1
“Pak… kita berhenti di sini?”
Sopir itu melirik kaca spion. “Iya, Nona. Rumahnya sudah sampai.”
Rania menurunkan pandangan ke luar jendela. Gerbang besi hitam menjulang di hadapannya, tertutup rapat, tanpa satu pun orang menunggu.
“Orang tua saya tidak keluar?”
Pertanyaannya meluncur pelan, nyaris ragu.
Sopir terdiam sesaat sebelum menjawab, “Saya hanya diminta mengantar sampai depan.”
Ia sempat berpikir mungkin mereka menunggu di dalam.
Pintu utama terbuka.
Seorang perempuan berdiri di sana. Wajahnya persis seperti yang Rania lihat di foto-foto lama yang rapi, cantik, berjarak.
Dian.
Rania berhenti melangkah. Dadanya mengencang, bukan oleh rindu yang meluap, melainkan oleh jeda yang terlalu panjang.
“Oh,” ucap Dian singkat. Tatapannya melintas dari wajah Rania ke koper di kakinya. “Kamu sudah sampai.”
Tidak ada nama. Tidak ada pelukan.
“Masuklah.”
Itu saja.
Rania menurut. Kakinya melangkah ke foyer luas yang berkilau. Lampu kristal menggantung tinggi, seolah ingin memastikan siapa pun yang masuk tahu ini bukan tempat sembarangan. Rania berdiri di tengahnya, memegang koper seperti jangkar terakhir.
“Kamu pasti capek,” kata Dian sambil berjalan lebih dulu. “Nanti istirahat.”
“Ibu…” Rania mencoba. Suaranya terdengar asing, bahkan di telinganya sendiri.
Dian berhenti sebentar. “Iya?”
Kalimat yang Rania simpan selama bertahun-tahun runtuh sebelum sempat keluar. Ia hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”
Dian mengangguk, lalu pergi.
Rania masih berdiri ketika suara langkah turun dari lantai atas. Seorang gadis muncul cantik, anggun, berpakaian mahal, dan sepenuhnya menyatu dengan rumah itu.
Wajah Dian berubah.
Senyum hangat terbit, lembut, penuh kasih. “Keysha,” panggilnya. “Kemari, sayang.”
“Iya, Ma.” Gadis itu turun dengan percaya diri.
Rania berdiri lebih tegak. Menunggu. Berharap.
“Keysha,” kata Dian sambil melirik sekilas ke arah Rania, “tolong tunjukkan kamar untuk tamu kita.”
Kata itu jatuh pelan tapi pasti.
Tamu.
Keysha menoleh. Tatapannya menyapu Rania dari kepala sampai koper lusuh itu, lalu kembali ke wajahnya dengan senyum sempurna.
“Baik, Ma,” katanya manis. “Ayo.”
Rania mengikuti tanpa suara. Saat menoleh ke belakang, Dian sudah sibuk dengan ponselnya, seolah kedatangan Rania hanyalah agenda kecil yang sudah selesai.
Di tangga, Rania menyentuh pagar kayu yang dingin.
Pintu ini terbuka untuknya tapi tidak sebagai rumah.