bc

Aku Bukan Simpananmu, Tuan Muda

book_age18+
56
FOLLOW
1K
READ
billionaire
contract marriage
HE
age gap
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
genius
like
intro-logo
Blurb

Kesalahan terbesar Resha Elhanna Deastra adalah jatuh cinta pada Reyvanza Putra Rajaswa, seorang pewaris tunggal keluarga kaya raya, hingga berakhir menjadi istri simpanannya. Namun, tak seindah kisah cinta Cinderella karena mereka dipisahkan oleh takdir. Resha terpaksa pergi dari hidup Reyvan, membawa benih kembar sang suami tercinta.

.

Setelah tujuh tahun berjuang di tebing jurang kemelaratan untuk melahirkan dan membesarkan anak kembarnya, Resha malah dipertemukan kembali dengan Reyvan yang ternyata adalah CEO baru di tempatnya bekerja. Apakah Resha mampu bertahan di bawah kendali atasan baru yang sangat membencinya? Bagaimana jika pada akhirnya Reyvan tahu sebuah rahasia besar di balik kepergian Resha tujuh tahun silam?

.

Ikuti sampai tamat dan jangan lupa follow akun sosmed Author, ya.

IG: @mjeona_mj.author

FB: May Jeona

TikTok: MJeona

chap-preview
Free preview
Chapter 1 ♛ Terpaksa Pergi
“Selamat tinggal, Tuan Muda. Mulai hari ini, aku bukan lagi istri simpananmu.” Kalimat lirih itu terlontar begitu pelan dari bibir mungil Resha yang bergetar. Ia tengah berdiri terpaku di sisi ranjang king size yang masih menyisakan jejak malam pertamanya dengan Tuan Muda Reyvan. Ya, malam pertama sekaligus malam terakhir untuk mereka. Di atas ranjang itu, tepat di balik selimut putih gadingnya, Reyvan masih terlelap dengan napas teratur. Tubuhnya pun masih polos tanpa dibalut sehelai benang pun sejak pergulatan panas mereka dua jam lalu. Pewaris tunggal keluarga Rajaswa itu tak pernah sadar sebentar lagi akan kehilangan sesuatu yang baru satu bulan ia miliki. “Maafkan aku, Tuan Muda.” Perempuan pemilik nama lengkap Resha Elhanna Deastra itu menatap suami siri-nya tersebut dengan d**a sesak. Tubuhnya di bawah sana masih terasa sakit dan perih. Rasa nyeri yang samar itu menjalar dari pinggang hingga pahanya setiap kali ia menggeser posisi berdiri. Rasanya sakit sekali. Malam yang seharusnya menjadi awal baru kehidupan pernikahannya dengan sang kakak kelas saat di SMA dulu itu, malah harus menjadi akhir dari segalanya. Resha terpaksa pergi. “Semoga kita nggak pernah bertemu lagi.” Dengan cepat ia seka bulir bening air matanya yang menitik tanpa permisi. Tangannya kembali mencengkeram erat tas jinjing kecil yang sudah ia siapkan. Hanya berisi beberapa potong pakaian. Tidak ada barang lain atau kenangan bersama sang tuan muda yang bisa ia bawa. Sebelum tangisnya benar-benar runtuh dan membangunkan pribadi tampan itu, Resha pun segera melengos untuk pergi. Namun, hatinya begitu berat. Rasa cinta itu mengalahkan logika hingga ia berbalik lagi. Tangannya sudah terulur, nyaris menyentuh wajah tampan paripurna lelaki yang beberapa saat lalu berbagi ranjang dengannya. Akan tetapi, bergegas Resha menariknya kembali dengan tatapan sendu. “Nggak. Ini salah,” gumamnya dengan hati hancur lebur. Jika ia menyentuh Reyvan sekarang, ia tahu tidak akan pernah sanggup pergi. Sepasang mata hazel-nya menelusuri wajah sang tuan muda. Tadi lelaki ini memanggil namanya dengan suara berat dan dengan tatapan yang membuatnya merasa menjadi satu-satunya perempuan yang paling dicintai di dunia. Ia ingat bagaimana Reyvan menyingkap kerudungnya dengan hati-hati. Meminta consent untuk menyentuhnya. Bagaimana lelaki itu sempat berhenti di tengah pergulatan sambil menatapnya dalam, lalu berbisik seduktif, “Kalau kamu sakit … kita bisa berhenti.” Saat itu, Resha hanya menggeleng pelan seraya menahan air mata. Kuku-kukunya sudah menancap di punggung kekar sang tuan muda, sebelum menyahut lirih, “Aku nggak apa-apa, Tuan Muda. Selesaikan saja.” Lalu, Reyvan kembali menyentuhnya. Meninggalkan jejak kepemilikan di leher, bahkan nyaris di seluruh lekuk tubuh sintalnya. Namun, betapa ironisnya, Resha hanyalah istri simpanan Reyvan selama satu bulan terakhir ini. Lelaki itu sudah memiliki calon istri yang kastanya setara dengan keluarga Rajaswa. Resha berakhir memejamkan mata. Ini keputusan berat. Akan tetapi, ia harus melakukannya sebelum hal buruk meledak dan menghancurkan mereka berdua. ”Andai Tuan Muda tahu, aku terpaksa pergi karena—.” Kalimatnya urung mengudara. Ia membuang napas berat sebelum melirik secarik kertas dari meja nakas di sisi ranjang. Surat itu ia tulis sejak beberapa saat lalu. Ketika Reyvan sudah terlelap setelah memeluknya begitu erat. Ia tahu, tempat itu akan jadi tempat pertama