1. Prolog
Napas Jung Nara serasa tersekat ketika pria aneh bernama Oh Sejun tersenyum penuh arti padanya setelah mengemukakan penawaran yang menurutnya akan sangat membantunya keluar dari masalah. Gadis cantik bersurai panjang sepunggung itu menjatuhkan pandangan ke secangkir caramel machiato yang belum sempat ia sesap, sementara jari-jarinya yang lentik bergerak-gerak anggun di atas meja sambil sesekali melirik Sejun.
Bukankah ini seperti keluar dari kandang singa lalu masuk ke kandang macan?
Nara menutup kedua kelopak matanya sembari menghela napas panjang. Dia pijat pelipisnya dengan gerakan yang lembut ketika ribuan jarum seolah sedang menari-nari di atas kepalanya hingga dia merasa pening. Jangankan menjawab tawaran gila yang Sejun ajukan padanya barusan. Memikirkannya dengan kepala dingin pun, Nara benar-benar tidak sanggup. Semua ini terlalu aneh dan terlalu tiba-tiba.
Lagi pula... bagaimana mungkin Nara bersedia mengucapkan janji suci dengan Oh Sejun sedangkan di matanya, Sejun hanyalah seorang pria aneh yang sialnya sangat tampan dan sedikit gila. Bayangkan saja, belum lama Nara sadar dari koma setelah jatuh dari lantai dua belas apartemennya sendiri, tiba-tiba Sejun menerobos masuk ke dalam ruang rawatnya kemudian memeluknya erat-erat. Padahal, Nara sama sekali tidak mengenal Sejun kala itu. Jangankan mengenal, jika Sejun tidak masuk seenaknya, Nara pun tidak yakin jika mereka berdua akan bertemu.
"Bagaimana? Daripada kau menikah dengan pria tua yang hanya bisa menyiksamu dengan timbunan lemaknya, lebih baik kau menikah denganku. Setidaknya aku jauh lebih tampan, lebih kaya, dan lebih bugar daripada dia. Aku jamin ayahmu tidak akan mampu menolak lamaranku. Sedangkan untukmu, aku akan berusaha menjadi suami yang baik. Memuaskanmu secara jiwa dan raga, menghormatimu sebagai seorang istri. Tawaran yang sangat menarik, bukan?"
Senyum maut Oh Sejun mengembang secara perlahan diiringi sapuan angin yang menerbangkan anak rambut mereka. Atas pemandangan indah yang mampu menggetarkan hati setiap kaum hawa yang memandang, Jung Nara pun terpana. Ketampanan yang tak dapat dibantah, kekuatan yang tersimpan dibalik kemeja pas badan, serta rayuan manis yang tersembunyi di dalam setiap lantunan kalimat yang ia lontarkan, tentu saja membuat Nara setuju akan satu hal.
Dia... benar-benar gila jika menolak kesempatan emas ini hanya demi menuruti perintah tak waras dari sang ayah.
Bagaimanapun, Oh Sejun berkali-kali lipat lebih baik dibandingkan dengan Mr. Wang—si pria tua sialan yang sangat bersemangat ingin menikahi Nara yang notabene seumuran dengan anaknya.
"Tuan Oh Sejun yang terhormat, sebenarnya aku penasaran akan satu hal."
"Apa itu?"
Nara menyeringai. "Sebenarnya, apa yang membuatmu ingin menikah denganku? Bukankah di sekelilingmu banyak wanita cantik yang akan dengan senang hati menerima tawaranmu itu? Jelas-jelas aku sudah menolakmu tempo hari. Kenapa kau tetap bersikeras?"
Sorot mata elang yang menghujam manik sewarna madu itu meredup. Bibir Sejun tertarik tipis, sementara kernyitan di dahi Jung Nara semakin kentara ketika menit di antara mereka bergulir tanpa ada satu pun kata yang Sejun luncurkan sebagai jawaban. Tepat setelah menit ketiga berlalu, suara rendah pria itu menggema menerobos gendang telinga Nara.
"Karena segala sesuatu yang sulit didapatkan justru terasa lebih menantang," ucap Sejun santai kemudian menyesap espresso miliknya.
"Oh, i see.... Bagi seorang pria, mendapatkan sesuatu yang menjadi tantangan terbesarnya itu merupakan sebuah prestasi. Prestasi yang nantinya akan dibangga-banggakan karena berhasil keluar sebagai pemenang, tetapi jika sudah bosan, dia lupa kalau dulu untuk mendapatkannya dibutuhkan perjuangan."
Sejun tersenyum, sedikit memiringkan kepala. "Sepertinya kau tidak puas dengan jawabanku."
