Bab 01
Suara desahan napas berat dan erangan manja terpancar jelas dari speaker laptop mahal di atas meja. Di dalam ruang kerja serba hitam yang mewah itu, layar monitor menampilkan adegan panas dua insan yang saling membelit. Namun, bagi Gilang Admaja, tayangan visual berdurasi panjang itu tidak memberikan efek apa pun.
Lelaki berusia 31 tahun itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit kebesarannya. Lengannya bergerak ke bawah, mencoba memijat dan memainkan miliknya sendiri di balik celana kain yang ia kenakan. Berulang kali tangannya bergerak, menstimulasi dengan berbagai cara yang ia pelajari dari film-film tersebut, tetapi hasilnya tetap sama: nihil.
Benda di balik celananya itu tetap lemas, dingin, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tak ada sedikit pun gairah yang membakar dadanya.
"Sialan!"
Dengan emosi yang sudah meluap di ubun-ubun, Gilang mendorong laptop di depannya hingga terlempar dan jatuh menghantam lantai marmer. Layar bergetar lalu mati total, menghentikan suara desahan yang sejak tadi hanya menjadi ejekan bagi ketidakmampuannya.
Gilang mendesah kasar. Ia menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, meremas rambutnya yang berantakan. Ia melirik jam dinding berdesain minimalis yang tergantung di sudut ruangan. Jarum pendek sudah menunjuk ke angka dua malam. Suasana ruang kerjanya begitu hening, menyisakan kesendirian yang makin mencekik.
Dia masih belum bisa tidur. Pikiran tentang ketidakmampuannya terus berputar seperti lingkaran setan yang tak berujung.
Gilang adalah seorang CEO muda yang sukses luar biasa. Di dunia bisnis, dia adalah sosok yang ditakuti dan dihormati. Tatapan matanya mampu membuat lawan bisnis gemetar, dan kekayaannya sanggup membeli apa saja yang ia inginkan di dunia ini. Wanita-wanita cantik dari berbagai kalangan berbaris ingin mendapatkan perhatiannya. Namun, di balik semua kesempurnaan itu, Gilang menyimpan rahasia besar yang sangat meruntuhkan harga dirinya sebagai seorang pria.
Dia tidak pernah merasakan miliknya berdiri tegak.
"Apa aku benar-benar impotent?" gumamnya lirih pada kegelapan kamar. Suaranya terdengar begitu frustrasi dan muram.
Selama bertahun-tahun, Gilang telah mencoba berbagai cara. Dokter spesialis terbaik di dalam maupun luar negeri sudah ia temui secara diam-diam. Berbagai suplemen mahal, terapi medis, hingga obat penambah gairah tercanggih telah masuk ke dalam tubuhnya. Tidak ada yang berhasil. Bahkan, ia pernah menyewa wanita-wanita bayaran paling berpengalaman dan berkelas untuk memancing gairahnya. Namun, ketika wanita-wanita itu berada di atas ranjangnya dengan pakaian minim, Gilang tetap merasa hampa. Benda itu mati total, seolah tak memiliki saraf kehidupan.
Dia benar-benar tidak tahu lagi harus menggunakan cara apa agar miliknya yang katanya impotent itu bisa berdiri tegak dan merasakan bagaimana nikmatnya gairah yang membakar seperti pria normal lainnya.
---
Keesokan harinya, matahari terbit membawa rutinitas baru di kantor pusat Admaja Group. Gilang tiba di ruangan kerjanya dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata, dampak dari kurang tidur semalaman. Wajahnya dingin dan tidak tersenyum sedikit pun, membuat para staf yang berpapasan dengannya memilih menunduk takut.
Di depan pintu ruangannya, seorang wanita muda berdiri rapi sambil memegang setumpuk dokumen penting. Dialah Sekar Anggini, sekretaris baru yang baru bekerja selama dua minggu di kantor tersebut.
Sekar adalah wanita yang sangat sederhana. Pakaian yang dikenakannya selalu tertutup rapi—kemeja lengan panjang yang dikancingkan hingga mendekati leher, serta rok span panjang di bawah lutut. Gaya bicaranya santai, terkesan sangat polos dan tidak banyak bertingkah. Namun, di balik pakaiannya yang terkesan sopan dan membosankan itu, Sekar memiliki proporsi tubuh yang sebenarnya sangat menonjol. Bentuk dadanya padat berisi, dan lekuk pinggul serta bokongnya sangat berbobot—sebuah aset alami yang selalu ia tutupi agar tidak menjadi perhatian pria-pria di kantor.
Tok, tok.
Sekar mengetuk pintu pelan sebelum akhirnya membukanya setelah mendengar gumaman dingin dari dalam.
"Selamat pagi, Pak Gilang. Ini berkas laporan keuangan cabang yang Bapak minta kemarin sore," kata Sekar lembut, melangkah masuk dengan sopan.
Gilang yang sedang memijat pelipisnya hanya menoleh singkat. "Letakkan saja di meja," jawabnya datar tanpa minat.
Sekar mengangguk pelan. Langkah kakinya terdengar bergeser mendekati meja besar sang CEO. Saat ia membungkukkan badan untuk menata berkas-berkas tersebut agar rapi, kain kemeja putihnya yang berbahan halus sedikit tertarik kencang di bagian belakang.
Secara tidak sengaja, pandangan mata Gilang yang semula kosong terarah pada sosok sekretarisnya. Dari posisinya duduk, Gilang melihat bagaimana kain rok span yang dikenakan Sekar membungkus ketat bagian bawah tubuh wanita itu saat membungkuk. Bentuk b****g yang berisi dan padat itu terlihat begitu jelas, menciptakan siluet yang sangat indah dan alami.
Tak hanya itu, saat Sekar kembali menegakkan tubuhnya dan membalikkan badan, kancing kemeja bagian atas wanita itu sedikit meregang karena terdorong oleh bentuk dadanya yang sangat busung dan padat.
Seketika, ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam tubuh Gilang.
Sensasi panas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya mendadak menjalar cepat dari dadanya turun ke area bawah perut. Jantungnya berdetak kencang secara tiba-tiba. Suara desir darah yang mengalir deras terdengar jelas di telinganya.
Gilang membeku di tempat duduknya. Matanya terpaku pada sosok Sekar yang masih berdiri polos di depannya sambil merapikan pakaian.
Dan detik berikutnya, sebuah keajaiban yang selama ini ia tunggu-tunggu terjadi begitu saja.
Area sensitif di balik celana kerjanya mendadak berdenyut kuat. Saraf-saraf yang selama bertahun-tahun dianggap mati itu mendadak bangkit, menegang, dan berdiri sangat keras hingga menekan kain celananya dengan ketat. Rasa sesak dan tegang yang teramat sangat menjalar di area selangkangannya.
Gilang menahan napas. Matanya melebar penuh keterkejutan. Miliknya berdiri! Sungguh berdiri tegak dan sangat keras!
Rasa heran, tidak percaya, dan gairah yang meluap-luap bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Bagaimana mungkin puluhan wanita bayaran paling seksi tak mampu membuatnya terangsang, tetapi hanya dengan melihat gestur polos dan bentuk tubuh tersembunyi dari sekretarisnya ini, gairahnya membakar hebat?
Tatapannya yang semula dingin kini berubah total menjadi tatapan berburu yang lapar dan penuh gairah panas.
Sekar yang menyadari perubahan atmosfer di ruangan itu mulai merasa tidak nyaman. Tatapan Pak Gilang terasa sangat berbeda—begitu tajam, pekat, dan seolah ingin menguliti dirinya hidup-hidup.
"P-Pak Gilang? Ada yang salah dengan berkasnya?" tanya Sekar gugup. Tangannya tanpa sadar meremas jemarinya sendiri di depan perut.
Gilang tidak menjawab pertanyaan itu. Perlahan, ia berdiri dari kursi kebesaran-nya. Gerakannya tenang namun sarat akan ancaman. Ia melangkah keluar dari balik meja, berjalan pelan menghampiri Sekar yang mulai mundur secara refleks.
Brak.
Gilang mengunci pintu utama ruang kerjanya dari dalam, lalu memutar kunci ganda. Suara besi berdenting itu terdengar bagaikan vonis bagi Sekar.
"Pak... Pak Gilang, mau apa?" suara Sekar makin bergetar. Dadanya yang padat naik turun cepat seiring dengan napasnya yang memburu karena rasa takut dan bingung.
Gilang kembali melangkah mendekat. Matanya tidak tertuju pada wajah Sekar yang ketakutan, melainkan pada bentuk d**a yang naik turun itu, lalu turun ke pinggulnya yang menggoda. Hasrrat gelap yang selama 31 tahun tertidur kini mengamuk hebat di dalam kepala Gilang. Lelaki itu ingin mengoyak pakaian sopan yang menutupi tubuh wanita ini, meremas lekukan indah itu, dan menghantam Sekar dalam gairah panas yang belum pernah ia luapkan sebelumnya.
"Sekar..." Suara Gilang terdengar sangat serak dan berat, sarat a
kan gairah liar yang tak lagi bisa ia bendung. "Ternyata obatku ada padamu.”