Awal dari segalanya
Senin, 16 Februari 2016
Aku tidak pernah menyangka hari ini akan terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Rasanya ada sesuatu yang aneh, sesuatu yang bergetar pelan di dalam d**a. Apa ini yang disebut jatuh cinta? Entahlah. Aku sendiri masih berusaha mencari tahu.
Sebenarnya, jatuh cinta itu seperti apa sih? Apakah tandanya hanya jantung yang berdebar tanpa alasan, atau pikiran yang tiba-tiba dipenuhi satu nama? Aku benar-benar tidak mengerti. Yang kutahu, perasaan ini membuatku resah, tapi juga… sedikit hangat.
Seperti biasa, aku memilih menunggu. Menunggu sampai keresahan ini mereda, sampai detak jantungku kembali normal. Mungkin ini hanya perasaan sesaat. Ya, mungkin hanya soal waktu sebelum semuanya menghilang.
Atau mungkin… tidak.
Salam manis dariku,
Valerie Oswald
***
“Hei… lo nulis diary lagi?”
Suara itu muncul dari balik pintu kamarku yang setengah terbuka. Seorang perempuan berambut pirang berdiri sambil menyilangkan tangan di d**a, seragamnya tampak… ya, seperti biasa, terlalu niat untuk ukuran mau ke sekolah.
“Apa lo nggak bosan, sih?” lanjutnya.
Aku melirik jam di pergelangan tangan. Sudah lima belas menit aku menunggunya. Lima belas menit penuh hanya untuk melihat dia memilih lip tint yang “katanya” paling cocok dengan suasana pagi.
“Gimana nggak bosan?” jawabku sambil menutup buku diary. “Gue nunggu lo dandan dari tadi. Kita kan cuma mau ke sekolah, bukan ke red carpet.”
Dia langsung mendengus, lalu melangkah ke arah cermin sambil membenarkan poni.
“Hei, hei, heii… denger ya. Gue ini Grizelle Agatha, cewek paling cantik dan jenius di SMA Senandika. Penampilan itu investasi masa depan.”
Sambil berkata begitu, dia menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan penuh percaya diri.
Aku cuma bisa melongo. Percaya dirinya memang level dewa. Tapi ya… jujur saja, dia memang cantik. Pintar juga. Dan menyebalkan.
“Ya sudah, Nona Investasi Masa Depan,” kataku sambil berdiri. “Ayo berangkat. Keburu lo nanti ditangkap OSIS lagi.”
“Ah, mulut lo pedas banget, deh,” protesnya sambil berlari kecil menyusulku, tasnya nyaris jatuh karena terlalu penuh aksesoris.
Kami masuk ke mobil, dan seperti biasa, dia masih sibuk mengecek pantulan wajahnya di kaca spion, sementara aku hanya menatap jalan, berpikir dalam hati: hari ini pasti bakal ada drama.
Dan ternyata… dugaanku tidak pernah salah.
Begitu kami sampai di gerbang sekolah, suasana langsung terasa familiar: siswa-siswi lalu lalang, suara bel masuk belum berbunyi, dan… tentu saja, sosok yang paling dihindari Grizelle.
Rendra Pratama.
Ketua OSIS.
Manusia dengan radar pelanggaran seragam paling sensitif se-SMA Senandika.
“Ya ampun, Grizelle…” katanya sambil menghela napas panjang. “Ini lo lagi cosplay apa gimana? Gue mau lo ganti seragam lo sekarang juga.”
Grizelle otomatis memasang ekspresi defensif. “Model gini tuh bagus, tahu. Lo aja yang nggak ngerti fashion.”
“Fashion apaan,” Rendra mengusap kening. “Seragam itu bukan buat dimodifikasi kayak outfit konser.”
Lalu pandangannya beralih ke aku.
“Grizelle… lo bisa nggak sehari aja kayak Valerie? Simple, rapi, nggak ribet.”
Aku refleks mengangkat alis. Kenapa aku ikut kebawa-bawa?
Grizelle malah nyengir.
“Kalo gue ngikutin Valerie, gue nggak bakal dapet jodoh, tahu.”
Aku menghembuskan napas kasar. Nah, dimulailah.
“Gue dapet jodoh atau nggak bukan urusan lo,” kataku datar.
“Pokoknya aturan tetap aturan,” tegas Rendra. “Lo ke ruang OSIS. Hukuman.”
Grizelle menatapku dengan wajah memelas.
“Val, lo tega banget sih liat sahabat lo secantik ini dihukum?”
Aku menepuk bahunya pelan.
“Mau gimana lagi? Gue udah bilang dari tadi pagi. Lo yang ngeyel.”
Aku mulai melangkah ke arah kelas.
“VALERIEEE—” teriaknya dramatis dari belakang.
Aku tertawa dan menoleh sambil mengepalkan tangan.
“Fighting! Selesai hukuman gue traktir bakso Bang Asep.”
Grizelle terdiam sedetik… lalu matanya berbinar.
“Serius?!”
“Serius.”
“Oke, gue rela dihukum.”
Aku menggeleng sambil tersenyum. Kadang aku heran, bagaimana mungkin seseorang bisa begitu ribut, begitu percaya diri, dan begitu menyebalkan—tapi tetap jadi sahabat terbaikku.
Aku masuk ke kelas, duduk di bangku dekat jendela, membuka diary lagi.
Catatan hari ini:
Grizelle dihukum OSIS.
Aku tetap selamat.
Dan seperti biasa… hidupku di SMA Senandika tidak pernah benar-benar tenang.
Tapi entah kenapa, justru di situlah letak serunya.