Nara terdiam. Perkataan Sejun terasa menohok hatinya karena alasan tertentu, hingga gadis itu bergerak-gerak tak nyaman di tempat ia duduk. Dia pun tidak tahu jawaban apa yang ia cari dari Sejun. Hanya saja, iris pekat kopi milik Sejun seolah menyimpan alasan yang tidak sesederhana menaklukan tantangan.
"Meski kau tidak puas dengan jawabanku tadi, anggaplah itu sebagai alasan terbaik yang bisa aku ucapkan. Karena jika aku mengatakan 'aku mencintaimu' sebagai alasan, kau tetap tidak akan percaya."
Sejun tersenyum mengejek dengan satu alis terangkat tinggi. "Aku benar, kan?" lanjut pria itu sambil mencondongkan tubuh ke depan. Nara terkesiap. Gadis itu merasakan panas di kedua pipinya, sementara rona merah mulai menjalar di sana.
"Dasar laki-laki sialan!" Nara menggerutu dalam hati, kendatipun dia tidak dapat memungkiri adanya sentuhan sehalus sutra yang membelai sanubarinya kala kata-kata 'aku mencintaimu' lolos dari bibir Oh Sejun.
Tak lama kemudian, Sejun tertawa renyah yang tak ayal membuat Nara cemberut bingung.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Nara sinis.
"Aku tertawa karena... jika dilihat dari semburat merah di wajahmu, kau sepertinya tidak akan mampu menolak tawaranku," tebak Sejun dengan sikap menyebalkan. Jung Nara mencebik kesal. Memutus tatapannya dengan memalingkan wajah ke arah jendela Coffee Shop yang mereka datangi.
"Baiklah, aku setuju menikah denganmu."
Sejun pun tersenyum puas. Hatinya penuh sorak sorai kemenangan meskipun raut wajahnya terlihat datar-datar saja.
"Tapi aku punya beberapa syarat." Nara melipat tangannya di depan d**a, menatap Sejun dingin.
"Syarat apa?." Suara pria itu tegas tetapi santai.
"Pertama, kau tidak boleh menahanku jika suatu hari nanti, aku bertemu dengan seorang pria yang benar-benar aku cintai. Begitu pula denganmu, aku tidak akan melarangmu jatuh cinta pada gadis lain selama kita masih menikah. Kedua, pernikahan kita akan berakhir satu tahun kemudian. Dan ketiga, aku tidak mau memiliki anak dengan pria yang tidak aku cintai. Jadi jangan coba-coba berpikir untuk menyentuhku!"
"Aku tidak setuju pada poin ketiga," kata Sejun tegas. "Jika kau tidak ingin mengandung darah dagingku, it's ok. Tapi jika aku tidak boleh menyentuhmu sama sekali, aku tidak bisa. Yang namanya suami istri, berhubungan intim adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan. Kau tidak boleh mengingkari kewajibanmu, Sayang."
Nara memutar bola matanya malas kemudian berkata, "Oke. Jika kau tidak mau, maka tawaran darimu otomatis aku tolak." Gadis itu pun berdiri kemudian pergi meninggalkan Sejun tanpa berkata apa-apa lagi.
Setelah berada di luar Coffee Shop, langkah Nara terhenti. Gadis beriris sewarna madu itu melirik ke belakang melalui celah bahu. Dia sangat berharap kalau Sejun lari mengejarnya, kemudian mengabulkan apa yang dia mau. Namun sayangnya tidak. Pria kurang ajar itu tetap tenang di atas tempat duduk, sembari menikmati manis pahit kopi kedua yang baru ia pesan.
"Sialan!" Sambil mendecakkan lidah, gadis itu kembali masuk ke dalam Coffee Shop.
Duduk di hadapan Sejun yang pura-pura sok kaget dengan kehadirannya. "Eh, kau datang lagi rupanya. Bagaimana? Apa kau berubah pikiran?"
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu!"
Sejun tertawa mengejek yang membuat Nara tersipu malu. "Baiklah, untuk poin ketiga, aku akan memberikan kelonggaran padamu. Kau aku izinkan menyentuhku selayaknya seorang suami setelah kita menikah. Tapi kau harus berjanji untuk tidak membuatku hamil. Bagaimana?"
Sejun tersenyum cerah mendengar keputusan dari Nara. Sambil menahan senyum kemenangan, Sejun mendesah lega lalu berkata, "Oke. Aku setuju."
"Dua hari lagi adalah batas waktu untuk kau datang melamarku."
"Kau tidak perlu menunggu sampai dua hari, karena nanti malam aku akan datang membawa keluargaku untuk melamarmu. Aku juga sudah tidak sabar," Sejun setengah berdiri, mencondongkan tubuh ke arah Nara dengan kedua tangan bertumpu pada meja, "untuk menikmati malam pengantin kita. Aku ingin melihatmu sebelum aku tidur dan setelah aku membuka mata. Jadi jangan coba-coba menarik perkataanmu karena kalau kau berbuat demikian, aku akan marah."