Prolog
Oliver Ulster adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Sejak kecil, ia mengenal sosok dermawan bernama William Chrono, seorang Ksatria Kekaisaran yang menjadi donatur tetap panti itu. William bukan hanya memberi bantuan, tetapi juga sering meluangkan waktu untuk membimbing Oliver, menanamkan nilai disiplin dan keberanian.
Di usia 8 tahun, Oliver mulai mengikuti pelatihan calon prajurit. Selama 7 tahun ia tinggal di asrama, berlatih keras bersama banyak anak laki-laki lain. Meski punya banyak kenalan, Oliver tidak pernah benar-benar dekat dengan siapa pun. Dunia militernya keras, penuh persaingan, dan jarang memberi ruang untuk kehangatan.
Kini, di usia 15 tahun, Oliver resmi dilantik sebagai Prajurit Kekaisaran Aurelia.
“Oliver, kamu dipanggil oleh Ksatria Kekaisaran, William Chrono,” kata salah seorang temannya.
“Di mana beliau?” tanya Oliver.
“Di ruang kerjanya.”
Oliver segera menuju ruangan itu. Ia mengetuk pintu kayu dengan gugup.
Tok… tok… tok…
“Masuk,” jawab suara tegas dari dalam.
Oliver melangkah masuk. Sudah lama ia tidak bertemu William secara langsung. Saat melihatnya, Oliver merasa kagum William tampak gagah, berwibawa, dan lebih tampan dari yang ia ingat.
Kemarin malam Oliver mimpi basah bersama Wiliam Chrono
"Kenapa melamun Oliver?" Tanya William
"Ah tidak Pak" Jawab Oliver
"Selamat telah menjadi Prajurit Kekaisaran Aurelia" Ucap William kemudian
"Te-terima kasih Pak" Jawab Oliver
"Untuk merayakan kesuksesan anak didikku dari panti asuhan, ayo kita makan direstoran, saya yang bayar"
Siang harinya di sebuah restoran
"Kamu suka?"
"Sangat suka, terimakasih Pak Wiliam, oh ya saya mau bertanya sesuatu?" Jawab Oliver
"Silahkan"
"Kemarin saya mimpi aneh dengan anda dan saat bangun saya mengompol, lalu tadi setelah lama tidak bertemu saya baru sadar ternyata anda adalah pria yang tampan. Apakah itu wajar Pak?"
Wiliam tersenyum dan berkata
"Akan saya jawab nanti, sekarang bagaimana kalau kita keliling kota?"
Oliver sempat terdiam, lalu matanya berbinar. Ia jarang sekali keluar asrama, apalagi bersama sosok yang begitu ia kagumi.
“Benar, Pak? Wah… tentu saja saya mau!” jawabnya penuh semangat.
Mereka berdua pun berjalan keluar restoran. Kota Aurelia sedang ramai: pedagang berteriak menawarkan barang dagangan, anak-anak berlarian di jalanan, dan prajurit lain berpatroli dengan gagah. Oliver merasa kagum sekaligus asing selama ini ia hanya mengenal tembok asrama dan lapangan latihan.
William menunjuk sebuah bangunan besar dengan menara menjulang. berkumpul untuk rapat penting. Suatu hari, jika kamu terus berlatih dan menjaga kehormatanmu, mungkin kamu akan melangkah masuk ke sana sebagai salah satu dari mereka.”
Oliver menelan ludah, hatinya berdebar.
“Apakah… saya benar-benar bisa, Pak?”
William menepuk bahunya.
“Setiap prajurit punya jalan masing-masing. Jangan takut bermimpi besar.”
Mereka kemudian melewati pasar, taman kota, hingga jembatan batu tua yang menghubungkan dua distrik. Oliver merasa seperti sedang melihat dunia baru.Ia mulai menyadari bahwa menjadi prajurit bukan hanya soal berlatih dan bertarung, tetapi juga tentang memahami rakyat yang mereka lindungi.
Di tengah perjalanan, Wiliam berkata
"Kita akan tidur di penginapan malam ini, aku akan menjawab pertanyaan mu, dan memberi mu sedikit pelajaran nanti malam"