yang pasti dilihat Reyvan saat bangun nanti. Resha menggigit kuat bibir bawahnya. Menahan air matanya mati-matian sebelum jatuh menitik ke lantai. “Maafkan aku … dan terima kasih untuk semuanya. Semoga Tuan Muda bahagia dengan Nona Muda Shezan. Aku pergi.” Ia tahu, Reyvan akan membencinya setelah membaca surat itu. Namun, mungkin kebencian lebih mudah ditanggung daripada sebuah kebenaran yang menghancurkan dua keluarga. Resha menatap suaminya untuk terakhir kali, sebelum benar-benar membawa langkahnya pergi meninggalkan kamar apartemen tersebut. Akan tetapi, bunyi pintu kamar yang tertutup sukses menyentak Reyvan dari tidur lelapnya. Napasnya terhela berat bersamaan mengerjap beberapa kali. Tangannya refleks bergerak ke samping mencari istri simpanannya. Dahinya berkerut seketika. Tempat itu kosong. Tak ada lagi sosok cantik yang beberapa waktu lalu ia sentuh tanpa tahu caranya berhenti. Detik itu juga, ia bangkit dan duduk di badan ranjang. “Resha?” panggilnya serak khas bangun tidur. Reyvan menyapu pandangannya lagi dan hanya menemukan seprai putih gading kusut dengan bercak merah terukir di sana. Ia masih sempat tersenyum tipis mengingat malam pertamanya dengan Resha setelah satu bulan menjadi suami istri—meski hanya sah secara agama. “Resha?” panggilnya lagi sambil beringsut turun dari ranjang dan buru-buru memakai boxer hitamnya yang tercecer di lantai. Reyvan berpikir mungkin wanitanya itu ada di kamar mandi. Namun, langkahnya yang baru menjejak badan lantai marmer dingin itu terhenti seketika kala melihat secarik kertas di atas nakas. Reyvan menyambarnya cepat. Matanya langsung bergerak menelusuri setiap rentetan huruf dari tulisan yang sangat dikenalnya sejak di SMA. Maaf, Tuan Muda. Aku harus pergi. Aku nggak bisa berbohong lebih lama lagi kalau sebenarnya … aku sudah mencintai lelaki yang dijodohkan Ibu. Aku yakin pilihan Ibu pasti yang terbaik untukku. Jadi, tolong ceraikan aku secepatnya. Semoga kita nggak pernah bertemu lagi. Selamat tinggal. Tak ayal tubuh atletis pribadi tampan itu membeku. Tangannya yang masih meremas kertas surat dari Resha seketika gemetar. “Tidak. Resha tidak mungkin mengkhianati saya. Tidak mungkin!” Ia mencoba membaca ulang surat itu dengan mata memerah. Namun, isinya tetap sama. Ia memang sedang tidak bermimpi. Detik berikutnya, rahangnya pun mengeras. Tangannya yang memegang surat Resha berakhir mengepal kuat sampai kertas putih itu menjadi gumpalan dan langsung ia buang ke lantai dengan tatapan menajam. “Pengkhianat! Semudah itu kamu pergi setelah tidur dengan saya, Sha? Murahan!” Dengan hati mendidih, Reyvan meraih ponselnya. Ia mencoba menghubungi Resha. Akan tetapi, panggilan langsung terputus. Lelaki pemilik nama Reyvanza Putra Rajaswa itu terkesiap bukan main sesudah sadar nomornya telah diblokir. “Sial!” umpatnya dengan tatapan bergetar dan langsung memutuskan berlari keluar kamar. “Resha!” pekiknya setelah berhasil keluar dan tak menemukan siapa pun di koridor apartemen lantai dua puluh satu itu. Pundaknya berguncang seketika dengan tubuh langsung merosot jatuh ke badan koridor. “Kenapa kamu mengkhianati saya, Sha? Kenapa? Apa yang kita lewati tadi tidak berarti apa-apa, hah?” teriaknya lantang dengan air mata mulai melesat. Reyvan tak pernah tahu, Resha belum benar-benar pergi. Ia bersembunyi di belakang tembok koridor sambil membekap mulutnya sendiri. Tak ingin tangisannya didengar lelaki itu. Reyvan mendongak dengan sorot tatap penuh kebencian, sebelum kembali berteriak, “Istri pengkhianat! Pergi saja! Pergi yang jauh dan jangan pernah muncul lagi di hadapan saya! Selamanya!” Kedua bahu Resha kian berguncang mendengar amarah lelaki itu. Tubuhnya pun gemetar hebat dengan d**a terasa sakit, seperti ditusuk ribuan jarum racun tak kasatmata. “Aku akan pergi sekarang, Tuan Muda,” gumam Resha parau, lantas memutuskan turun dari lantai dua puluh satu itu melalui tangga darurat. Ia tak sanggup bertahan lebih lama di sana. Sepeninggalnya, pintu lift tiba-tiba terbuka. Seorang lelaki dibalut jas hitam rapi keluar dari sana dan menghampiri Reyvan yang masih terduduk di koridor dengan wajah tertunduk penuh air mata. “Tuan Muda ….” Mendengar suara bariton familier itu, Reyvan pun menyeka kasar wajah basahnya, lantas mendongak. “Ada perlu apa kamu ke sini, Okta?” Lelaki yang merupakan orang kepercayaan ayahnya itu segera melanjutkan sambil menunduk hormat, “Tuan Besar menyuruh Anda kembali ke mansion karena … Opa Anda sakit keras.” To be continued ….

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook