
“Kamu enggak perlu tahu, Mama dengar darimana. Yang perlu kamu tahu, Mama enggak mau anak Mama digosipkan yang tidak baik.”
“Mama percaya itu? Mama lebih percaya dari berita murahan itu daripada sama anak Mama sendiri? Iya?”
“Ya kalau itu enggak benar, buktikan Fatra.” Bu Andri melangkah pelan, mendekati anak sulungnya itu. Tangannya terangkat ke udara, meraih salah satu tangan Fatra, lalu menggenggamnya lembut.
“Kamu enggak tahu gimana Mama sangat khawatir sama kamu. Mama takut orang-orang menilai buruk kamu, Mama enggak mau, Fatra. Mama enggak mau.”
“Terus Mama maunya apa?” Fatra menatap Mamanya setengah frustasi.
“Mama cuma mau kamu segera menikah, itu saja.” Jawab Bu Andri dengan sorot mata yang memohon.
“Apa dengan Fatra menikah, semua masalah selesai, Ma?”
“Seenggaknya orang-orang percaya kalau kamu normal Fatra.”
“Ma –”
“Fatra! Coba, sekali ini aja, kamu dengerin Mama. Semua ini bukan semata-mata buat Mama, tapi buat kamu juga, kebaikan kamu.”
Fatra benar-benar lelah. Fatra benar-benar tak ingin berdebat, terlebih dengan Mamanya sendiri. Perempuan yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkannya ke dunia. Perempuan yang sudah susah payah mengasuh dan merawatnya hingga saat ini. Fatra menghela nafasnya. Mengalihkan pandang sejenak ke arah lain. Tak kuat berlama-lama menatap sorot mata Mamanya yang penuh harap itu.
“Fatra enggak mau berdebat sama Mama.” Ucap Fatra lirih.
“Mama juga enggak mau, Nak.” Balas Bu Andri.
“Ya terus? Mama udah tahu keputusan Fatra, Mama udah tahu apa yang Fatra mau. Problem solve, kan?”
“Bu Rahmat, beberapa hari yang lalu, melihat kamu masuk ke hotel bersama laki-laki.” Ucap Bu Andri dengan suara sedikit bergetar. Dahi Fatra bertaut, mengernyit. “Terus?” Fatra bertanya, sedangkan Bu Andri hanya diam, tidak menjawab dan merespon apapun.
“Hotel mana?” Fatra kembali bertanya.
“Tentrem. Jalan AM Sangaji.”
Fatra mendongak, sesaat kemudian menunduk. “Mama..” ucapnya lirih. Fatra benar-benar tak habis pikir. Bingung bagaimana menjelaskan semua kepada Mamanya.
“Laki-laki itu siapa, Fatra? kenapa kamu masuk ke hotel dengan laki-laki?”
“Huuuah!” Fatra menghela nafasnya kasar, diiringi sedikit emosi, namun setengah mati dia tahan.
“Beliau Mister Jeff Wang, Ma. Calon investor di kantornya Pak Irfan. Kenapa Fatra masuk ke hotel sama beliau? Ya karena beliau orang asing, beliau enggak bisa bahasa Indonesia. Fatra bantu beliau buat cari kamarnya. Beliau juga datang ke sini juga sama istri dan anak-anaknya.” Jelas Fatra benar-benar berusaha bicara dengan nada lembut.
“Jadi.. bukan..?”