bc

​Mantan Menyesal: Kesayangan Para Pewaris

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
HE
escape while being pregnant
single mother
heir/heiress
drama
sweet
serious
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

​Selama lima tahun, Kiara hidup dalam bayang-bayang sebagai istri yang dianggap tidak berharga oleh Bara, suaminya, dan dihina oleh ibu mertuanya. Puncaknya, di tengah pesta lelang amal yang megah, Bara membuang Kiara dengan surat cerai di depan umum demi wanita lain yang sedang mengandung anaknya.

chap-preview
Free preview
Bab 1
Grand Ballroom hotel mewah itu dipenuhi oleh cahaya lampu kristal yang gemerlap, memantul di gaun-gaun sutra mahal para sosialita dan setelan jas desainer para pebisnis kelas atas. Bagi banyak orang, tempat ini adalah puncak kemewahan. Namun, bagi Kiara, tempat ini terasa seperti jeruji besi yang mencekiknya perlahan. ​Ia berdiri di sudut ruangan yang minim cahaya, berusaha tidak menarik perhatian. Gaun yang ia kenakan—gaun simpel berwarna biru tua—terlihat sangat sederhana dibandingkan dengan gaun penuh permata yang dikenakan para wanita di sana. Kiara sudah dua tahun tidak membeli pakaian baru, dan ia sangat menyadari tatapan menghina yang dilemparkan orang-orang ketika mereka tak sengaja melihatnya. ​"Lihat itu, bukankah itu istri Bara?" bisik seorang wanita bergaun merah kepada temannya, tepat di belakang Kiara. Suaranya tidak terlalu pelan, sengaja agar Kiara mendengarnya. "Kasihan sekali. Dia benar-benar merusak pemandangan pesta semewah ini. Apa Bara tidak malu membawa istri yang terlihat seperti pelayan?" ​Kiara meremas tas kecilnya hingga buku jarinya memutih. Ia mencoba menulikan telinganya, meski hatinya perih. Malam ini, ia punya alasan kuat untuk berada di sini. Ia ingin memberikan sebuah kejutan kecil pada suaminya, Bara. Ia ingin memberi tahu pria itu bahwa ada kehidupan baru yang mulai tumbuh di rahimnya. Ia berharap, kabar tentang kehamilan ini bisa menjadi jembatan untuk memperbaiki hubungan mereka yang selama setahun ini terasa sedingin es. ​Tiba-tiba, lampu ruangan meredup secara serentak. Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Semua mata tertuju pada pintu utama aula yang perlahan terbuka lebar. ​Bara melangkah masuk. Ia tampak luar biasa memukau dengan setelan tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Namun, napas Kiara tertahan saat melihat siapa yang menggandeng lengan pria itu. ​Elena. ​Wanita itu melangkah dengan dagu terangkat penuh kemenangan. Gaun perak yang dikenakannya berkilau di bawah lampu, tampak sangat serasi dengan jas Bara. Mereka terlihat seperti pasangan yang lahir dari kasta yang sama, pasangan yang memang ditakdirkan untuk bersanding di bawah sorotan kamera. Sementara Kiara? Kiara hanyalah bayang-bayang yang tertinggal di sudut gelap, sosok yang tak terlihat oleh siapa pun. ​Langkah Bara dan Elena terhenti tepat di depan Kiara. Bara menatap Kiara dengan tatapan dingin, tatapan yang tidak menyisakan ruang untuk kasih sayang. ​"Kiara?" suara Bara terdengar tajam dan dingin di tengah keheningan aula. "Apa yang kau lakukan di sini? Sudah kubilang, jangan pernah muncul di acara bisnisku jika kau tidak bisa menjaga martabatku di depan tamu-tamuku." ​Elena tertawa kecil, suara yang terdengar seperti belati bagi Kiara. Elena sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Bara, memamerkan kedekatan mereka dengan terang-terangan. "Sayang, mungkin dia hanya penasaran bagaimana rasanya berada di lingkungan kelas atas, bukan? Lagipula, kasihan dia jika terus berdiam diri di rumah yang membosankan." ​Kiara merasakan perutnya mual, bukan karena kehamilannya, tapi karena rasa jijik yang luar biasa terhadap pria di depannya. Ia memberanikan diri untuk menatap mata Bara. "Bara, aku ingin bicara. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku katakan padamu malam ini..." ​"Tidak ada yang penting untuk dibicarakan," potong Bara kasar. Ia melepas lengan Elena, merogoh saku jasnya, dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Ia melemparkannya begitu saja ke d**a Kiara, membuat Kiara sedikit tersentak ke belakang. "Tanda tangani. Kita bercerai." ​Suasana aula yang tadinya hening seketika pecah menjadi riuh rendah. Bisikan-bisikan keterkejutan, ejekan, dan tawa merendahkan mulai terdengar dari segala arah. Amplop itu jatuh ke lantai, isinya berhamburan—surat cerai. ​"Elena sedang hamil," lanjut Bara, suaranya kini sengaja dikeraskan agar orang-orang di sekitar mereka bisa mendengar dengan jelas. "Anakku tidak boleh tumbuh dengan ibu yang tidak berguna sepertimu. Mulai malam ini, kau bukan lagi bagian dari hidupku. Aku sudah menyiapkan kompensasi yang cukup agar kau tidak menggangguku lagi." ​Dunia Kiara terasa runtuh. Kabar tentang kehamilannya sendiri seolah tersumbat di kerongkongan, tertelan oleh pengkhianatan yang jauh lebih kejam. Jadi, ini alasannya? Bara tidak hanya berselingkuh, tapi ia sudah merencanakan ini sejak lama. ​Kiara menatap Bara, lalu melirik perut rata Elena yang kini dipegang dengan angkuh oleh wanita itu. Bukan air mata yang keluar dari mata Kiara. Tidak. Sesuatu di dalam dirinya justru membeku. Amarah yang selama ini ia tekan, kini mendidih menjadi api yang akan menghancurkan segalanya. ​Ia tidak akan memohon. Ia tidak akan merendahkan diri dengan menangis di depan mereka yang sedang menertawakannya. ​Perlahan, Kiara memungut surat cerai yang berserakan di lantai. Ia mengambil pena yang terselip di saku jas Bara dengan gerakan yang begitu tenang—begitu tenang hingga Bara terlihat sedikit bingung. Tanpa ragu, Kiara membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut. ​"Sudah," ucap Kiara datar, suaranya stabil tanpa getaran sedikit pun. Ia melemparkan kembali surat itu ke d**a Bara. ​Bara terpaku. Ia mengharapkan tangisan, permohonan, atau kemarahan yang meledak-ledak. Tapi yang ia dapatkan hanyalah ketenangan yang menusuk. ​Kiara melangkah mendekat ke arah Elena, menatap tajam mata wanita itu, lalu beralih kembali menatap Bara dengan sorot mata yang membuat pria itu tiba-tiba merasa terintimidasi. ​"Ingat ini baik-baik, Bara," ucap Kiara dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Hari ini kau membuangku karena kau pikir kau adalah pemenangnya. Kau pikir kau sudah mendapatkan segalanya. Tapi suatu saat nanti, kau akan memohon di depanku. Kau akan datang merangkak, memohon agar aku sudi melihat wajahmu lagi. Dan saat hari itu tiba, aku berjanji padamu, Bara... aku bahkan tidak akan melirikmu lagi, apalagi memberimu kesempatan." ​Tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari pasangan itu, Kiara berbalik. Ia berjalan keluar dari aula dengan punggung tegak, melangkah dengan keanggunan yang tidak pernah terlihat darinya selama lima tahun terakhir. ​Di belakangnya, ia mendengar suara Bara yang memanggil namanya dengan nada bingung dan tidak percaya, namun Kiara tidak menoleh lagi. Ia tidak peduli. Malam ini, Kiara yang penurut, Kiara yang lemah, dan Kiara yang mencintai Bara sudah mati. ​Ia melangkah keluar menuju kegelapan kota yang dingin, membawa rahasia tentang anak di dalam kandungannya, dan sebuah rencana besar yang akan membuat Bara serta Elena menyesal seumur hidup mereka. ​Ini bukan akhir. Ini adalah awal dari kehancuran mereka. "...Meninggalkan aula, udara malam yang dingin menusuk kulit Kiara, namun sensasi itu terasa mati. Ia menatap pantulan dirinya di pintu kaca hotel; wajahnya pucat namun sorot matanya kini menyimpan tekad yang dingin. Ia meraba perutnya yang masih datar, berbisik lirih, 'Kita tidak butuh dia, Nak.' Langkah kakinya yang tadinya ragu, kini berderap mantap menapaki trotoar. Di balik gedung-gedung pencakar langit yang angkuh ini, ia bersumpah untuk menukar setiap tetes air mata dengan kejayaan. Bara mungkin mengira dia telah menang hari ini, namun ia baru saja memicu kejatuhannya sendiri. Kiara pun melenyap ke dalam gemerlap kota, siap untuk terlahir kembali."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
735.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
969.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
353.9K
bc

Not just, the Beta

read
345.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook