Tuduhan Warga
Kicauan burung terdengar bersahutan, dan embun pagi yang membasahi bumi seolah tak mampu menyentuh sanubari Dina yang dipenuhi amarah.
"Hah! Apa-apaan ini?!"
Mata Dina terlihat merah menyala, embusan napasnya kasar. Diangkatnya tubuh yang baru saja menyentuh bale depan rumah. Genangan air hujan di dalam ember cat ditendangnya dengan kasar.
“Neng, istigfar. Ai, Neng teh kenapa pagi-pagi sudah marah-marah? Ayo atuh ikut sama Bibi ke dapur. Bibi sudah siapin sarapan, yuk.”
Bi Tuwinem menarik lembut lengan Dina. Mata yang sudah tidak lagi cerah itu menatap hangat Dina yang sedang dikuasai amarah.
“Aku mau pulang! Bibi tahu nggak, sih? Aku cuma mau pulang! Mau pulang ... mau pulang sekarang! Aaaa ... aku nggak betah tinggal di tempat terpencil kayak gini!” teriak Dina.
“Neng, istigfar. Bibi tahu Neng pasti kaget dengan keadaan desa ini, tapi lama-lama Neng pasti betah, kok. Yang ikhlas ya, Neng. Ayo kita sarapan dulu,” rayu Bi Tuwinem lembut.
Dina menarik kasar genggaman tangan Bi Tuwinem. “Jangan ngatur-ngatur aku, Bi! Aku nggak mau makan! Aku nggak level makan di tempat kumuh seperti ini!”
Kruyuk ....
Namun, apa yag baru saja Sina ucapkan berbandingbterbalik dengan suara perutnya yang terdengar meronta.
“Nah, Neng Dina lapar, 'kan? Ayo ikut sama Bibi untuk sarapan. Bibi sudah buatkan soto ayam spesial untuk Neng Dina.” Bi Tuwinem tersenyum ramah sambil menggapai lengan Dina.
“Nggak mau! Kalau aku bilang nggak, ya nggak! Kenapa sih lo maksa banget? Udah mirip Ayah aja, lagak lo ngatur-ngatur hidup gue mulu!” teriak Dina.
“Diam! Kalau kamu tidak mau makan dan tidak mau tinggal di sini, silakan angkat kaki dari rumah ini dan cari jalan pulang sendiri!”
Dina tersentak. Tatapan sinisnya menangkap sosok laki-laki seumuran dengannya yang berdiri di bibir pintu. Dilihatnya dari ujung kaki hingga kepala, memastikan siapa lawan bicara yang berani menyentak dirinya layaknya seorang anak konglomerat. Bibir Dina menyungging. Langkah kakinya kini menggiring tubuhnya ke hadapan laki-laki muda itu, yang tak lain adalah putra sulung Bi Tuwinem.
“Lo siapa, hm? Gue beri tahu ya sama lo, belum ada sejarahnya seorang Dina Alexandria dibentak sama cowok, apalagi cowok dekil kampungan kayak lo!” bentak Dina.
“Hm … kalau aku jadi kamu, aku akan lebih banyak diam. Bahkan kamu aja nggak paham, di sini sulit untuk dapat sinyal, apalagi sekadar memesan taksi online seperti yang biasa orang-orang kaya lakukan. Kecuali kamu bisa menggunakan instingmu yang tumpul itu untuk mencari jalan pulang dengan berjalan kaki ratusan kilometer!” bentak Nando.
“Lo itu ... sungguh kurang ajar! Gue bersumpah, ketika kembali ke rumah, lihat saja apa yang bakalan lo terima atas apa yang sudah lo bilang barusan!” pekik Dina.
“Hm, sebaiknya segera kamu lakukan sekarang. Jika memang kamu mampu, harusnya kamu tidak banyak bercakap lagi. Ayo, Mah, masuk ke dalam.”
Tuwinem meremas kedua tangannya. Rasa takut akan pertengkaran antara putra sulungnya dan putri bosnya berimbas pada kepercayaan keluarga Pak Darmawan kepadanya. Sedikit tergesa, Tuwinem menghampiri Dina yang masih memasang wajah kesal. Bibirnya menggumam pelan, kebingungan membujuk putri bosnya yang sedang merajuk.
“Neng, maafin Nando, ya. Anak Bibi belum terlalu kenal sama Neng,” ucap Bi Tuwinem lirih.
“Oh, itu anakmu, Bi? Tolong ajari dia sopan santun, ya! Kalau memang masih betah tinggal di rumah ini, harusnya dia bisa jaga sikap dan cara bicaranya sama aku!” bentak Dina.
“Iya, Neng. Maafin Bibi dan Nando, ya,” jawab Bi Tuwinem pelan sambil menunduk.
“Neng mau ke mana?” tanya Bi Tuwinem saat melihat putri dari majikannya itu berjalan menjauh.
“Sarapan lah. Tadi nawarin makan, 'kan? Aku lapar!” Dina melangkah tergesa ke dalam rumah menuju dapur.
“Oalah, Neng. Bisa lapar juga, toh? Dari tadi diajakin nggak mau terus,” ucap Bi Tuwinem sambil mengejar Dina.
“Hm, makan juga dia. Sok jual mahal, dasar orang kaya kampungan!” cibir Nando sambil membaca komik di sudut ruangan.
***
“Apa yang harus aku lakuin di sini? Sinyal susah banget didapat, resto nggak ada, apalagi kafe. Teman nongkrong nggak ada, gebetan nggak ada. Oh Tuhan, ujian macam apa ini? Argh, Ayah! I hate you!” jerit Dina.
Hening suasana desa yang rumahnya saling berjauhan menjadi tempat ternyaman bagi Dina untuk berteriak tanpa takut ditegur tetangga. Hampir mirip hutan. Di sekeliling rumah Bi Tuwinem, orang kepercayaan keluarga Dina untuk merawat rumah, sawah, dan kebun milik keluarga besarnya. Hanya ada pohon-pohon besar yang rindang. Sebuah daerah yang jarang terjamah tangan manusia, asri dan menenangkan, namun terasa seperti penjara bagi Dina, sang anak metropolitan yang manja.
“Aku rasa orang tuamu gagal mendidikmu jadi manusia. Hahaha, sungguh miris sekali,” celoteh Nando sambil menuntun sepeda ontel.
“Eh, lo ngomong apa barusan? Dasar manusia kurang ajar! Gue laporin sama emak lo, ya!” teriak Dina kesal.
Sambil menoleh tipis ke arah Dina, Nando tersenyum sinis.
“Lakukan apa yang membuatmu senang. Tapi ingat, jangan sampai penyesalan membuatmu terperangkap di desa ini hingga akhir hayat!”
Nando berlalu dengan kayuhan yang cukup kencang, meninggalkan Dina.
Dina menatap Nando yang semakin menjauh dengan tatapan kebencian. Perasaan kesal yang bercampur kebencian membuat Dina tak mampu menahan titik-titik air mata yang berurai di pipi chubby-nya. Langkah kaki jenjangnya membawa tubuh mungil itu menjauh dari rumah. Tanpa pamit kepada Bi Tuwinem, Dina melebur ke dalam rimbanya hutan.
Azan Maghrib yang terdengar sayup-sayup menyapa telinga Bi Tuwinem yang sedang sibuk menata kue tradisional yang akan dikirim ke Masjid Bada Isa untuk acara tasyakuran hasil bumi yang melimpah. Tersentak, Bi Tuwinem teringat bahwa putri bosnya tak terlihat sejak siang. Sedikit tergopoh, wanita paruh baya itu menyusuri setiap sudut rumah sambil memanggil nama Dina, namun tak satu pun sahutan terdengar.
“Neng Dina … Neng, di mana kamu, Nak? Ya Allah!" pekik Bi Tuwinem panik.
“Mah, kenapa sih berisik banget! Nggak usah panik, Mah. Paling juga dia diterkam hewan buas di hutan sana,” ketus Nando sambil mengelap sepeda ontel kesayangannya.
“Astagfirullah, kamu ini kalau ngomong hati-hati, Nando! Mamah nggak pernah ngajarin kamu bicara nggak sopan seperti itu!”
“Kenapa sih harus kita yang jagain perempuan sombong itu, Mah? Aku bener-bener nggak suka dia berada di rumah kita!” ketus Nando sambil mendelik.
“Nando, kebun, sawah yang kita garap, bahkan rumah yang sekarang kita tempati, itu milik keluarganya Dina. Kita ini nggak punya apa-apa. Kalau bukan karena kebaikan ayahnya Dina. Kita nggak akan hidup seperti ini, apalagi setelah ayahmu meninggal delapan tahun yang lalu,” lirih Tuwinem.
Tiba-tiba terdengar gaduh. Beberapa orang membawa obor ke arah rumah Tuwinem. Tuwinem dan Nando terkejut dan menatap tajam gerombolan yang mendekat. Lima orang pria dewasa dan delapan orang ibu-ibu berhenti di depan rumah. Mereka mendorong tubuh mungil Dina ke hadapan Tuwinem.
“Jelaskan kepada kami, bagaimana bisa kamu memelihara maling di desa kami!” ucap salah seorang pria dengan lantang.